• Sabtu, 26 November 2022

Ngobrol Bareng Heru Hikayat sang Kurator Seni

- Sabtu, 18 Desember 2021 | 12:30 WIB





Kenalin nih TemanBaik kita, namanya Heru Hikayat. Dia adalah seni">kurator seni di Selasar Sunaryo Art Space Bandung. Apa sih seni">kurator seni itu? Bagaimana kerjanya?

Sebelum kenal lebih dekat dengan Heru, awalnya kami sering bertemu pria yang identik dengan topinya ini saat kami berkunjung ke pameran seni yang biasa digelar di Selasar Sunaryo Art Space. Satu-dua kali ngobrolin karya seni bersama Heru, kami tertarik menelisik perjalanannya lebih jauh.

"Kurator itu kan kerjaannya nongkrong," ujar Heru di awal perbincangan bersama kami.

Namun, tak sekadar nongkrong loh, TemanBaik! Dari kata yang seolah berkonotasi tak melakukan apapun, rupanya ada pemikiran ciamik di balik nongkrongnya seni">kurator seni.

Heru mengamininya. Bagi dia, kurator tak ada bedanya dengan penyunting teks dalam dunia jurnalistik atau sastra, sama-sama punya tanggung jawab besar menyusun serta menyampaikan cerita dari sebuah karya.

"Sekarang istilah kurator atau kurasi itu banyak dipakai, ya. Bahkan, di dunia kuliner tuh mereka pakai istilah kurator. Sejauh pandanganku, istilah kurasi ini sebetulnya penyeleksian. Jadi, ada jaminan kualitas dari sebuah penyeleksian. Seorang kurator punya kuasa untuk menyeleksi," ungkap Heru yang mengaku terinspirasi dari buku 'Kurasi dan Kuasa' karya Agung Hujatnikajenong.

-

Apa yang bikin Mas tertarik sama dunia kuratorial?
Berawal dari ketertarikan sama seni modern sebetulnya. Menurutku, untuk kasus di Indonesia, seni modern ini sesuatu yang 'belum siap' lah. Jadi, masyarakatnya belum siap menerima seni modern. Ada celah atau gap yang cukup besar. Sederhananya gini deh, untuk menikmati tempat artistik, kita perlu bergelut dengan kota yang berantakan. Tapi, waktu itu bahasanya enggak kayak gitulah. Nah, jadi kira-kira awalnya dari sana, aku jadi lebih suka ngomongin seni daripada berkarya seni. Gejala-gejala seperti tadi tuh, kesenjangan, kota yang berantakan, itu yang menggiringku ke sana.

Sebelum jadi kurator, sempat berkarya juga dong?
Oh, iya. Waktu kuliah di Seni Rupa ITB, aku termasuk orang yang suka berpameran. Di akhir masa kuliah, kesadaran (akan seni modern) ini mulai terbentuk, ditambah profesi kurator saat itu sedang berkembang dengan patron Jim Supangkat, ada juga Asmudjo.

Halaman:

Editor: Oris Riswan Budiana

Tags

Terkini

X