Sederhana Mencintai Lingkungan ala Komunitas CAI

Bandung - TemanBaik, ada komunitas keren, nih. Namanya Komunitas CAI. Aktivitas komunitas ini keren banget, loh. Simak ulasannya yuk biar enggak penasaran!

Air adalah sumber kehidupan. Kalimat ini terdengar sepele, namun benar adanya. Berangkat dari filosofi sederhana ini, ditambah kecintaan terhadap lingkungan, sejumlah pemuda kreatif asal Kelurahan Ledeng membentuk Komunitas CAI. Nama CAI itu sendiri merupakan singkatan dari Cinta Alam Indonesia.

Berdiri sejak 2019, Komunitas CAI hadir melanjutkan program revitalisasi lingkungan di sekitar Gedong Cai Tjibadak 1921. Ini adalah tempat penampungan air di kawasan Ledeng, Kota Bandung.

Cikal bakal lahirnya komunitas ini berawal dari aktivasi kegiatan revitalisasi Gedong Cai Tjibadak itu sendiri. Sebut saja salah satunya Festival Gedong Cai yang rutin digelar sejak 2012 hingga 2018.

Revitalisasi yang dilakukan anggota komunitas ini berkaitan dengan penghijauan di wilayah Gedong Cai guna menyerap lebih banyak sumber air. Sebagai informasi, Gedong Cai Tjibadak merupakan objek vital sumber air untuk kehidupan masyarakat, khususnya di Kota Bandung. Konon, sumber air yang sudah ada sejak 1921 ini di masa lalu memiliki debit air 50 liter per detik.

Karena pesat dan dinamisnya perubahan zaman, serta kebiasaan manusia, jumlah debit air 50 liter per detik yang mampu memenuhi 80 persen kebutuhan air masyarakat Kota Bandung itu kini hanya tersisa 19 liter per detik saja. Penurunan signifikan itu menjadi salah satu pemantik yang memanggil hati para relawan di komunitas ini.

“Kita kepengin debit air di Gedong Cai Tjibadak ini balik lagi ke asalnya dan saling mengingatkan lah, khususnya sama temen-temen di Bandung; ini tuh punya kalian loh. Yuk, kita jaga bareng-bareng,” ujar Nugi Herdian.

Anggota Komunitas CAI berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari wiraswasta, pegawai, hingga masyarakat yang secara penuh waktu mengabdikan diri merawat lingkungan.

Baca Ini Juga Yuk: Rasa Cinta Mitra Sunda dari Barat Australia untuk Indonesia

Beragam tumbuhan mereka tanam di sekitar Sungai Cipaganti, salah satunya tanaman bambu. Bahkan, mereka menggandeng Akademi Bambu Nusantara dan pihak dari Saung Angklung Udjo.

Hasilnya, puluhan bambu endemik langka, seperti bambu 22, bambu ater, bambu bitung, dan bambu hitam ada di sini. Selain bambu, mereka juga menanam pohon penyerap air, misalnya kopi, beringin, pohon endemik seperti karung serta patrakomala, atau buah-buahan seperti mangga dan nangka.

Saban pagi, anggota komunitas merawat pohon-pohon yang sudah ditanam tersebut. Karena dihuni banyak relawan, kawasan curug di Babakan Ledeng ini tak pernah sepi. Ada semacam saung yang dijadikan tempat berteduh dan berkumpul para anggota di wilayah Babakan Ledeng tersebut.

Anggota komunitas nampak berpencar. Ada yang turun ke bawah menyusuri sungai, ada yang menanam tumbuhan, menyemai benih, bahkan ada yang sekadar duduk santai melihat-lihat keindahan di Curug Adun.

Sebagai informasi, ada beberapa anak sungai di kawasan Babakan Ledeng ini. Salah satunya Sungai Cipaganti, yang konon punya potensi wisata yang enggak kalah menarik.

Sepekan sekali, saban minggu, mereka melakukan susur sungai di Sungai Cipaganti. Mereka membersihkan sungai yang masih terjaga ekosistemnya. Rasa memiliki terhadap lingkungan ini yang coba dijaga anggota komunitas.

Rasa rumasa ka lemah cai teh tos teu aya (merasa memiliki pada tanah air sudah tidak ada). Lihat aja, kerja bakti udah jarang, siskamling jarang, gotong royong udah jarang. Minimal dengan kegiatan kita di sini, nilai-nilai baik dari masa lalu bisa dikembalikan lagi,” sambung Nugi.

Baca Ini Juga Yuk: Memantik #AksiBaik ala Badut Necis

Di samping kegiatan revitalisasi lingkungan sungai, Komunitas CAI juga aktif menggodok sejarah Gedong Cai Tjibadak bersama sejumlah tokoh masyarakat. Karena usianya yang tahun ini genap satu abad, serta vitalnya fungsi gedong cai tersebut, fakta sejarah Gedong Cai Tjibadak ini perlu ditelusur lebih dalam. Kabarnya, Desember mendatang mereka bakal menggelar acara memperingati berdirinya Gedong Cai Tjibadak.

“Memang dari sumber sejarah yang saya baca berdirinya (Gedong Cai Tjibadak) itu sejak Desember 1921, tetapi tanggalnya belum diketahui pasti,” jelas Nugi.

Sebagai penutup, Nugi mewakili Komunitas CAI kembali mengingatkan, khususnya buat kamu yang tinggal di Bandung; ada aset vital milik bersama yang bernilai tinggi untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup sehari-hari. Ia mengajak kita sama-sama menjaga apa yang sudah kita miliki, sebelum kita menyesal karena kehilangan hal tersebut.

Ia juga sangat terbuka jika kamu mau datang dan main-main ke Babakan Ledeng. Jalur masuknya: kamu bisa melintasi jalan Babakan Surip (di samping terminal Ledeng), lalu menyusuri jalan berkelok dan bertanya pada warga lokasi Babakan Surip ini. Setelah melihat curug, kamu akan melihat pula saung dan aktivitas Komunitas CAI sejak pagi hingga sore hari.

Urang beda tapi sarua, urang saimah tapi saukur beda buruan. Urang welas, maneh asih, yu urang bangun ieu imah Indonesia (Kita beda tapi sama, kita serumah tapi sekadar beda halaman. Ayo kita bersama-sama membangun Indonesia),” pungkas Nugi.

TemanBaik, yuk lebih sayang lagi sama alam dan lingkungan kita!


Foto: Istimewa/Dokumentsi Komunitas CAI


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler