• Kamis, 11 Agustus 2022

Mengenal Kesultanan Deli lewat Masjid Raya Al-Mashun Medan

- Kamis, 5 Mei 2022 | 15:19 WIB
 (dok. Wikimedia.org/Daniel Berthold)
(dok. Wikimedia.org/Daniel Berthold)

TemanBaik, selain Istana Maimun, di jantung Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara, terdapat bangunan bersejarah lainnya yang menjadi cagar budaya. Namanya adalah Masjid Raya Al-Mashun atau dikenal juga sebagai Masjid Raya Medan yang juga menjadi ikon wisata religi di Medan.

Masjid Raya Al-Mashun berlokasinya di Dukuh Sungaimati, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimon, Kota Medan. Sisi timur Masjid Raya Al-Mashun menghadap ke jalan Sisingamangaraja sedangkan sisi utaranya tertuju ke Jl Masjid Raya.

Masjid ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari Istana Maimun yang merupakan Istana Kesultanan Deli. Sebuah kerajaan yang turut membangun peradaban Melayu modern di Sumatra. Rumah ibadah ini mulai dibangun pada 21 Agustus 1906 atau 1 Rajab 1324 Hijriah dalam kalender Islam, ketika Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alam memimpin Kesultanan Deli.

Dilansir dari indonesia.go.id, Sultan Ma'mun ingin mewujudkan sebuah masjid yang megah, karena menurutnyalebih utama dibandingkan kemegahan istananya yang telah berdiri sejak 1888. Mengutip penelitian yang dilakukan Achy Askwana dari Universitas Sumatra Utara berjudul "Analisis Karakteristik Ornamen di Masjid Raya Al-Mashun Medan" (2015), Sultan Ma'mun memiliki kemampuan keuangan lebih karena saat itu permintaan ekspor tembakau Deli sedang meningkat.

Kondisi itu membuat Sultan Deli berkeinginan membangun fasilitas-fasilitas penting untuk kemajuan Kesultanan Deli. Pembangunan Masjid Raya Al-Mashun Medan menghabiskan biaya sebesar 1 juta gulden yang ditanggung oleh Kesultanan Deli. Namun, dikutip dari Tengku Luckman Sinar dalam Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur (2006), dana pembangunan masjid ini juga dibantu oleh seorang saudagar dari etnis Tionghoa bernama Tjong A Fie.

Pembangunan masjid ini selesai pada 1909 dan digunakan pertama kali untuk salat Jumat, 10 September 1909 atau bertepatan dengan 25 Sya’ban 1329 Hijriah. Ketika sudah berdiri dan resmi digunakan, Masjid Raya Al-Mashun tampak megah serta memiliki sayap di sisi selatan, utara, timur, dan barat. Pada awalnya Masjid Raya Al-Mashun dirancang oleh arsitek Belanda Theodoor van Erp yang juga merancang Istana Maimun, tetapi kemudian prosesnya dikerjakan oleh JA Tingdeman.

Baca Juga: 9 Rekomendasi Tempat Membeli Oleh-oleh Khas Bandung saat Libur Lebaran

Van Erp ketika itu dipanggil ke Pulau Jawa oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk bergabung dalam proses restorasi Candi Borobudur di Jawa Tengah pada 1907--1911. Sebagian bahan bangunan masjid yang diimpor antara lain marmer untuk dekorasi diimpor dari Italia dan Jerman, kaca patri dari Tiongkok, dan lampu gantung didatangkan langsung dari Prancis.

Tingdeman merancang masjid ini dengan denah simetris segi delapan dalam corak bangunan campuran Maroko, India, Eropa dan Melayu, serta Timur Tengah. Pola bangunan oktagonal itu menghasilkan ruang bagian dalam unik, berbeda dari masjid kebanyakan. Kubah masjid letaknya di tengah bangunan, bentuknya tidak membulat, melainkan pipih oktagonal mengikuti desain bangunan. Desain demikian dikenal sebagai Moghul.

Kubah utama ditopang oleh delapan pilar beton besar berdiameter 60 sentimeter yang menembus hingga ke bagian dalam masjid, tepat di ruang salat. Selain itu, terdapat empat kubah lebih kecil tepat di atas empat bangunan sayap. Sekilas, model bangunan Masjid Raya Al-Mashun ini mengingatkan kita akan Masjid Raya Banda Aceh. Keempat bangunan sayap Masjid Raya Al-Mashun ini mempunyai beranda dilengkapi pintu masuk dan tangga hubung, karena antara pelataran dengan lantai utama masjid posisinya ditinggikan.

Bangunan masjidnya terbagi menjadi ruang utama, tempat berwudu, gerbang masuk, dan menara. Ruang utama, tempat salat, berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada bagian mihrab terbuat dari marmer dengan atap kubah runcing.

Halaman:

Editor: Irfan Nasution

Sumber: Indonesia.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Yuk, Mengenal Sejarah Kebun Binatang Bandung

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:24 WIB

Yuk, Jaga Kelestarian Candi Borobudur

Selasa, 7 Juni 2022 | 12:34 WIB

10 Tempat Wisata di Lembang yang Instagramable

Minggu, 29 Mei 2022 | 10:51 WIB
X