Arsitek Bandung Juarai Sayembara Desain Masjid Agung Magelang

Bandung - TemanBaik, kabar gembira datang dari tim arsitek Bandung. Ya, karya arsitektur milik Ade Yudirianto baru saja memenangkan sayembara untuk desain Masjid Agung di Magelang.

Beritabaik.id punya kesempatan untuk berbincang dengan pemenang sayembara yaitu Ade Yudirianto. Ia mengaku terkejut saat dinyatakan sebagai pemenang sayembara.

“Saya terbiasa mengikuti sayembara sebagai tolok ukur untuk menilai apakah desain saya relevan mengikuti perkembangan jaman atau tidak,” ujarnya, Sabtu (30/5/2020).

Desain masjid dengan atap berbentuk Tajug melengkung ke belakang karya itu berhasil menarik perhatian dewan juri dan mengungguli dua karya lainnya yakni MAJT 082 asal Malang dengan arsitek atap gunungan yang keluar sebagai juara kedua, serta desain MAJT 062 dari Yogyakarta dengan desain atap joglo terbelah yang keluar sebagai juara ketiga.

Adopsi Ruang Masjidil Haram

Lanjutnya, ia mengaku karya ini terinspirasi dari kondisi ruang di Masjidil Haram. Sedangkan atap tajug yang dibuatnya terinspirasi dari tugas akhirnya saat ia menggarap skripsi.

Ade menjelaskan 3 ide dasar yang melandasi karya arsitekturnya bersama tim yang kemudian menjadi pemenang sayembara. Yang pertama adalah Mental Map (Cognitive Map).

Ia kemudian menambahkan, pola tata ruang dan hierarki spasial mengadaptasi Masjidil Haram, agar tercipta suasana familiar-kedekatan psikologis bagi  pengunjung yang berada di Masjid Agung Jawa Tengah. 

“Jajaran pilar-pilar, selasar koridor, alur sa’i menjadi identitas tempat, mental map penghubung psikis antara Masjidil Haram dan Masjid Agung Jawa Tengah. Tujuannya agar pengunjung merasakan suasana yang sama seperti saat berada di Masjidil Haram. Ini akan sangat bermanfaat bagi jamaah yang  hendak melaksanakan Umroh dan Haji,” bebernya.

Sementara itu transformasi atap tajug didapatkannya sejak ia melakukan penelitian di masa kuliah. Tipologi Atap inilah yang ia gunakan untuk Masjid Agung Jawa Tengah. Selanjutnya, ia memodifikasi proporsi atap tajug tersebut agar sesuai dengan konteks kekinian dan teknologi modern yang ada saat ini. 

“Semasa kuliah dulu saya mempelajari bentuk-bentuk atap tradisional Jawa. Ada banyak macam atap di jawa seperti Joglo, Limasan, Kampung. Namun khusus untuk bangunan peribadatan masyakat Jawa selalu menggunakan jenis atap Tajug,” sambungnya.

Ide dasar yang ketiga merupakan lokalitas dan material. Ade menyebut dalam sejarahnya, bangunan di Jawa Tengah memiliki karakter yang berbeda dengan bangunan di daerah lain seperti Jawa Timur dan Jawa Barat.

“Kalau di Jawa Timur, sejarahnya bahan bangunan menggunakan material bata sedangkan bangunan Jawa Tengah menggunakan batu candi, vulkanik atau andesit. Material ini yang saya gunakan dalam wajah bangunan Masjid Agung Jawa Tengah,” jelas Ade.

Diaplikasi Menjadi Bangunan

Sebelum diaplikasi ke dalam bentuk bangunan nyata, Ade mengaku dapat pesan dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Pesan yang ia dengar antara lain bangunan masjid yang terbangun nantinya harus bagus, kokoh dan tidak asal-asalan.

“Perbaikan dan revisi itu lumrah terjadi dimana-mana sepanjang saya menjadi arsitek. Kan belum ada pertimbangan soal biaya, ketersediaan material bahan, kemampuan tenaga kerja, dan waktu,” ujar jebolan Magister Arsitektur Institur Teknologi Bandung (ITB) yang sehari-hari berprofesi sebagai arsitek ini.

Sebagai pamungkas, Ade menyebut bahwasannya bukan kemegahan arsitektur semata yang hendak ditonjolkan. Namun bagaimana kegiatan di dalam bangunan arsitektur itu kelak dapat berlangsung secara rutin dan makmur. Lebih lanjut lagi, ia berharap karyanya dapat bermanfaat bagi warga kota Magelang, ataupun warga sekitar yang nantinya akan menikmati karya Ade dalam bentuk nyata.

“Arsitektur yang bagus bagi saya adalah arsitektur yang hidup-ramai oleh kegiatan dan bermanfaat bagi banyak orang, bukan yang steril-kosong secara visual dan tidak digunakan sehingga bermasalah di perawatan-pemeliharaan dan fungsi awalnya,” tutup Ade.


Foto: Dok. Ade Yudirianto

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler