Deni 'Lawang' Rachman & Lika-liku Dunia Literasi

Kenalin, TemanBaik kita kali ini, namanya Deni Rachman. Ia pencinta buku yang akhirnya jadi penjual buku. Langkahnya tak surut meski bersaing dengan kemajuan zaman.

Di kalangan rekan-rekannya, ia dikenal sebagai Deni 'Lawang'. Nama belakangnya ini berasal dari toko buku fisik yang ditekuni, yakni Lawang Buku. Namun, kini Deni tak lagi membuka toko fisik, ia fokus menjual buku daring.

Di Bandung, Deni bukan orang baru yang bergerak di bidang literasi, khususnya buku. Ia menekuninya sejak 2001. Bahkan, ia memulainya sebagai pedagang kaki lima. Hingga kini, 20 tahun sudah Deni berkutat dengan dunia buku. Ada begitu banyak lika-liku yang dialami.

Beritabaik.id berkesempatan berbincang santai dengan Deni. Sambutan ramah diberikan pada kami meski ia sedang bersiap memajang buku dalam pameran 'Haus Buku' di Perpustakaan Ajip Rosidi, Kota Bandung, belum lama ini.

Di dekat meja yang jadi lapak pamerannya, kami berbincang. Sempat saling menanyakan kabar karena sudah lama tak berjumpa, kami lalu membahas seputar pameran 'Haus Buku' yang digagasnya bersama pengelola Perpustakaan Ajip Rosidi dan rekan-rekannya sesama penjual buku.

Usai membahas pameran, kami tertarik berbincang lebih jauh dengan Deni soal kehidupan pribadinya. Ia pun tak keberatan. Bahkan, kami merasa, ia begitu antusias ketika berbicara seputar perjalanannya di dunia buku.



Banyak hal seru tergali dari perjalanan Deni. Simak cerita lengkapnya, yuk!

Dari kapan sih jualan buku, kang?
"2001. Awalnya jualan di Lapangan Gasibu (Kota Bandung), setiap minggu di pasar kaget. Habis dari situ mulai masuk ke pameran-pameran, baik di kampus atau di gedung-gedung besar. Akhirnya jadi tahu gedung pameran, kenal sama para EO (event organizer), sampai jadi distributor tahun 2005. Jadi, dari 2001-2005 itu banyak mengembara, nomaden."

Pertanyaan simpel nih, kang. Menjanjikan enggak sih jualan buku?
"Tahun 2000 sampai 2008 tuh (penjualan buku) hidup pisan (sekali). Apalagi kalau ada pameran, omzet teh maksimal pisan (sangat maksimal). Itu saya alamin. Tapi, setelah 2008 ke sini (mengalami penurunan), baru sekali dapat bagus tuh 2019. Belum lama (penjualan buku sedang bagus), 2020 datang pandemi. Itu langsung terjun bebas. Kita bertahan di 30 persen (pendapatan) dibanding sebelumnya."

Ia pun memberi gambaran bagaimana menjanjikannya pameran bagi penjual buku seperti dirinya. Dalam satu kesempatan, ia bisa meraup omzet hingga Rp35 juta. Jelas angka besar yang didapat melalui pameran. Apalagi, pameran biasanya digelar dalam waktu singkat.

Namun, perlahan penjualan buku mengalami penurunan. Selain banyaknya buku dalam bentuk digital, hantaman pandemi membuatnya merasa cukup kewalahan. Pembeli tak seperti dulu.

Saat menjalani profesinya, Deni berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Ia sempat membuka toko 'Lawang Buku' di Balubur Town Square, Kota Bandung. Di sana, usahanya berjalan antara 2011-2016. Seiring makin menurunnya pembeli, ia mengambil langkah besar menutup toko dan beralih dengan berjualan daring.

Baca Ini Juga Yuk: Ngobrolin Toleransi Bareng Rafly sang Fotografer Vihara



Sambil berjualan daring, ia masih kerap ikut jadi peserta pameran buku. Sebab, pameran tetap jadi salah satu andalan untuk mendapatkan pemasukan. Namun, pandemi membuat pameran tak bisa digelar. Baru tahun ini pameran bisa digelar, itu pun dengan protokol kesehatan ketat.

Tahun ini, ia sudah dua kali mengisi pameran. Hasilnya pun tak sememuaskan dulu. Sebab, ada banyak warga yang ketakutan beraktivitas di luar rumah, termasuk datang ke pameran buku.

Praktis, Deni lebih banyak mengandalkan pemasukan melalui penjualan buku daring. Itu pun tak seberapa jika dibanding saat penjualan buku fisik berada di masa jaya. Namun, ia tetap berkutat dan setia dengan penjualan buku.

Ia mengaku hidupnya tak bisa jauh dari buku. Hatinya kadung tertambat pada buku yang selama ini menjadi tempatnya mencari pemasukan.


Dari Koleksi hingga Berburu
Awalnya, Deni mulai berjualan buku dari koleksi pribadinya. Kebetulan ia punya banyak buku, terutama yang bertemakan sejarah dan sastra. Buku-buku ini cukup laris dijual.

Mayoritas buku yang dijualnya adalah buku lawas. Meski lawas, buku itu masih layak baca dan tentunya layak dijual. Namun, ia juga menjual buku baru.

Kalau buku-buku lawas, selain koleksi pribadi, dari mana dapatnya, kang?
"Saya awalnya memang koleksi pribadi yang dijual. Setelah itu mulai hunting."

Hunting-nya ke mana?
"Banyak. Ke kolektor, toko buku, antarpedagang, taman bacaan, sampai ke perpustakaan yang mau tutup."

Ada yang nawarin bukunya enggak ke Kang Deni?
"Makin ke sini, kan kita sudah jadi referensi publik (di dunia perbukuan di Bandung), justru yang awalnya kita yang nyari, malah dicari. Mereka ada yang nawarin. Bahkan sampai ada yang ngasih, sampai dimodalin mobilnya buat nganter bukunya. Sekarang sih sudah di posisi seperti itu."

Ke daerah mana aja pernah hunting?
"Hunting ke Jogja, Solo, Jakarta. Tapi di Bandung juga masih banyak (tempat hunting)."


Pengalaman dan Kepuasan
Berkutat dalam penjualan buku selama 20 tahun, ada begitu banyak pengalaman Deni. Apa sih asyiknya menjual buku?

"Awalnya, ngerasa asyik, bisa dagang sambil membaca. Itu jadi motivasi (menjual buku). Kedua, sisi asyiknya, saya kan kolektor, pedagang juga, jadi kayak piknik, kayak rekreasi berkegiatan di buku teh. Selain tuntutan ekonomi, ada sisi hobi yang rekreatif (ketika berjualan), bisa nambah refresh, bisa nambah pertemanan, jaringan, sampai keilmuan."

Tapi pasti ada dukanya dong, kang?
"Banyak sih kalau suka duka."

Sukanya ada yang dialamin?
"Suka ketemu tokoh-tokoh idola, terus ketemu orang yang awalnya enggak terkenal tiba-tiba dia jadi terkenal."

Kalau dukanya?
"Pernah saya ngelapak di dekat Gedung Merdeka, dianggap sareukseuk (mengganggu pemandangan). Itu salah satu yang kurang bagus pengalamannya."

Ada hal positif atau hal berkesan lain enggak dari jualan buku?
"Mungkin bisa ketemu sama Andi /Rif, Ajip Rosidi. Bahkan, bisa ke rumah Kang Ajip d Magelang, tanpa terduga itu. Terus bisa ke rumah Pramoedya Ananta Noer di Bojonggede, Bogor."

Di balik lika-liku yang dialami, Deni merasa ada kepuasan besar dalam benaknya. Sebab, ia bisa terus berkutat dengan buku. Mungkin bagi orang lain ini tak dimengerti, tapi bagi Deni, hal ini tak terukur nilai materi.

Baca Ini Juga Yuk: Bu Menon, Pengantar dan Penyelamat Kucing yang Nyentrik


Penyesalan Besar
Nah, di awal, Deni bercerita jika buku yang dijual adalah koleksi pribadi dan hasil berburu. Dari koleksi yang dijual, ada enggak sih yang akhirnya menyesal?

"Ada, yang nyesel itu jual buku Pramoedya Ananta Toer yang ada tanda tangannya. Itu ditandatangannya pas ketemu di rumahnya," ujar Deni.

Ia ingat betul kenapa beberapa tahun lalu menjual buku koleksi yang sangat dicintainya. Namun, ia tak bisa berbuat banyak karena saat itu terdesak kebutuhan ekonomi.

"Waktu itu saya bangkrut usaha tahun 2008, banyak utang, jadi harus terpenuhi (semua kebutuhan). Harta yang sangat berat sebetulnya (koleksi buku Pramoedya)," jelasnya.

Memang saat itu berapa buku Pramoedya yang dijual, kang?
"Sekitar 10 buku. Yang berat itu sebenarnya menjual kenangannya. Itu kalau ditotal dijualnya sekitar Rp7 jutaan waktu 2010."

Waktu beli untuk dijadikan koleksi harganya normal?
"Iya, malah ada yang harganya cuma Rp30 ribu. Tapi, saat dijual itu harga buku Pramoedya lagi kenceng-kencengnya, apalagi itu ada tanda tangannya. Dijual, orang cepet-cepetan beli."

Terus punya lagi buku serupa kayak yang sudah dijual itu?
"Sebenarnya punya lagi. Tapi tetap enggak sebanding karena enggak ada tanda tangannya. Karena kalau yang dulu ada tanda tangannya pas berkunjung ke rumah beliau (Pramoedya)."

Berkaca dari pengalaman itu, ada buku lain yang enggak akan dijual? Biar enggak menyesal lagi kayak gitu, kang..
"Ada, terutama buku karya Pramoedya."

Kalau buku lain?
"Yang enggak akan dijual ada sekitar 1.000."

1.000, kang? Dimana, terus gimana cara nyimpennya?
"Di rumah, itu ditumpuk juga nyimpennya karena di rumah kan terbatas tempatnya."

Eh, ngomong-ngomong, idola banget ya sama sosok Pramoedya?
"(Pramoedya) ini sih yang berhasil mengubah pola pikir saya dalam berbagai hal. Beliau mengubah cara pandang saya dalam kehidupan. Makanya itu (penulis) yang paling berkesan."



Deni sendiri selain sibuk dengan aktivitas sebagai penjual buku, aktif juga loh sebagai penulis buku. Ada beberapa buku yang sudah diterbitkannya. Salah satunya 'Kisah-kisah Istimewa Inggit Garnasih'. Saat ini, ia pun sedang menggarap buku lain.

"Sekarang yang lagi digarap memorabilia buku, itu perjalanan Lawang dari segi usaha dan personal dari awal dagang. Sambil melawan lupa juga. Karena makin ke sini, detail peristiwa makin sulit diingat. Jadi, sekalian melawan lupa, mendokumentasikan jejak perjalanan usaha."

Tak terasa, perbincangan kami pun harus berakhir karena satu sama lain masih ada keperluan. Namun, dari perbincangan ini, kita bisa menarik makna dan pelajaran dari sosok Deni.

Deni seolah mengajak siapapun mencintai pekerjaan atau profesi yang dijalani. Ya, pasti ada banyak lika-liku yang dihadapi. Namun, setiap orang bakal dihadapkan pada pilihan, pindah haluan atau tetap bertahan di bidang yang ditekuni. Deni lebih memikih bertahan karena cinta dan tak bisa jauh dari buku. Sebab, di sana ia menemukan kebahagiaan.

Sehat terus ya, Kang 'Deni Lawang'..


Foto: Djuli Pamungkas/Beritabaik.id
Layout: Agam Rachmawan/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler