Cerita Syehabudin 'Capung' dari Balik Kemudi Ambulans

Bandung - Syehabudin Abdul Hadi jadi salah seorang bagian penting di Jabar Quick Response (JQR), organisasi kemanusiaan di Jawa Barat. Tugasnya adalah sopir ambulans.

Selama jadi sopir ambulans JQR, pria dengan sapaan akrab Capung punya banyak pengalaman. Ia pun membagi ceritanya bersama Beritabaik.id. Simak hasil perbincangan kami, yuk!

Sebelum jadi sopir ambulans JQR, Capung mengaku banyak terlibat dalam dunia kerelawanan. Sehingga, membantu penanganan di lokasi bencana alam bukan hal asing baginya. Namun, menjadi sopir ambulans, baru dijalaninya usai gabung JQR.

"Kebanyakan dulunya di bencana paling langsung terjun ke pencarian dan evakuasi aja sih," ujar Capung.

Pria asal Garut itu pun menemukan pengalaman berbeda. Sebab, baru kali ini ia menjadi sopir ambulans. Bahkan, tugas pertamanya adalah terjun ke lokasi bencana longsor di Cimanggung, Kabupaten Sumedang, beberapa bulan lalu.

Saat itu, ia langsung dihadapkan pada peristiwa dahsyat. Sebab, jenazah yang dibawa tergolong banyak. Barhari-hari ia berkutat membawa jenazah korban longsor. Jenazah itu dibawa dari lokasi longsor ke puskesmas untuk diidentifikasi petugas puskesmas dan Inafid Polda Jawa Barat.

"Total itu, kira-kira yang dibawa sama ambulans Jabar Quick Response tuh kira-kira 24 jenazah kalau enggak salah," kata Capung.



Melawan Rasa Takut
Jadi sopir ambulans dan membawa jenazah jelas jadi pengalaman baru bagi Capung. Ia pun kaget dengan jumlah jenazah yang harus dibawa. Apalagi, kondisi setiap jenazah berbeda-beda.

Sempat ada keraguan dan takut saat membawa jenazah. Namun, seiring berjalannya waktu, ia akhirnya bisa terbiasa dengan jenazah di balik kursi kemudinya.

"Awal-awal sih pasti lah ya, ada rasa deg-degan gitu kan, khawatir pasti. Pertama (awal membawa jenazah) kita lihat terus spion yang di dalam, (untuk melihat jenazah) apakah bergerak atau enggak sih. Sebenarnya itu yang pertama kali saya rasakan ya," tuturnya.

Ia mengaku harusnya lebih memokuskan pandangan ke depan. Namun, ngeri tak bisa disembunyikan. Sehingga, ia kerap lebih fokus melihat jenazah lewat spion ketimbang fokus ke jalan.

Meski begitu, kondisi itu tak berlangsung lama. Sebab, dalam sehari ia bisa berkali-kali bolak-balik membawa jenazah. Sehingga, ia bisa beradaptasi cepat dan menghilangkan segala keraguan hingga rasa takut.

"Itu awal-awal pertama sih, ke sininya alhamdulillah sih udah terbiasa, lancar. (Setelah membawa jenazah) ketiga mungkin ya (mulai terbiasa). Kesatu-kedua masih adaptasi, ketiga sudah mulai lancar. ," ungkap Capung.

Baca Ini Juga Yuk: 'Cerita Dapur' Suka Duka Jadi Relawan JQR Bareng Reggi Munggaran



Pengalaman Berkesan
Selama jadi sopir ambulans JQR, ada berbagai pengalaman yang dirasakan Capung. Mulai dari sedih hingga lucu, semuanya tersaji. Namun, tentu pengalaman sedih lebih mendominasi. Sebab, ia banyak berkutat dengan penanganan jenazah.

Adaptasi dengan bau jenazah jelas jadi hal pertama yang harus dihadapi. Ini tentu enggak mudah. Sebab, ia kerap satu mobil dengan jenazah korban bencana.

"Kalau bau sih pas hari-hari awal ya (jenazah ditemukan) lumayan agak-agak kurang ya baunya. Pas setelah lewat empat hari, kita sudah mulai mencium bau-bau enggak sedap. Apalagi sudah masuk ke seminggu, lumayan menyengat juga baunya. Bahkan kita pun sampai pakai masker yang oksigen, yang ad filter itu, terus pakai masker medis juga," jelas Capung.

Dengan alat filtrasi semacam itu pun menurutnya masih tetap menghadirkan bau yang menusuk penciuman. Jadi, ia memang berusaha terbiasa dengan bau tak sedap dari jenazah korban bencana.

Pengalaman lain, ia pernah membawa jenazah yang diistilahkannya 'satu setengah'. Ia membawa satu jenazah utuh bersama satu potongan kaki. Rasanya pun campur aduk, antara ngeri, sedih, hingga berkutat dengan bau.

Tak hanya membawa ambulans, Capung juga beberapa kali ikut dalam proses evakuasi korban bencana. Bahkan, ia pernah mendampingi sopir backhoe yang tengah mengeruk tanah mencari korban longsor.

Sial, alat pengeruk dari backhoe itu mengenai tubuh jenazah yang terkubur dalam tanah. Ini membuat kondisi jenazah jadi lebih menyayat pandangan dan hatinya. Namun, tentu ini tak disengaja. Meski begitu, kejadian ini membekas dan sulit hilang dari ingatan, bahkan sampai sekarang.

Selain pengalaman di atas, ada juga pengalaman lucu yang dialami. Salah satunya ketika JQR menerima informasi soal bencana di salah satu wilayah di Jawa Barat. Sambil mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap, Capung meluncur ke lokasi sambil membawa ambulans.

"Ternyata nyampe sana operasi tidak diteruskan karena kondisi cuaca. Akhirnya kita pulang ke basecamp JQR (di GOR Saparua, Kota Bandung) tuh dengan perlengkapan APD, dengan ambulans terbuka. Akhirnya relawan yang di posko itu semua menyingkir karena ketakutan, karena kita masih pakai APD, padahal kita enggak bawa apa-apa malam itu," tuturnya.



Istilah Unik di Lokasi Bencana
Capung kemudian bercerita soal istilah unik yang dipakai di lokasi bencana. Ia mencontohkan saat terjun ke lokasi longsor di Cimanggung. Saat itu, situasi begitu ramai oleh petugas yang melakukan evakuasi, hilir-mudik ambulans dan kendaraan logistik, hingga keluarga yang mencari jenazah saudaranya.

Dalam radio komunikasi, biasanya akan disampaikan jika ada temuan jenazah baru. Hal ini biasanya akan memancing warga berdatangan. Ada warga yang ingin melihat jenazah untuk memastikan keluarganya atau bukan, hingga sekadar ingin tahu saja.

Tak pelak, kondisi ini kerap menghadirkan kerumunan dan proses evakuasi terganggu, termasuk ketika akan dibawa menggunakan ambulans. Siasat pun dicari. Hingga akhirnya, tim di lapangan memakai istilah khas untuk diketahui hanya oleh anggota tim.

"Akhirnya kita sepakat setiap ada (temuan) jenazah, jadi kita ngomongnya bukan jenazah, tapi paket awalnya," ucap Capung.

Ini cukup efektif untuk 'mengelabui' warga. Sebab, dengan cara itu, warga tak berkerumun karena menganggap apa yang dibawa petugas adalah paket. Sehingga, proses evakuasi bisa lebih lancar.

"Ternyata berapa hari kemudian tercium juga oleh warga gitu kan (penggunaan istilah ini). Akhirnya setiap ada kabar paket, warga datang lagi," jelasnya.

Tim di lapangan pun akhirnya kembali mencari istilah baru untuk 'mengelabui' warga. Tujuannya agar evakuasi lebih mudah. Sebab, berdasarkan prosedur, jenazah yang ditemukan harus dibawa ke posko identifikasi.

"Sampai ada istilahnya 'nasi rames', itu berarti si jenazah kondisinya sudah membusuk atau sudah hancur kalau. Kalau misalkan 'nasi bungkus', berarti si jenazah sudah dibungkus masuk kantong mayat," ucap Capung.

Baca Ini Juga Yuk: Hardy Rosady, di Antara Band Hardcore dan Masalah Kemanusiaan



Memetik Hikmah
Dengan tugasnya sebagai sopir ambulans, ada banyak hikmah yang didapatkan Capung. Pertama, ia tentu berusaha menjadi pribadi bermanfaat bagi orang lain melalui tugasnya.

Di saat yang sama, menjadi sopir ambulans membuatnya harus terbiasa bisa mengambil keputusan cepat. Sebab, keraguan atau keputusan yang lama diambil bisa berdampak fatal bagi kelancaran pekerjaannya.

"Yang pasti saya dituntut untuk mengambil keputusan dengan cepat sih, apakah berani atau enggak kan. Kalau ragu-ragu akan berdampak sama yang lain gitu kan," ujar Capung.

Hal ini pula yang berusaha ia terapkan dalam kehidupan pribadinya. Ia berusaha mengambil keputusan cepat saat akan melakukan sesuatu. Namun, keputusan yang diambil harus matang dan dipikirkan berbagai dampaknya.

Sementara itu, selain tugasnya sebagai sopir ambulans, Capung juga punya tugas lain. Di JQR, saat tidak bertugas membawa ambulans, ia menjalankan perannya di dua bidang lain.

"Sebetulnya saya kalau di JQR itu saya masuk di kanal Jembatan sama Kebencanaan. Jadi selama ini kalau memang untuk ambulans enggak dipake, saya fokus di kanal dua itu," tuturnya.

Ia pun bersyukur bisa jadi bagian dari JQR. Sebab, di sana ia merasa menemukan keluarga dan teman-teman baru yang sejalan dengan hasratnya bergerak di bidang kerelawanan dan kemanusiaan. Apalagi, di JQR ia juga banyak belajar soal bagaimana roda organisasi dijalankan dengan baik.

"Menariknya sih banyak pelajaran baru. Selama ini saya masuk (kegiatan) relawan, sebelum Jabar Quick Response dan perbandingan setelah sekarang Jabar Quick Response, banyak sekali perbedaan yang bisa saya ambil. Salah satunya adalah sistem kemanusiaannya yang bisa diambil, itu mungkin. Kalau di Jabar Quick Response lebih tertib, lebih terarah, lebih terkonsep gitu," tandas Capung.


Foto: Rayhadi Shaddiq/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler