• Kamis, 11 Agustus 2022

Juli Wirahmini, Pendiri Yayasan Manik Bumi yang Cinta Lingkungan

- Kamis, 14 Februari 2019 | 17:00 WIB





Tahukah TemanBaik, salah satu persoalan besar lingkungan di Indonesia saat ini adalah sampah di lautan. Data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHN) menyebutkan, ada kurang lebih 9,8 miliar lembar kantong plastik digunakan masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, hampir 95 persen menjadi sampah.

Setiap tahun, sekitar 8 juta ton plastik berakhir di lautan. Angka tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 60 ton per menit pada 2050 jika penggunaan plastik terus dilakukan dan pengelolaan limbah yang memadai tidak dipikirkan. 

Persoalan sampah ini kemudian melatarbelakangi Luh Gede Juli Wirahmini bersama anak-anak muda Bali Utara untuk mendirikan Yayasan Manik Bumi tahun 2013. Berawal hanya dari 6 relawan kini Manik Bumi memiliki ratusan relawan.

Juli Wirahmini inisiator Yayasan Manik Bumi mengatakan banyaknya sampah di lautan dikarenakan masyarakat membuang sampahnya ke sungai. Ia memberikan contoh pengalamannya bersama Yayasan Manik Bumi ketika melangsungkan program bersih kampung bantaran tukad (sungai) Buleleng.

Baca Ini Juga Yuk: Kisah Satrijo Wiweko, Pelestari Lingkungan Asal Mojokerto

“Sampah-sampah yang ada di laut itu kan sebagian besar dari darat. Sampah-sampah dibuang sembarangan ke aliran air menuju laut. Kan tidak bisa begitu saja dibersihkan jika tidak mengubah mindset masyarakat agar tidak membuang sampah di bantaran sungai,” ujar Juli saat ditemui BeritaBaik.

Program utama yang mereka kerjakan di antaranya terkait dengan pengelolaan sampah di Buleleng dan kampanye bijak menyampah. Salah satu program andalan Yayasan Manik Bumi adalah program Sekolah Cinta Bumi.

“Kami bekerja sama dengan sekolah, misalnya kemarin di SDN 4 Banyuasri, kami dengan warga sekolah mendesain sekolah sesuai kebutuhannya terkait pengelolaan sampah. Proses ini kami kerjakan cukup lama sampai sekolah tersebut mampu mengelola sampahnya dengan mandiri, minimal satu tahun. Jadi, tidak hanya memberikan sosialisasi lalu pergi,” tutur Juli.

Dengan mengelola sampahnya secara mandiri menurut Juli berarti warga sekolah bijak menyampah tahu di mana mestinya meletakkan sampah, membiasakan membersihkan sekolah sebelum dan seusai jam sekolah.

Halaman:

Editor: Mentari Nurmalia

Tags

Terkini

X