Jelang Idul Adha, Hewan Kurban di Jabar Diperiksa Tim Khusus

Bandung - Menjelang Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada Rabu, 22 Agustus 2018, pemeriksaan hewan kurban pun mulai dilakukan. Sebanyak 1.911 tim pemeriksa hewan dilepas Pemprov Jabar di Gedung Pakuan, Selasa (14/8) kemarin.

Tim tersebut terdiri dari petugas dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jabar, Kabupaten-Kota, Perhimpunan Dokter Indonesia Jabar 1, mahasiswa beserta dosen PSKH Unpad, MUI dan petugas dari DKM.

Dari 1.911 tim pemeriksa hewan yang sudah disiapkan, terdapat juga 1.320 tenaga bantuan yang telah mengikuti pelatihan tata cara pemotongan hewan kurban. Mereka juga mendapatkan sosialisasi pemilihan hewan, baik dari anggota DKM maupun masyarakat secara mandiri.

Ini dilakukan untuk memastikan kalau hewan dan daging kurban yang di distribusikan ke masyarakat terbebas dari penyakit menular dan telah sesuai dengan Syariat Islam.

"Hewan yang diterima masyarakat harus sehat dan layak karena itu, tim ini harus bekerja maksimal karena permintaan hewan setiap tahunnya juga meningkat," ujar Penjabat Gubernur Jabar Mochamad Iriawan dalam rilis yang diterima BeritaBaik.

Kebutuhan hewan kurban sapi dan kambing di Jabar tahun ini mengalami peningkatan sebanyak 15 persen dari 236 ribu ekor di tahun 2017. Jumlah ini belum termasuk hewan kurban yang disediakan Pemprov Jabar tahun 2018 yang mencapai 600 ribu ekor.

"Ada peningkatan kalau tahun 2017 ada 263 ribu totalnya sekarang ada peningkatan 10 - 15 persen tapi penyediaan dari kita hampir 600 ribu jadi tidak ada masalah," tambah Iriawan

Permintaan terhadap hewan kurban yang sangat tinggi menjelang Idul Adha ini menyebabkan lalu lintas atau perpindahan hewan dari satu daerah ke daerah lain pun relatif tinggi. Hal ini memungkinkan adanya ancaman penyakit antraks pada arus tersebut karena kumpulan ternak dalam satu lokasi.

Mengantisipasi hal tersebut, Dinas Ketahanan dan Pangan dan Peternakan Jabar akan melakukan vaksinasi terhadap hewan kurban khsususnya sapi yang banyak didatangkan dari Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Sapi relatif banyak didatangkan dari Jateng dan Jatim artinya ada pergerakan hewan kurban antar daerah yang akan membawa risiko munculnya penyakit menular atau antraks namun Antisipasi antraks selalu kita lakukan salah satunya vaksinasi," terang Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jabar, Dewi Sartika.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler