Intip Serunya Ubud Writers & Readers Festival 2021

Ubud - TemanBaik, Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2021 sudah bergulir sejak 8 Oktober hingga 17 Oktober mendatang. Di tahap 'pemanasan' alias awal, keseruan langsung tersaji.

UWRF 2021 sendiri dibuka pada Kamis (7/10/2021) sore dengan menghadirkan Virtual Press Call bersama para pembicara utama. Mereka di antaranya Stone Sky Gold Mountain Mirandi Riwoe, fotografer dokumenter Joshua Irwandi, penulis dan jurnalis Inggris yang fokus pada isu perubahan iklim Mark Lynas, serta penulis asal Bali Kadek Sonia Piscayanti.

Dalam agenda ini, hadir pula Pendiri dan Direktur UWRF Janet DeNeefe dan Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana. Ketut sendiri memaparkan alasan di balik pemilihan tema 'Mulat Sarirat' dalam UWRF 2021. Sedangkan Janet DeNeefe berbagi mengenai alasannya tetap berkomitmen menyelenggarakan UWRF tahun ini, meski dalam bentuk berbeda dari sebelumnya.

"UWRF dimulai setelah bom Bali pertama. Festival ini adalah upaya untuk menghidupkan kembali perekonomian, memberi harapan kepada masyarakat, dan membawa sedikit inspirasi dalam wadah kreatif dan dialog. Begitulah cara kami memulai. Sekarang, lebih dari sebelumnya, kita membutuhkan hal tersebut. Tugas kami adalah menciptakan festival terbaik yang bisa kami berikan untuk situasi ini," kata Janet DeNeefe.

Pada malam harinya, UWRF resmi dibuka pada acara Gala Opening di Taman Dedari, The Royal Pita Maha. Malam Gala Opening dibuka Tari Panyembrahama oleh Sekha Genggong Kutus dan Napak Tuju, dilanjutkan sambutan dari Janet DeNeefe.

Baca Ini Juga Yuk: Yuk! Intip Bocoran Pembicara & Program Keren UWRF21

Saat Gala Opening, UWRF juga kembali memberikan penghargaan sepanjang masa atau Lifetime Achievement Award kepada sosok sastra terpilih. Penghargaan ini pernah diberikan UWRF kepada Made Taro pada 2019 dan almarhum Sapardi Djoko Damono pada 2018.

Tahun ini, UWRF mempersembahkan Lifetime Achievement Award 2021 kepada Budi Darma, salah seorang penulis paling berpengaruh di Indonesia, yang meninggal dunia pada 21 Agustus 2021. Karyanya, Olenka, Orang-Orang Bloomington, dan Kritikus Adinan sangat dipuji dunia.

Putrinya, Diana Budi Darma, menerima penghargaan atas namanya. Rangkaian acara Gala Opening dilanjutkan sambutan beberapa pihak, seperti perwakilan Australian Embassy Jakarta, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, serta Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim.

“Kita perlu membangun ekosistem sastra seni budaya yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan. Benar-benar menghormati tradisi dan masa lalu kita, tapi tidak takut untuk maju ke depan dan berinovasi. UWRF adalah ruang yang merdeka bagi kita semua untuk saling berefleksi, bertukar ide, dan berbagi harapan. Festival ini adalah kesempatan untuk melihat lebih dalam ke dalam diri kita sendiri, melatih Mulat Sarira sebagai petunjuk menjalani hidup setelah pandemi” ujar Nadiem Makarim dalam sambutannya.

Main Program UWRF dihadirkan pada hari berikutnya, Jumat (8/10/2021), setelah Festival Welcome di Indus Restaurant dengan menghadirkan Janet DeNeefe dan Prof. E. Aminudin Aziz. Ada juga ragam program menarik yang dapat dinikmati peserta festival, misalnya sesi The Nutmeg’s Curse pada Sabtu (9/10/2021). Sesi ini menghadirkan Amitav Ghosh dan Hilmar Farid.

Amitav Ghosh berbagi bagaimana kolonialisme dan eksploitasi Barat di Kepulauan Banda, Maluku, yang menjadi cikal bakal dinamika perubahan iklim saat ini. Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, bergabung dengan Amitav membahas sejarah kolonial dan rempah-rempah, mengakui peran rempah-rempah, seperti pala, dalam pembangunan nasional.

Peserta festival juga dapat mengikuti Workshop The Art of Lontar and Prasi yang digelar daring pada Minggu (10/10/2021). Workshop ini akan menampilkan cara membuat lontar dan prasi, atau teknik menggambar di atas daun lontar.

Baca Ini Juga Yuk: Yuk! Refleksi Diri dengan Cara Seru di UWRF 2021

Selain sesi Main Program dan Workshop, UWRF juga menghadirkan Festival Club yang dihadirkan melalui Instagram Live. Salah satunya adalah Black Box yang menampilkan Shiori Ito, wajah dari gerakan #MeToo Jepang.

Selanjutnya, Festival juga akan mengadakan pemutaran film secara daring dan luring, termasuk film Pulau Plastik. Sedangkan untuk Live Music & Arts, UWRF menghadirkan Navicula untuk diskusi yang menarik dan pertunjukan musik, bersama dengan A Soundtrack of Resistance. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, UWRF juga menghadirkan Special Events di restoran-restoran terbaik di Ubud, salah satunya Feast and Fable by Storystation di Casa Luna.

Dari tahap 'pemanasan' yang sudah dijalankan, UWRF ini tentu menghadirkan keseruan tersendiri, sekligus penuh pengetahuan dan manfaat. Namun, tenang, UWRF 2021 masih akan berlangsung hingga 17 Oktober 2021. Jadi, masih ada waktu untuk menikmati keseruan di dalamnya.

UWRF 2021 sendiri merupakan pelaksanaan ke-18 yang digelar secara hybrid. Kegiatan ini menghadirkan lebih dari 130 pembicara, mulai dari penulis, pegiat, seniman, sastrawan, jurnalis, dan lainnya. Para pembicara akan bergiliran tampil dalam berbagai sesi diskusi menarik yang dikembangkan dari tema tahun ini, Mulat Sarira, yang diartikan sebagai Refleksi Diri.

Sesuai formatnya, festival hybrid, program-program UWRF dapat diakses secara daring atau langsung di Ubud dan juga di Perth, menggabungkan program daring melalui situs festival daring Townscript dan live di Ubud dan Perth (The Rechabite pada 8-10 Oktober 2021).

Sementara itu, program-program gratis seperti Film Program dan Music & Arts dapat dinikmati di situs dan kanal YouTube UWRF. Festival Club juga dihadirkan gratis dan dapat dinikmati melalui IG @ubudwritersfest. Detail mengenai program bisa kamu cek melalui laman www.ubudwritersfestival.com.


Foto: Dokumentasi UWRF 2021


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler