• Jumat, 20 Mei 2022

Darmanto, Cintanya pada Konservasi & Dedikasi untuk Kegiatan Kemanusiaan

- Sabtu, 16 April 2022 | 13:18 WIB
 (dok. Pribadi/Darwanto)
(dok. Pribadi/Darwanto)

TemanBaik, kesempatan kali ini kita akan ngobrol dengan Darmanto atau yang kerap disapa Kang Darmanto. Ia adalah kepala sekolah dari Sekolah Konservasi Gunung Masigit Kareumbi tahun 2019 yang merupakan salah satu konseptor dan juga pendiri sekolah konservasi tersebut.

Kepada beritabaik.id, pria kelahiran Bandung, 48 tahun silam ini bercerita banyak tentang kesibukannya saat ini serta beberapa kegiatan kemanusiaan yang ia ikuti sebelum dirinya memutuskan untuk mendirikan sekolah konservasi karena kecintaannya pada alam.

Darmanto bercerita, bahwa dirinya hanya lulusan Sekolah Menengah Atas, ia mulai aktif bergabung dengan Wanadri pada tahun 1996. Sejak saat itu, Darmanto aktif berkegiatan di Wanadri hingga pada tahun 2009, ia terpilih menjadi Ketua Umum pada periode tersebut.

Aktivitas yang bersinggungan dengan lingkungan sosial dan organisasi ini tentu saja tidak terbentuk secara tiba-tiba. Ia juga melalui tahap pendidikan mulai dari mengikuti kegiatan Pramuka sejak Sekolah Dasar hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.

Bicara tentang Sekolah Konservasi, Darmanto juga bercerita tentang latar belakang ia menginisiasi Sekolah Konservasi Gunung Masigit Kareumbi pada tahun 2019 lalu. Berkat latar belakang kecintaannya pada flora dan fauna maka dirinya memutuskan untuk mendirikan sekolah yang dapat mengenalkan siswa-siswinya tentang konservasi yang sesungguhnya.

"Jika kita mengatakan tentang konservasi itu maknanya luas, konservasi bukan hanya tentang kita yang pergi ke hutan menanam pohon lalu pulang, konservasi juga bukan sekedar perbincangan yang kita lakukan antar sesama kita, melainkan tentang tindakan nyata kita untuk menjaga hutan," ujar Darmanto.

(dok. Pribadi/Darwanto)

Darmanto pun menjelaskan bahwa sekolah konservasi yang ia dirikan memiliki empat pilar yang dijadikan acuan kurikulum. Pilar tersebut meliputi 'Wali Pohon', 'Pemberdayaan Masyarakat', 'Penelitian/Pengembangan' serta 'Ekowisata'.

Untuk Wali Pohon sendiri Darmanto menjelaskan, bahwa setiap siswa yang mengikuti sekolah konservasi wajib menanam pohon. Untuk wali pohon setiap siswa dikenakan biaya sebesar Rp50 ribu untuk biaya pemeliharaan dan ganti rugi pohon.

"Siswa tidak perlu takut ketika pohon yang ditanamnya tersebut mati atau tidak tumbuh karena akan dilakukan penggantian pohon baru, siswa juga tidak perlu cemas jika dirinya berada jauh dengan pohon yang ditanam karena setiap siswa dapat langsung mengamati pohon yang ditanam pada sebuah website khusus dimana besaran pohon akan selalu di-update setiap tahunnya," tambah Darmanto.

Sedangkan untuk penelitian pengembangan ia pun saat ini bekerja sama dengan Unpad, ITB, dan beberapa kampus lainnya yang ada di Bandung. Ia dan teman-temannya pun kini telah memagari kurang lebih 48 hektar hutan untuk lahan konservasi Rusa Timorensis yang tergolong Rusa langka saat ini. Serta kegiatan Ekowisata yang melibatkan masyarakat setempat.

Menjalankan Sekolah Konservasi ini tak selalu mulus-muslus saha. Darmanto menceritakan suka duka membangun Sekolah Konservasi yang dibangunnya dengan menggunakan uang pribadi dan beberapa sponsor tanpa campur tangan pemerintah.

Baca Juga: Kisah Mufid Merawat Asa, tak Ingin Daluang Sekadar Jadi Cerita

Ia menjelaskan, bahwa hal seputar konservasi berada sepenuhnya pada tangan pemerintah. Namun, dirinya melihat pergerakan yang lambat dari pemerintah akhirnya ia pun berinisiatif untuk mencari sponsor demi menyukseskan sekolah konservasinya. Pada tahun 2019 Sekolah Kader ini diikuti oleh 7 Provinsi. Sampai tahun 2022 ini jumlah provinsi yang mengikuti sekolah kader ini bertambah menjadi 11 Provinsi dan berhasil memberikan pendidikan kepada 150 orang siswa.

"Pada saat itu saya berusaha untuk mencari dana dengan meminta sponsor kepada salah satu brand sepatu dan perlengkapan mendaki gunung dan Alhamdulilah saya mendapatkan Rp25 juta untuk mendanai sekolah konservasi saya pada tahun pertama," ucap Darmanto.

Halaman:

Editor: Irfan Nasution

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X