Sutrisno, Ayah Ratusan Anak dengan Cinta Kasih Tanpa Batas

Bandung - TemanBaik, tanggung jawab menjadi seroang Ayah atau orang tua tentu sangat berat. Terlebih jika kita dipercayakan untuk menjadi oran tua dengan banyak anak, apalagi ratusan. Tidak sedikit orang tua yang mengalami kesulitan saat menjalannkannya, apalagi mengurusi anak dengan latar belakang trauma. Kali ini, beritabaik.id berkesempatan untuk bertemu dan berincang banyak dengan salah satu sosok Ayah Asuh dari SOS Childern's Village mengenai pengalamannya mengurusi ratusan anak asuh. Yuk! Simak obrolan kami. 

"Saya ini keras. Keras sekali kalau mendidik anak. Sekian tahun mereka 'lepas' dari tempat ini. Dan begitu kembali ke sini dengan keadaan yang sudah jauh lebih baik, mereka masih ingat akan saya yang dulu galak banget sama mereka,"
 ucap pria setengah baya itu. Suaranya bergetar. Padahal, kami baru hendak memulai sesi bincang-bincang.

"Mereka masih mau datang ke Bandung, nengokin saya dan bilang ‘terima kasih, Bapak. Kalau enggak ada bapak, enggak tahu hidup saya bakal gimana..’ dan saat itu saya enggak tau mau ngapain. Saya hanya bisa nangis," sambungnya.

Mata pria itu mulai berkaca-kaca. Ya, di balik ketegasan dan perangainya yang keras, Sutrisno (54) juga manusia biasa yang punya perhatian dan kasih sayang tanpa batas untuk puluhan, bahkan ratusan anak di tempatnya mengabdikan diri sebagai Ayah Asuh. Menurutnya, mau punya orang tua biologis atau tidak, setiap anak yang lahir ke dunia berhak atas cinta kasih dan rasa sayang yang besar. Dua hal itulah yang menghindarkan anak dari penyimpangan dalam proses tumbuh kembang menjadi manusia yang paripurna.

Isak tangisnya meledak. Sutrisno jadi semakin tak karuan saat kami memintanya membongkar ingatan tentang perjalanan membesarkan banyak anak di SOS Children Village. Kegagahannya dengan kostum jaket parka ala tentara Amerika, topi baret merah, celana jeans, sepatu kulit beserta kalung dan cincin batu di jarinya itu seketika luntur. Kendati terlihat cengeng, namun begitulah Sutrisno. Ia kembali menjadi pribadi dengan berjuta nilai kemanusiaan dan rasa cinta kasih apabila laci kenangan bersama anak-anak angkatnya itu dibongkar.

"Anak itu udah sukses loh. Dia kerja di luar Pulau Jawa. Udah jadi bos begitulah kira-kira, ya. Udah bawa mobil bagus, udah dikawal orang, badannya tinggi besar pula. Kalau dia mau banting saya untuk balas kegalakan saya waktu saya marahin dia saat remaja, ya hancurlah saya waktu itu. Remuk bisa-bisa badan ini, ya. Tapi, tahu enggak dia bilang apa? Dari jauh nih dia datang, turun dari mobil, dia teriak, 'Bapak!' itu kenceng banget. Dia meluk saya, dan ya itu, dia bilang terima kasih dan nangis di pelukan saya. Saya juga nangis. Sampai anak-anak SOS itu pada ngeliatin saya. Bingung lah mereka. Akhirnya karena dia kelamaan meluk saya, saya perlahan lepaskan pelukannya lalu memperkenalkan dia ke anak-anak SOS. 'Ini kakak kalian, yang sudah berhasil di luar sana,' saya bilang begitu," kenangnya, menceritakan kedatangan seorang anak angkatnya yang menengok ke SOS Children Village, beberapa waktu lalu. Dari sekian banyak kedatangan anak, mungkin momen ini yang dianggapnya paling emosional.

Baca Ini Juga Yuk: Iin Insihaning, Mencintai Anak Meski tak Melahirkannya

Terus terang, kami agak kesulitan untuk mereka ulang kisah ayah dari ribuan anak yang tumbuh besar di SOS Children Village, Lembang, Bandung ini menjadi cerita utuh. Pasalnya, tiga dekade perjalanan Trisno, sapaan akrabnya, menjadi ayah asuh di lembaga pengasuhan anak ini nyaris selalu diselipi momen emosional. Namun, hal unik yang perlu jadi catatan dalam perjalanannya tersebut adalah dirinya tak menyangka kalau gerbang masuknya ke kehidupan (yang awalnya berangkat dari pekerjaan sebagai pengasuh anak) ini adalah sebuah ketidaksengajaan.

Memangnya awal kisah Bapak gabung sama SOS Children Village itu gimana sih?
"Bulan Oktober tahun 1989, saya masih inget banget. Waktu itu saya masih kuliah di Sastra Jerman, UNPAD. Wih, enggak nyangka dan enggak nyambung, ya? Jadi begini. Saya waktu itu ketemu dengan seorang teman, yang sekarang adalah Istrinya Pak Hadi, direkturnya sekolah ini. Waktu itu si teman ini bilang; ‘Tris, ayo ikut saya ke Lembang. Ada sekolahan ini, si SOS ini nih. Ya, begitulah, si teman saya ini waktu itu menjelaskan latar belakang SOS seperti apa. Saya waktu itu sih ya ikut-ikut aja.”

Lalu, kegiatan Bapak waktu itu lagi ngapain aja?
"Saya aktif di kampus. Saya kebetulan orangnya seneng berseni-seni gitu deh. Saya suka hampir semua jenis kesenian, mulai dari musik, teater, sastra, semuanya merata. Jadi, jurusan kuliah saya Sastra Jerman itu bukan perkara saya bisa Bahasa Jerman atau enggak. Jurusan kuliah itu semacam jadi kendaraan saya buat melebarkan sayap lah. Dan saat saya diajak si teman ini untuk main ke SOS, awalnya saya mengajar kesenian di sini. Mungkin sedikit banyaknya, proses bergabungnya saya ini bisa dipahami oleh sebagian orang lah, ya. Jadi, kadang ada beberapa panti asuhan yang suka manggil kakak-kakak pengasuh dari luar gitu, kan? Nah, konsep bergabungnya saya ke SOS itu mirip-mirip begitu; diajak teman, berbagi dengan anak-anak tentang banyak hal berbau seni, sampai kemudian saya di titik nyaman ada di sini, dan melanjutkan hidup di sini."

Dari awalnya ikut-ikutan, kok bisa sampai betah? Ada apa memangnya di SOS?
"Anak-anak di sini memperlakukan saya seperti keluarga. Dan luar biasanya, waktu itu saya masih tergolong orang baru di sini ya. Tapi anak-anak itu gembira banget. Mereka terbuka akan keadaan mereka. Di satu sisi, ada stigma yang melekat kalau terlahir tanpa keluarga utuh itu merupakan sebuah aib, ya. Tapi anak-anak di sini enggak memandang masa lalu mereka sebagai aib. Mereka percaya diri untuk bilang ‘Saya asalnya enggak tahu dari mana. Datang ke sini dalam kondisi yang bla, bla, bla,’ begitu kira-kira, soalnya banyak jenisnya, ya. Dan saya pikir, waduh, kok bisa ya mereka tumbuh dengan percaya diri? Saya menyimpulkan kalau cinta kasihlah yang mengisi kekosongan hidup mereka, sehingga mereka percaya diri. Dan saya tergerak untuk menyambung cinta kasih itu, semampu saya.”

Bergabung bersama SOS pada awal dekade 90-an, Trisno kemudian harus membagi waktu antara kegiatannya di Bandung dan waktu bersama anak-anak di Lembang. Saat itu, kos-kosan Trisno terletak di Jalan Dipatiukur, dekat kampus Universitas Padjadjaran. Pria kelahiran Tasikmalaya yang mulai merantau selepas SMA ini banyak terlibat dalam beberapa kegiatan sosial dan kesenian di kampusnya.

Salah satu momen yang diingat oleh Trisno adalah saat dirinya bersama teman-teman berhasil menyelenggarakan parade kesenian di kampusnya. Acara pada tahun 1991 tersebut mendatangkan banyak seniman hebat pada masanya seperti Marwah Daud hingga Romo Mangun Wijaya dan Frans Magis Suseno. Ia menjadi ketua panitia dalam festival bertajuk ‘Gelar Budaya’ tersebut.

Kecintaannya terhadap dunia seni kemudian ia bawa dari Bandung menuju Lembang. Dengan seni sebagai ‘kendaraan’ dan media untuk lebih dekat dengan anak, Trisno coba menjahit dan menambal kekosongan dalam diri anak-anak asuhnya, yang harus tumbuh tanpa pendampingan orang tua kandung. Sebuah pekerjaan yang lambat laun bergeser menjadi sebuah pengabdian bagi Trisno pribadi.

Ada pekerjaan rumah yang cukup berat untuk Bapak dan seluruh pengasuh di sini: menggeser paradigma bahwasannya ketidaklengkapan anggota keluarga itu bukan merupakan aib yang bikin jiwa anak-anak itu jadi kosong. Nah, lalu bagaimana pendekatan Bapak dalam mengisi kekosongan dalam diri anak-anak?

"Hal paling penting adalah memberi mereka kasih sayang. Bahaya kalau kadar kasih sayang dalam anak ini sampai enggak terpenuhi. Sebaliknya, kalau mereka tumbuh dengan kasih sayang yang penuh, mereka enggak akan mencari kasih sayang itu di luar rumah. Dengan skema pergaulan masa kini yang, aduh, saya bayanginnya miris dan serem, ya. Ada kekerasan, bahkan pergaulan bebas, itu semua muncul karena kadar rasa sayang dalam diri anak belum terpenuhi. Saat kadar rasa kasih sayang itu terpenuhi, mau sebagaimana pun, katakanlah badai di luar sana pas anak ini sudah dewasa, dia enggak akan rapuh dan terjerumus. Sebab pondasi dasarnya sudah kuat kok.”

Dalam memberi kasih sayang tersebut, Trisno menyebut hanya memberi saja belum cukup untuk menambal kekosongan dalam diri anak-anak tersebut. Peran sebagai Ayah asuh yang diembannya perlu dijalankan sepenuh hati. Artinya, bukan sekadar peran dengan topeng Ayah saja, melainkan Trisno menjadi Ayah sejatinya dengan stereotip tangguh, kuat, tegas, dan pekerja keras. Ia menjalankan peran sebagai Ayah dengan menggunakan hati, sehingga nyaris tak ada batasan antara dirinya dengan anak-anak asuhnya.

Perjalanan menjadi seorang Ayah asuh lambat laun membuat Trisno memahami fase dan jenjang kebutuhan rasa cinta kasih dari tiap individu manusia. Menurutnya, usia anak-anak merupakan usia termudah dalam mengisi kekosongan seseorang yang tumbuh tanpa pendampingan orang tua kandung. Usia anak-anak umumnya dihabiskan dengan bermain. Kemampuan berpikir kritisnya pun belum terasah, sehingga praktisnya sang anak ini cukup dibawa bersenang-senang saja untuk membunuh waktu. Tentu tanpa melewatkan momentum memupuknya dengan ragam pesan baik untuk diamalkan.

Fase yang dianggapnya sebagai sebuah tantangan baru muncul saat si anak memasuki usia remaja. Lebih spesifik, Trisno menyebut saat anak-anak asuhnya memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama, di situ ia akan sedikit mengubah haluan kemudi dalam membawa sang anak. Jika dahulunya, anak cukup dibawa bersenang-senang, maka pada fase ini, Trisno sudah mulai bersikap tegas pada anak asuhnya. Namun, hal itu tidak bisa dipukul rata. Sesekali ia menjumpai anak dengan kemampuan kritis dan penuh pertanyaan. Dan hal yang ia lakukan adalah menjadi teman diskusinya.

Apa sih yang menjadi pertanyaan anak saat ia memasuki usia remaja?
"Identitas diri. Mereka mulai resah akan keberadaan dirinya. Mereka mulai mempertanyakan siapa mereka? Dari mana mereka berasal? Dan hal-hal filosofis yang pada akhirnya mereka sadar kalau ada sesuatu yang kosong dari diri mereka. Ini fase yang cukup berat. Maka dari itu, peran saya dan seluruh Ibu asuh di sini, pas kekosongan itu kelihatan lagi, ya kita ‘tambal’ lagi dengan cinta dan kasih sayang. Tentu wujudnya beda-beda. Di satu sisi saya keras, tapi saya juga bisa jadi teman diskusi untuk anak-anak.”

Lalu, Bapak terus terang dengan keadaan anak itu? Atau bagaimana cara Bapak ‘menambal’ kekosongan itu?

"Beda anak, beda treatment, dong. Hanya saja yang jelas, upaya saya adalah memberikan pemahaman sama mereka. Narasi yang saya bangun sih sesederhana 'enggak apa-apa. Enggak usah takut. Orang yang ada dihadapanmu ini adalah Bapakmu. Dan orang yang mengasuhmu di rumah adalah Ibumu. Kita enggak akan ke mana-mana, nemenin perjalanan kamu,’ kurang lebih begitu.”

Mengenai peran Ibu asuh, itu bagaimana? Apa enggak jadi pertanyaan tuh, Ibunya ada 13, kok Bapaknya hanya ada 3 sih?

"Anak-anak pada akhirnya mulai paham, ya. Jadi, di SOS itu memang ada 13 rumah dengan masing-masing satu Ibu asuh di dalamnya. Nah, satu Ibu asuh ini didampingi tiga Bapak asuh, yang mana tiap pagi kita keliling untuk nengokin si anak tersebut. Biasalah, kadang anak ‘kan suka ada aja yang susah dibangunin, ya kita bangunin mereka, kita lihat persiapan mereka berangkat ke sekolah. Sebisa mungkin kita membangun konsep kekeluargaan di rumah itu mirip dengan orang-orang rumahan pada umumnya.”

Bapak sendiri sudah punya anak? Bagaimana hubungan anak-anak Bapak dengan sekian banyak anak asuh di SOS?
"Anak saya dua. Yang pertama itu perempuan, sekarang sedang lanjut S2 di salah satu Universitas di Bandung. Dan yang kedua itu laki-laki, sekarang sih sudah SD kelas lima. Cukup jauh, ya jaraknya. Wah, kalau ditanya hubungan mereka dengan anak-anak asuh, itu udah enggak ada batasan antara anak kandung dan anak asuh. Lebih ‘liarnya’ lagi, ini nih, si bungsu itu kalau lagi momen akhir pekan ya, dia tuh bisa loh minta sama saya untuk nginep di salah satu rumah dari 13 rumah yang ada. Ya, soalnya udah enggak ada batas juga sih. Nah, kalau putri saya itu kerap jadi teman ngobrol buat anak-anak. Dan saya perlakukan anak kandung dan anak-anak di SOS itu sama, persis. Bahkan sampai ada anak SOS yang nanya begini sama putri saya ‘Mbak, kalau Bapak tuh galak juga enggak ke Mbak?’ dan putri saya bilang kalau saya begini adanya.”

Trisno juga tak keberatan menceritakan latar belakang keluarganya. Jadi, ia bertemu belahan jiwanya saat menjalani KKN di Lembang. Perjumpaannya itu kemudian berlanjut sampai ke pelaminan. Usai menikah, Trisno kemudian menetap dan tinggal di dekat kawasan SOS Children Village. Dari pernikahannya dengan sang istri, ia dikaruniai dua orang anak.

Baca Ini Juga Yuk: Christina Riani, 28 Tahun Menjadi Ibu Asuh untuk Puluhan Anak

Pak Trisno memang galak ya sama anak-anak?
"Saya ini keras. Dan saya tegas dalam mendidik anak. Kalau memang perlu keluar kalimat usir, saya keluarkan kalimat itu. Tetapi, saya begitu bukan atas dasar benci. Saya begitu karena saya menyayangi mereka. Ini klise memang. Dan sering kita dengar kalau ada orang tua yang galak sama anak itu karena sayang. Tapi, apa yang saya katakan memang benar adanya.”

Sampai dipukul, begitu?
"Terus terang, pernah. Awal kedatangan saya ke sini, entah saya yang belum becus jadi orang tua asuh, entah memang regulasinya belum ada. Hanya saja yang saya ingat belum ada itu istilah Undang-Undang Perlindungan Anak. Kita mendidik anak pakai cara konservatif ala orang tua zaman dulu. Ibaratnya, anak nakal kelewatan, kita bisa pukul anak itu. Tentu, sekali lagi, memukul di sini jangan disamakan dengan saya memukul orang dewasa kalau berkelahi. Hanya saja, enggak cuma anak-anak, tetapi saya pun berproses di tempat ini. Saya merenung, apakah saya pantas melakukan itu? Memarahi anak hingga berlebihan. Sampai akhirnya ‘kan muncul juga regulasi tentang perlindungan anak. Di situ saya mikir, wah berarti Pemerintah sudah melek nih, dan mendidik anak pakai kekerasan sudah enggak relevan lagi sekarang.”

Suara Trisno agak tertahan saat membahas bagaimana caranya memperlakukan anak asuh di SOS Children Village. Sesekali ia menatap ke langit-langit atap rumah, menghela napas, lalu melanjutkan kembali pembicaraannya.

Sudah pernah ketemu lagi dengan anak yang dulu Bapak galakin?
"Pernah. Saya enggak mau sebut nama. Intinya, dulu saya pernah marahin dia habis-habisan. Sekian lama dia tinggal di bawah pengasuhan SOS, sampai dia lulus kuliah dan akhirnya bekerja. Saat ini dia kerja di luar Pulau Jawa. Suatu hari dia ada tugas ke Bandung. Dan dia menyempatkan diri datang ke SOS. Saya enggak tahu gimana perasaan saya saat itu, hanya saja, saya sedih, haru, tapi seneng juga. Mereka, anak-anak itu, masih mau datang ke sini jauh-jauh untuk nengokin saya, dan sekadar bilang 'terima kasih, Pak! Kalau dulu saya enggak dimarahin sama Bapak, enggak tahu nasib saya akan gimana saat ini,’ dan saya nangis dong waktu itu. Parah sih.”

Apa yang terlintas di benak Bapak saat bertemu kembali dengan anak-anak itu?
"Dunia berputar. Dulu, saya pernah menolong anak asuh saya yang dijahili temannya hingga berkelahi di sekolah. Saya bilang sama dia ‘jangan cengeng! Kamu laki-laki.’ Dan begitu saya sudah tua, mereka nengokin saya, saya sering terharu dan merasa sedih. Dan saya enggak ragu untuk nangis di depan mereka. Eh, tahu enggak mereka bilang apa? Mereka bilang 'Pak, jangan cengeng! Ada kami yang akan nemenin Bapak,’ saya… Ah, sudahlah.”

Tangis Ayah seribu anak ini pecah. Secuil kenangan bersama anak asuhnya itu membuat pandangan kami tertuju pada foto-foto wisuda anak SOS, yang rata-rata menampilkan Sutrisno sebagai Ayah pendampingnya. Sebagai informasi, ada ratusan anak asuh SOS yang telah menyelesaikan studi S1. Program pengasuhan di SOS memang mengantarkan anak asuhnya hingga bisa hidup mandiri. Kualifikasi hidup mandiri yang dimaksud salah satunya dengan menyelesaikan jenjang studi S1, sehingga bisa mencari pekerjaan dengan latar belakang pendidikannya tersebut.

Sudah, sudah, Pak Trisno… Sekarang kita ngobrol yang santai lagi. Ini seisi dinding penuh sama foto Bapak nemenin wisuda anak-anak nih. Enggak bosen wisuda melulu, Pak?
"Oh itu. Nah, emang bodor (lucu) sih. Saya itu dalam setahun pasti aja ikutan foto wisuda. Soalnya, makin ke sini makin banyak anak yang menyelesaikan sekolah sampai S1. Peran kita kalau anak sudah masuk kuliah, ya jadi teman diskusi, dan menemani dia di foto wisudaannya.”

Selanjutnya, Trisno kemudian menyebut kalau fase pendampingan anak saat kuliah justru lebih ringan saat anak tersebut masih duduk di bangku sekolah menengah. Ia menyebut, justru beratnya tanggung jawab, peran, serta upaya pendekatan terhadap anak saat duduk di bangku sekolah menengah akan terbayar saat anak tersebut lulus dan mulai masuk kuliah. Dalam hitung-hitungannya, jika orang tua berhasil menanamkan nilai-nilai positif dengan segala caranya, maka di usia kuliah, anak yang sudah terbentuk pondasinya seolah tidak perlu banyak dipoles lagi.

Tiga dekade jadi Ayah asuh. Menghabiskan waktu dengan anak-anak, tanpa ada jaminan mereka mau menghabiskan waktu dengan kita. Kenapa Bapak bersedia?

"Saya penganut filosofi bola basket. Semakin keras ia dipantulkan ke tanah, semakin tinggi ia terbang ke udara. Tapi, saya percaya, setinggi apapun bola itu, pasti dia akan jatuh dan kembali ke tanah. Begitupula anak-anak asuh saya. Saya pantulkan mereka keras-keras ke tanah, supaya mereka terbang tinggi ke udara. Tapi saya percaya, mereka akan pulang untuk menengok keadaan saya, walau hanya sesekali, tapi itu sudah jadi obat yang cukup buat saya.”

Kalau anak-anak itu berkumpul, dan Bapak dikasih panggung nih. Apa yang mau Bapak sampaikan?
"Maaf. Udah, itu aja. Maaf kalau dulu saya galak sama kalian. Maaf kalau kalian pernah saya lukai hatinya. Tapi, saya bangga sama apa yang sudah kalian gapai dan capai sampai hari ini. Dengan segala kekurangan saya, saya minta maaf sama kalian. Dan pertemuan saya dengan Beritabaik.id ini juga saya harapkan bisa menjadi sarana untuk saya meminta maaf sama anak-anak asuh saya. Karena nilai kebaikan saat ini bisa disampaikan dan dibaca oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Saya kangen sama anak-anak asuh saya yang jauh di sana.”

Sebagai pamungkas, Trisno hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya sebagai Ayah asuh di SOS Children Village. Perjalanan tiga dekade yang dilaluinya bermuara pada harapan akan ada "The Next Sutrisno". Artinya, ia menyadari kalau regenerasi Ayah asuh di sini mulai diperlukan. Namun, selagi ia masih bisa memberikan rasa cinta kasih dari dalam hatinya, ia akan memberikannya tanpa pernah putus kepada anak-anak asuhnya. Sebab, bagi Trisno, cinta kasih merupakan nilai yang harus dan wajib didapatkan anak dalam masa perkembangannya menuju manusia paripurna.

Sehat selalu, Pak Sutrisno! Entah berapa besar panen cinta kasih dan sayang yang kau dapat dari seribu anak yang tumbuh besar bersamamu.

Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler