Cerita Haviz Kurniawan, Menjadi Guru & Orang Tua saat Pandemi

Bandung - Pandemi COVID-19 membuat semua orang harus beradaptasi dengan berbagai kebiasaan baru. Hal ini juga dialami Haviz Kurniawan, guru kelas IV SDN 053 Cisitu, Kota Bandung. Yuk, simak cerita dan pengalaman beliau!

Haviz sendiri sudah 11 tahun mengajar. Namun, pandemi di tahun 2020 ini memberinya pengalaman baru. Yang paling terasa adalah cara mengajar. Jika sebelumnya selalu mengajar di kelas, sejak pandemi ia harus mengajar jarak jauh alias dalam jaringan (daring).

Saya juga tidak menyangka akan dihadapkan pada situasi seperti ini. Pas begitu datang PJJ (pembelajaran jarak jauh), kita bingung harus ngapain," kata Haviz kepada BeritaBaik.id.

Namun, adaptasi harus dilakukan. Secara perlahan, ia mulai menjalankan kebijakan PJJ. Bahkan, ia seolah jadi mentor bagi para guru lainnya dalam penerapan berbagai aplikasi. Sebab, banyak di antara mereka yang sebelumnya kurang melek dengan teknologi, misalnya aplikasi panggilan video.

"Di sekolah itu rata-rata banyak yang senior, mereka belum siap untuk dibawa langsung loncat pakai aplikasi yang high. Siswanya aja belum siap, apalagi gurunya," ucap ayah dua anak tersebut.

Ia pun kerap memberi penjelasan kepada para guru bagaimana menggunakan berbagai aplikasi untuk kebutuhan pembelajaran. Sebab, tak hanya satu aplikasi saja yang digunakan. Hal itu disesuaikan dengan kebutuhan dalam proses PJJ.

Beruntung, para guru yang mendapat 'pencerahan' dari Haviz mengerti. Mereka akhirnya bisa lebih melek teknologi dan bisa menggunakan berbagai aplikasi. Sehingga, kegiatan PJJ bisa berjalan lancar.

"Pandemi ini sisi positifnya memaksa guru untuk mau belajar, mau melek IT berapapun usianya. Karena kondisinya begini, semua dipaksa (harus bisa beradaptasi)," tutur pria 35 tahun itu.

Baca Ini Juga Yuk: Willy Priyoko, Cintanya Pada Kucing dan Semangat untuk Berkarya

Datangi Rumah Siswa
Haviz sendiri tak hanya mengajar dengan metode PJJ. Seminggu sekali, ia selalu datang ke rumah salah satu siswanya yang tak punya akses internet. Hal ini diperbolehkan pihak sekolah demi membuat sang siswa tetap bisa belajar meski terkendala internet.

"Kebijakan di sekolah kami boleh melakukan kunjungan kelas untuk memasilitasi siswa yang kesulitan akses internet," ujar pria yang tinggal di kawasan Cigadung, Kota Bandung.

Saat mengunjungi siswanya, ia kerap memberi penjelasan dan tugas yang harus dikerjakan. Seminggu kemudian, ia akan kembali datang untuk memberikan tugas baru sekaligus mengambil tugas di minggu sebelumnya.

Meski hanya satu siswa yang harus didatangi, ia tak mempermasalahkannya. Yang terpenting, siswa tersebut bisa belajar dengan baik dan seluruh tugasnya dikerjakan. Apalagi, dengan cara berkunjung ke rumah, ia bisa berinteraksi lebih intens dengan siswanya, termasuk orangtuanya.

Berbagai kesulitan yang dialami siswa maupun orang tua dicari penyelesaiannya. Dengan begitu, siswa bisa belajar dengan baik. Orang tua merasa nyaman dan tahu apa yang harus dilakukan terhadap anaknya saat belajar.

Sisi Dilematis
Dalam kesehariannya, Haviz memang hanya mengajar satu kelas dan hanya satu siswa yang dikunjungi. Karena itu, ia lebih banyak fokus mengajar daring. Mengajar daring ini ternyata enggak mudah.

Sebagai contoh, ada siswa yang tak punya ponsel dan hanya mengandalkan ponsel orang tuanya untuk belajar dan mengirim tugas. Di saat yang sama, ketika siswa harus belajar, ponsel dibawa orang tuanya yang harus bekerja.

"Otomatis si siswanya harus nunggu orang tuanya pulang," ucap Haviz.

Karena kondisi seperti itu, tak jarang siswanya mengirimkan tugas lebih dari waktu yang sudah ditentukan. Sebab, mereka baru bisa belajar dan mengirim tugas sekolah setelah orang tuanya tiba di rumah. Tak jarang, siswa baru mengirimkan tugas padanya pada malam hari. Ia pun harus berusaha memaklumi kondisi itu.

Ia pun sering memeriksa tugas-tugas siswa di luar jam kerja. Sebab, tugas yang dikumpulkan siswa tidak dikirimkan di saat yang bersamaan. Alhasil, waktu 24 jam sehari sering dipakai Haviz berkutat dengan pekerjaannya sebagai guru. Ini cukup dilematis karena waktu pribadinya banyak yang tersita untuk urusan pekerjaan.

"Ada yang malam-malam ngumpulin tugasnya. Kita mau ngapain? Enggak bisa kan siswanya dimarahin, mau ditolak tugasnya juga enggak boleh. Akhirnya memang betul, kerja di masa pandemi ini jadi hampir 24 jam. Orang tua siswa enggak tahu kita seperti itu. Akhirnya kita harus bijaksana di masa kayak gini," tuturnya.

Selain memeriksa tugas, ia juga harus mempersiapkan berbagai bahan pembelajaran. Hal ini jelas tak mudah dilakukan. Sebab, ia butuh waktu untuk mempersiapkannya. Di saat yang sama, ia juga berkutat memeriksa tugas para siswa. Ia juga harus menjalankan perannya sebagai suami sekaligus orang tua ketika berada di rumah.

Ponsel yang dipakainya juga kerap terkendala karena beban berlebih selama pandemi. Bahkan, ia mengaku ponselnya sampai dua kali rusak. Namun, beruntung hal itu masih bisa diatasi sendiri dengan cara mereset ulang.

"Itu juga dirasakan oleh teman-teman (guru lain) di sekolah," cetusnya.

Ia pun menganggap wajar jika orang tua menganggap menjadi guru di masa pandemi seperti ini sebagai hal mudah. Sebab, mereka tidak tahu kondisi sebenarnya. Menjadi guru di masa pandemi jauh lebih sulit dan banyak sisi dilematis.

"Karena mereka (orang tua siswa yang menganggap jadi guru saat pandemi mudah) orientasinya hanya melihat secara fisik. Sebetulnya untuk pandemi ini tugas kita jauh lebih berat buat guru," papar Haviz.

Lama Mengenal Siswa
Bagi Haviz, mengenal satu per satu siswa yang diajarnya adalah hal wajib. Dengan cara itu, ia bisa menyapa mereka satu per satu ketika mengajar. Selain itu, mengenal satu sama lain juga membuat proses belajar menjadi lebih efektif. Namun, saat pandemi seperti sekarang, ia justru butuh waktu berbulan-bulan untuk mengenali siswanya.

"Untuk siswa yang sekarang, saya tahu nama-nama murid di bulan Juli-Agustus, itu juga baru sebagian besar," ucapnya.

Kondisi ini berbeda ketika ia mengajar di kelas. Dalam kondisi normal, ia hanya butuh waktu dua hingga tiga pekan saja untuk bisa menghapal seluruh nama siswa. Lalu, apa yang membuat ia sulit mengenal siswa?

Yang pertama tentu karena tidak ada pertemuan secara langsung. Sebab, proses belajar mengajar dilakukan melalui panggilan video. Yang jadi permasalahan, ketika panggilan video dilakukan, nama siswa yang tertera di layar justru banyak atas nama orang tuanya.

"Ketika ngajar virtual, kalau siswa enggak mengganti nama (tampilan di layarnya), namanya masih pakai nama orang tua, itu mau manggil susah," ungkap Haviz.

Baca Ini Juga Yuk:  Adi Sarwono, Sisihkan Separuh Hidup untuk Literasi Anak

Siasati Kebosanan Siswa
Haviz sendiri tak mau hanya sekadar formalitas mengajar. Ia selalu berusaha agar siswanya semangat belajar, terutama ketika dirinya mengajar virtual. Sebab, belajar jarak jauh seperti itu mudah membuat siswa merasa jenuh dan hilang semangat. Sehingga, ia harus terus memutar otak agar membuat kegiatan belajar menarik dan siswanya bersemangat.

"Seperti pembelajaran video, dalam waktu satu sampai empat bulan oke, siswa masih antusias. Tapi begitu memasuki bulan kelima-kelima, semangat siswa mulai turun. Kita harus memutar otak agar membuat siswa bersemangat," jelas pria kelahiran Bandung, 30 Juli 1985.

Apalagi, beberapa kali siswanya kerap mengatakan bosan mendapatkan pelajaran atau materi melalui tayangan video. Sehingga, daya kreatif Haviz benar-benar diuji.

"Akhirnya kita berpikir lagi, kita coba cara yang agak unik, misalnya pakai kuis atau teka-teki silang, pakai Kahoot, semangat lagi mereka belajarnya," tuturnya.

Karena itu, ia berharap orang tua lebih terbuka pandangannya terhadap guru di masa pandemi ini. Sebab, setiap guru pasti berusaha memberikan yang terbaik bagi siswa. Mereka ingin siswanya bisa belajar dengan baik dan menjadikannya sebagai generasi unggul.

"Curhatan orang tua itu gitu semua, pusing (membantu anak belajar di rumah), katanya mendingan sekolah aja. Kalau saya tinggal dibalikin, ibu cuma satu ngajarnya, saya 34 siswa di kelas. Kebayang kan kalau tatap muka (sulitnya mengajar)?" paparnya.

Namun, meski kelak sekolah bisa kembali tatap muka, ia berharap para orang tua tak lepas tangan untuk pendidikan anaknya. Mereka diharapkan tetap mendampingi anaknya belajar di rumah. Sebab, peran guru saja tak cukup untuk mendidik anak, harus ada andil besar dari orang tua.

"Mendidik itu enggak semudah membalikan telapak tangan (dan tak cukup dilakukan guru saja)," imbau Haviz.

Rasakan Pusingnya Jadi Orang Tua Siswa
Haviz sendiri menjalani peran ganda dalam mengajar. Di satu sisi, ia harus mengajar para siswanya. Di sisi lain, ia juga sebagai orang tua yang anaknya duduk di kelas 2 SD. Sehingga, ia tahu betul apa yang dirasakan para orang tua siswa lainnya.

"Anak saya kelas 2 SD. Jadi, saya sama dengan orang tua lain, merasakan juga pusingnya (mendampingi anak belajar). Tapi, saya harus ngajar siswa sekaligus mendampingi anak sendiri," ungkapnya.

Bahkan, ia mengaku lebih memprioritaskan siswanya dibanding anaknya sendiri dalam mengajar. Sebab, ada tanggung jawab lebih besar mengingat satu kelasnya terdiri dari 34 orang.

"Karena dua tugas ini (mengajar siswa dan mendamping anak belajar), anak saya suka terbengkalai. Sudah lah anak sendiri mah simpan dulu (dibantu belakangan), saya kerjakan (mengajar) yang lebih banyak dulu," jelasnya.

Setelah selesai mengajar, baru ia mendampingi anaknya belajar. Bahkan, tak jarang ia harus berkomunikasi dengan guru sang anak. "Saya suka calling-an sama wali kelas anak saya kalau tugasnya telat dikumpulin," ucap Haviz.

Hal serupa juga dialami rekan-rekan sesama guru di sekolah tempat Haviz mengajar. Sehingga, mereka juga harus pintar-pintar mengatur waktu dan skala prioritas. Tujuannya agar tugas mengajar siswa berjalan lancar, di saat yang sama anaknya sendiri juga terperhatikan dan terbantu kegiatan belajarnya.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler