• Selasa, 27 September 2022

Gotong Royong untuk Flobamora, Orang Muda NTT Bersatu Hadapi Krisis Iklim

- Sabtu, 30 April 2022 | 11:43 WIB
 (dok. Koalisi KOPI)
(dok. Koalisi KOPI)

Koalisi KOPI (Kolaborasi Orang-muda atas Perubahan Iklim) melakukan konsolidasi orang-orang muda (anak muda) Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk beraksi iklim lewat lokakarya 'Gotong Royong untuk Flobamora' yang dilaksanakan di Wisma St. Fransiskus, Desa Detusoko Barat, Kabupaten Ende. (28/04/22)

Lokakarya ini mengajak 64 komunitas dari 12 daerah yang bergerak lintas isu atau sektor. Dari mulai lingkungan, seni budaya, pendidikan, anak, hingga gender. Tujuannya adalah membangun jaringan antar komunitas agar semakin banyak orang lagi yang peduli dan bergerak melakukan aksi iklim lebih masif di NTT.

Christian Natalie perwakilan Koalisi KOPI menuturkan, “Sebelum adanya proses konsolidasi ini, Koalisi KOPI telah melakukan survey dan pemetaan terhadap 134 perwakilan komunitas anak muda NTT yaitu di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata, Alor, Kota Kupang, Kab. Kupang, Timor Tengah Selatan, dan. Sumba Timur.”

"Pemetaan tersesbut terlait aktivitas, cakupan jejaring, pengelolaan komunitas serta apa saja kebutuhan mereka. Sehingga lokakarya ini adalah tindak lanjutnya dengan mempertemukan dan mengkonsolidasikan 64 komunitas diantaranya. Mari dukung aksi-aksinya!," tambahnya. 

Agenda lokakarya berlangsung selama 25-28 April 2022. Diawali dengan penguatan kapasitas kelompok, berbagai kegiatan fasilitasi, pembuatan visi 5 tahun dan rencana aksi bersama ke depan, penyusunan protokol koordinasi dan komunikasi, serta penyusunan linimasa aksi dan pemetaan kebutuhan dukungan.

Konsolidasi ditutup melalui sebuah maifesto yang ditandatangani bersama. Adapun visi bersama jaringan komunitas orang muda NTT adalah terwujudnya gotong royong komunitas di NTT untuk mengatasi krisis iklim demi bumi pulih dan kemanusiaan. Hal tersebut ditempuh melalui kolaborasi antar komunitas, baik itu pendanaan maupun aksi yang mencakup penguatan kapasitas, acara atau festival publik, kampanye digital, dan penguatan basis produksi komunitas

(dok. Kolisi KOPI)

Arti Indallah, perwakilan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (HIVOS) menerangkan, "Komunitas-komunitas yang hadir diproses konsolidasi ini sudah memiliki inisiatifnya masing-masing. Dengan adanya manifesto bersama tersebut dapat menjadi penjait di antara inisiatif yang telah terbentuk sehingga teman-teman ini kerjanya lebih terarah dan bisa lebih menyatukan kekuatan untuk mencapai visitersebut. Selain itu, manifesto ini dapat menjadi sebuah ajakan bersama bagi komunitas lain di NTT untuk beraksi bersama dalam mengurangi dampak krisis iklim di NTT."

Analisa laporan dari The Global Carbon Project menyebutkan bahwa Indonesia berada dalam daftar 10 besar negara penghasil emisi karbon di dunia. Krisis iklim telah memberi dampak yang besar pada manusia dan lingkungan di berbagai sektor mulai dari pangan, tanah, air, energi, hingga pendidikan, ekonomi, budaya, dan gender.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2019 menyebutkan bahwa 7 dari 10 bencana terjadi akibat dari krisis iklim atau disebut juga dengan bencana hidrometeorologi. Krisis iklim yang dihadapi juga menyebabkan terjadinya cuaca ekstrem badai siklon tropis Seroja di sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2021 lalu, yang dimana kejadian tersebut memicu terjadinya bencana banjir bandang, gelombang pasang, dan longsor. 

Fernandus Watu Kepala Desa Detusoko Barat, juga turut dilibatkan dan menyambut adanya konsolidasi komunitas di wilayahnya, ia menyebutkan bahwa, "Adanya embrio yang sudah terbentuk nantinya dapat disebarkan tidak hanya terbatas pada komunitas ataupun kelompok lingkungan tertentu, tetapi dapat disebarluaskan terhadap kelompok lainnya di NTT, hal inilah yang menjadi keunikan dari konsolidasi ini. Gotong royong antar komunitas tersebut dapat melahirkan sebuah aksi bersama, sesuai dengan filosofi yang ada yakni semangat matahari terbit berawal dari timur, harapannya bagaimana suara dari timur ini dapat menghasilkan mutiara-mutiara hijau yang berasal dari Detusoko, kemudian untuk NTT dan untuk Indonesia." tutupnya.

Editor: Irfan Nasution

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X