Indonesia Menjadi Contoh untuk Penanganan Bencana

- Rabu, 25 Mei 2022 | 11:23 WIB
 (dok. Komunikasi Kebencanaan BNPB/Danung Arifin)
(dok. Komunikasi Kebencanaan BNPB/Danung Arifin)

TemanBaik, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi kebencanaan yang tinggi. Karena, secara geografis dan geologi terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu Eurasia, Indo-Australia, Samudra Hindia, dan Samudra Pasifik. Indonesia juga terletak di kawasan Cincin Api (Ring of Fire). Oleh karenanya butuh mitigasi dan cara penanganan bencana yang baik dan presisi. 

Menurut World Risk Report 2021, Indonesia berada di urutan ke-38 dari 181 negara berisiko bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat pada 2021 lalu terdapat 5.402 kali bencana yang terdiri dari kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, tanah longsor, gelombang pasang, dan cuaca ekstrem.

Di balik itu semua, Indonesia selalu mampu melewati berbagai situasi kebencanaan karena memiliki kearifan lokal di masyarakat dan menjadi salah satu keunggulan Indonesia. Situasi itu ikut didukung peran aktif para pemangku kepentingan seperti komunitas, akademisi, dunia usaha, media massa, dan pemerintah.

Mereka bersatu dalam setiap peristiwa bencana di tanah air dalam perannya masing-masing. hasilnya, muncul sebuah kekuatan dalam bentuk ketahanan ketika menghadapi aneka bencana.

Dikutip dari laman indonesia.go.id, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy ketika membuka Konferensi Rekonstruksi Dunia Kelima di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Senin (23/5/2022).

"Salah satu potensi lokal yang dapat dijadikan contoh baik (best practice) dalam penanganan bencana di Indonesia adalah gotong royong pentaheliks," ujar Muhadjir.

Kegiatan yang berlangsung dua hari tersebut menjadi rangkaian dari agenda Platform Global Pengurangan Risiko Bencana Ketujuh atau 7th Global Platform Disaster Risk Reduction (GPDRR) yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, 23-28 Mei 2022. GPDRR adalah salah satu pertemuan rutin tiga tahunan yang dilakukan Kantor PBB Untuk Pengurangan Risiko Bencana/UNDRR dan telah dilaksanakan sejak 2007.

Baca Juga: Daftar Perguruan Tinggi Negeri yang Masih Membuka Jalur Mandiri

Indonesia Contoh Terbaik
Pramod Kumar Mishra, Sekretaris Utama Perdana Menteri India dalam kesempatan paparan yang dilakukan secara daring dari negaranya mengatakan Indonesia menjadi contoh terbaik (best practice) dari penanganan dan pemulihan bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam.

Gempa 9,1 skala Richter yang terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Aceh disusul tsunami menyebabkan sebanyak 221 ribu rakyat Aceh hilang atau meninggal dunia. Puluhan ribu tempat tinggal rusak parah. Saat itu PBB menyatakan gempa di Aceh sebagai yang terparah sepanjang sejarah bencana kemanusiaan.

Dalam perjalanannya, proses penanganan dan rekonstruksi kembali wilayah terdampak di Aceh memerlukan waktu yang tidak sebentar dan biaya yang tidak sedikit. Indonesia memerlukan waktu delapan tahun untuk proses rekonstruksi Aceh dalam beberapa tahapan.

Dimulai dari membangun kembali rumah masyarakat, dilanjutkan dengan pengerjaan infrastruktur, dan terakhir memulihkan ekonomi masyarakat. Data Bank Dunia menyebutkan, biaya sebesar USD7 miliar (Rp102 triliun) yang sebagian merupakan bantuan negara-negara donor serta lembaga internasional digunakan untuk membangun kembali Aceh.

Peraih penghargaan Sasakawa Award 2019 untuk kategori Pengurangan Risiko Bencana itu menyebutkan, Indonesia dapat bangkit dari peristiwa tersebut.

"Kita menyaksikan bersama Indonesia sebagai sebuah negara yang pernah dilanda gempa besar diikuti tsunami pada 2004 ternyata mereka mampu menangani dan melakukan pemulihan dengan baik," jelasnya.

Menurutnya, masyarakat dunia melalui forum ini dapat belajar bagaimana negara dengan potensi kebencanaan tinggi seperti Indonesia mampu menangani dan memulihkan bencana. Diakui Pramod, bencana tidak bisa dihindari tetapi bisa direduksi dengan berbagai langkah. Kesiapsiagaan bencana merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan.

"Kita harus menyiapkan diri sejak sekarang karena tidak pernah tahu kapan bencana akan terjadi," ujarnya.


Dalam lima tahun terakhir India telah mengeluarkan anggaran hingga USD7,5 miliar (Rp109 triliun) untuk penanganan dan pemulihan bencana alam seperti banjir dan gempa.

India juga telah merancang dan membangun program mitigasi bencana berbasis sains dan teknologi supaya lebih efektif memanfaatkan sumber daya yang ada.

India mengembangkan teknologi berbasis citra seperti pemakaian drone untuk memantau daerah rawan bencana dan apabila bencana terjadi. Kami juga memanfaatkan teknologi ruang angkasa untuk memetakan kawasan-kawasan di India yang berpotensi bencana.

"Itu kami lakukan untuk mengurangi dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan dari bencana," katanya.

Tiru Cara Indonesia
Direktur Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana Accra Ghana, Charlotte Norman menyebutkan, negaranya kerap dilanda bencana banjir dan yang terbesar adalah pada September 2021 lalu. Ia bersama para pemangku kepentingan di Ghana pascakejadian mulai merancang kegiatan simulasi bencana banjir. Ghana, kata Charlotte, berkaca dari cara Indonesia menyiapkan masyarakatnya agar selalu siaga dengan situasi kebencanaan.

Halaman:

Editor: Irfan Nasution

Sumber: Indonesia.go id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kota Bandung Sambut Hari Raya Imlek dengan Toleransi

Kamis, 19 Januari 2023 | 13:40 WIB
X