Fei Febri dan Perjuangannya Bikin Bank Sampah Tak Biasa

Bandung - TemanBaik, sampah bisa menjadi berkah jika diolah dengan baik. Hal ini yang disadari Fei Febri (36). Ia menggabungkan konsep bisnis sosial dengan pola manajerial ciamik biar sampah punya nilai tinggi.

Karier profesionalnya dimulai pada 2009. Saat itu, ia bekerja sebagai legal di perusahaan fesyen ternama. Setelah melewati berbagai tantangan, ia melebarkan sayap dan menjajal karier internasionalnya hingga ke Filipina. Ia menduduki posisi general manager di salah satu ritel terbesar di sana.

Saat bekerja dan tinggal Filipina, ia takjub dengan pengolahan sampah yang menurutnya saat itu jauh lebih baik ketimbang di Indonesia. Padahal, ia melihat ada kemiripan antara Indonesia dan Filipina, baik dari segi manusia maupun budayanya.

"Waktu itu, di sana manajerial pengelolaan sampahnya keren banget. Masyarakatnya udah mulai memilah sampah, terus ada hari mengumpulkan sampah. Saya banyak terinspirasi selama bolak-balik ke Filipina," kenangnya.

Usai bertugas di Filipina, ia sempat menjajal posisi sebagai general manager teknik di perusahaan yang berdomisili di salah satu negara bagian Timor Leste. Hingga akhirnya, pada 2018, Fei menyadari dirinya terlalu sering berkontribusi untuk negara tetangga, namun seolah lupa berkontribusi pada negaranya sendiri.

Pada tahun yang sama, ia memutuskan kembali ke Indonesia dan mengembangkan kegemarannya. Harapannya, kegemaran itu berdampak positif bagi banyak orang. Ketertarikannya di bidang komunikasi mulai dari menjadi penyuluh dan mengajar ia gabungkan dengan kegemarannya berbisnis.

Harapannya bak gayung bersambut saat melihat bank sampah sebagai salah satu gerakan sosial yang cukup banyak di Indonesia, namun belum bisa menjadi produk bisnis berkesinambungan. Dari sana, Fei melirik ada peluang mengubah wajah bank sampah.

Akhir medio 2018, ia memboyong seluruh ide dan kemampuannya ke Bank Sampah Bersinar. Tujuannya agar bank sampah ini bisa dikelola menjadi wadah bisnis profesional, berkelanjutan, dan menjadi lahan pemasukan bagi karyawannya.

"Di Indonesia ada 11.000 bank sampah, tapi belum banyak yang bisa berdikari. Nah, saya terinspirasi, gimana ya caranya bank sampah ini punya nilai ekonomi dan menyerap tenaga kerja," sambungnya.

Hasil nyata dari pola bisnis Fei menangani sampah antara lain terserapnya 23 karyawan yang berasal dari warga di sekitar Bank Sampah Bersinar. Jumlah tersebut merupakan hasil pengembangan, yang mana awalnya bank sampah ini hanya punya delapan karyawan. Saat ini, seluruh karyawan Bank Sampah Bersinar mendapat penghasilan dan merasa bahagia bekerja di sini. Selain itu, dampak positif nyata adalah meningkatnya kebersihan lingkungan, kendati masih dalam proses dan terus bertumbuh.

"Kita melakukan hal kecil tapi konsisten, sehingga dampaknya lama-lama bisa menjadi besar," katanya.

Baca Ini Juga Yuk: Menyulap Plastik Bekas Jadi Tas Kece ala Biya Project

Ubah Wajah Bank Sampah
Lebih lanjut, Fei menyebut saat ini umumnya metode bank sampah di Indonesia tak ubahnya seperti kegiatan sosial: mengumpulkan sampah, mengolahnya, lalu selesai. Boleh jadi amat jarang bank sampah yang bisa menjual sampah pada industri daur ulang dengan harga tinggi. Sebab, sampah yang ditabung masyarakat tidak dipilah terlebih dulu. Padahal, di sisi lain, sampah yang ditabung sejatinya bisa punya nilai lebih tinggi.

Pekerjaan rumah yang langsung digebernya begitu menjalankan Bank Sampah Bersinar adalah mengedukasi masyarakat. Ia menjelaskan sampah yang sudah terpilah bisa punya nilai lebih tinggi. Tidak berhenti di situ, untuk meningkatkan minat menabung sampah, ia membuat berbagai program 'pancingan' agar masyarakat tak lagi malas menabung sampah.

Program-program unik itu antara lain pembayaran menggunakan sampah, berbelanja dengan menukarkan sampah, bahkan naik haji dari hasil menabung sampah. Coba bayangkan, sampah di rumahmu bisa dipakai mencicil sepeda motor hingga ongkos naik haji loh, TemanBaik!

"Dengan pendekatan seperti ini, masyarakat yang menganggap menabung di bank sampah itu sesuatu yang enggak berharga, jadi mikir ulang: oh, ternyata bisa segini besarnya ya hasil tabungan di bank sampah itu," terangnya.

Dari sisi manajemen, Fei mengubah konsep pengelolaan Bank Sampah Bersinar menjadi sebuah perusahaan. Ia merapikan susunan administrasi, menyusun laporan keuangan, serta menjalankan standar operasional bagi seluruh karyawannya.

Ia mengaku ini bukanlah hal mudah. Namun, memperlakukan bank sampah sebagai perusahaan adalah salah satu cara agar kegiatan berbasis sosial ini juga berdampak baik bagi lebih banyak kalangan.

"Kalau bicara ini bank sampah mau kita jadiin perusahaan, nih. Enggak bisa ngomong doang. Treatment sebagai perusahaannya harus dijalanin juga, dong. Coba lihat mana laporan keuangannya? Jadi, jangan ngomong ini sebuah perusahaan kalau laporan keuangan enggak ada," jelasnya.

Hasil nyata lainnya terlihat dari pola yang diterapkan selama tiga tahun ini, contohnya serapan tenaga kerjanya makin banyak. Seperti sudah disebut sebelumnya, Bank Sampah Bersinar telah menyerap 23 tenaga kerja di sekitar tempat domisilinya. Jumlah itu berkembang dari yang awalnya hanya delapan orang. Selain itu, olahan sampah di sini juga berkembang dari awalnya 8 ton per bulan, kini menjadi 80 ton per bulan.

Menjalankan Kegemaran & Tantangan Ibu Bekerja
Tiga tahun menjalankan peran CEO Bank Sampah Bersinar, Fei mengaku hanya mengerjakan apa yang sesuai dengan kegemarannya. Ia gemar menjadi komunikator, berbisnis, serta membina masyarakat. Maka, itulah yang dilakukan. Menurutnya, pekerjaan paling menyenangkan adalah pekerjaan yang sesuai dengan kegemaran kita.

Fei juga aktif membina anak-anak muda untuk berkolaborasi dan mengembangkan kegemaran, seperti yang ia lakukan. Ia memberi ruang bagi karyawan-karyawannya bertemu dengan klien, menjajaki proses kerja sama, serta mengembangkan bank sampah ini agar lebih bermanfaat lagi.

"Kalau sekarang sih meeting (dengan klien atau siapapun) enggak harus saya yang pimpin. Anak muda yang bekerja di sini, semua punya kesempatan buat jadi versi terbaik dari dirinya," terang Fei.

Kesempatan belajar saat memimpin Bank Sampah Bersinar ini disebut sebagai bahan bakar dan energinya melakukan yang terbaik. Hal ini pula yang ia tularkan pada orang lain. Fei mengaku dirinya sangat terbuka pada siapapun yang ingin belajar model pengolahan bank sampah agar menjadi bisnis profesional.

"Anytime, kalau ada yang mau magang di sini, kita sangat open (terbuka). Mau nanya-nanya, perlu data apa, kita open semua," terangnya.

Kegemaran berbagi ilmu ini juga diterapkannya saat membuka kelas Bahasa Inggris. Nah, hal unik dari kelas Bahasa Inggris yang dijalankan Fei adalah murid-muridnya membayar dengan sampah untuk bisa belajar Bahasa Inggris.

Kerennya lagi, Fei adalah salah satu dari sekian banyak 'ibu bekerja' di Indonesia. Ia memiliki dua orang putra yang kini sedang terus bertumbuh.

Saat ditanya tantangannya seorang ibu yang bekerja, Fei menjawab saat ini dirinya terus mengeksplorasi manajerial waktu. Pasalnya, menjalankan dua peran besar ini perlu fokus tinggi. Ia mengupayakan selalu ada secara penuh saat harus bertanggung jawab pada pekerjaan maupun keluarga.

"Jadi, sebisa mungkin belajar fokus juga. Saat di rumah, usahain enggak mikirin kerjaan. Saat di rumah, ya fokus dengan keluarga, walau mungkin itu sulit ya," terangnya.

Selain itu, ia juga menggarisbawahi perilaku membandingkan diri dengan orang lain adalah hal yang keliru. Walau kadang bercermin pada kekurangannya, namun, hal itu bukan lantas dijadikan alasan untuk berhenti berkembang, baik sebagai seorang Ibu di rumah ataupun pengusaha.

"Mungkin kata orang nih, saya jago bisnis atau punya karier bagus, tapi enggak jago masak. Nah, jangan terus jadi minder. Sebab orang itu punya kurang dan punya lebihnya masing-masing," pesannya.

Baca Ini Juga Yuk: Dari Sampah Jadi Berkah Lewat 'Jasmine Integrated Farming'


Ajak Lebih Banyak Pihak Pilih Sampah
Sebagai penutup, Fei berharap usaha yang dijalankannya bisa berdampak positif untuk lebih banyak pihak. Selain dirinya dan pihak bank sampah, pendekatan yang tepat saat mengelola sampah juga diyakini bisa menguntungkan banyak pihak.

Secara singkat, ia menyebut ada empat manfaat jika program bank sampah dikelola dengan benar. Pertama, pemerintah bakal terbantu dalam proses mengilah sampah. Selain itu, masyarakat juga bakal mendapat keuntungan dari sampah yang ia tabung.

"Syaratnya ya harus dipilah sejak di rumah, biar nilainya tinggi. Soalnya lumayan banget loh," terangnya.

Ketiga, sampah yang sudah dipilah sejak di rumah bakal menjadi bahan baku terbaik untuk didistribusikan kepada pihak industri daur ulang. Dengan begitu, industri daur ulang bisa mendapat bahan baku terbaik sehingga tidak perlu lagi mengimpor sampah dari luar.

Nah terakhir, tentu saja dengan menerapkan #KebiasaanBaik memilah sampah dan menabungkannya ke bank sampah, lingkungan kita juga akan lebih terjaga dan tidak tercemar lagi. Bukan apa-apa, khususnya bagi kalangan usia muda, kemungkinan kita bakal hidup lebih lama di bumi itu besar, loh. Jadi, enggak ada salahnya menjaga bumi, supaya kita dijaga kembali oleh bumi.

TemanBaik, belajar dari pertemuan dengan Fei, adakah di antara kamu yang sudah mulai memilah sampah dari rumah? Coba sadari lagi dan sebutkan, apa saja sih keuntungan yang kamu dapat?


Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler