• Sabtu, 26 November 2022

'Sibaya', Ular Tangga Pelestari Budaya dari Yogyakarta

- Kamis, 4 November 2021 | 11:05 WIB





TemanBaik, ada permainan edukasi anak kece bernama Sibaya. Permainan ini dirancang dan dikeluarkan Pusat Studi Kebudayaan (PSK) Universitas Gadjah Mada. Bagaimana sih cara memainkannya?

Nah, sebelumnya, Sibaya sendiri merupakan singkatan dari Sinau Basa lan Budaya. Permainan ini disusun sebagai keperluan pembelajaran bahasa dan budaya bagi anak usia sekolah dasar.

Jika dilihat visualnya, Sibaya nampak mirip dengan permainan ular tangga. Namun, dalam Sibaya, dimuat pertanyaan sebagai sarana anak-anak belajar bahasa dan kebudayaan Jawa dengan mudah serta menyenangkan.

Lewat keterangan resminya, Plt. Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM, Dr. Sri Ratna Saktimulya, M.Hum., mengatakan pembuatan permainan edukasi Sibaya dilatarbelakangi pentingnya penanaman karakter dan budi pekerti pada anak melalui pembelajaran kebudayaan. Pasalnya, banyak anak-anak yang sudah mengabaikan pembelajaran kebudayaan, khususnya Jawa. Selain itu, kebudayaan dinilai sebagai hal yang mulai terlupakan oleh anak-anak.

Permainan edukasi Sibaya menggunakan bahasa Jawa, serta ada kurang lebih 100 kartu pertanyaan berisi penguasaan bahasa, tingkat tutur, kesusastraan, kesenian, serta adat sopan santun. Selain itu, ada pula buku panduan bermain dalam tiga bahasa yaitu Jawa, Indonesia, dan Inggris. Dengan demikian, orang tua atau tenaga pendidik tidak perlu bingung karena dapat memandu anak-anak dalam bermain.

Tak sekadar alat peraga edukasi, Sri Ratna juga memaparkan dasar pembelajaran Sibaya mengandung pembelajaran dalam perkembangan karakter anak yang sudah dicetuskan Ki Hajar Dewantara dalam konsepnya, yakni Tri-Nga. Konsep itu berisi nilai, masing-masing Ngerti, Ngrasakke, Nglakoni atau Mengetahui, Merasakan, dan Melakukan.

“Hal inilah yang berusaha kami angkat kembali mengingat bahwa nilai-nilai luhur dalam pembelajaran kebudayaan tetap relevan di setiap zaman,” paparnya.

Sejauh ini, sosialisasi permainan Sibaya sudah dilakukan Tim Pusat Studi Kebudayaan yang telah dilaksanakan di Desa Pandowoharjo, Kabupaten Sleman. Sambutan baik terlihat dari masyarakat setempat. Hal ini bisa dilihat dari keaktifan saat sosialisasi permainan ini.

Sementara itu, Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. berharap Sibaya dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat. Ia juga berpesan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dapat mengembalikan kepedulian generasi penerus bangsa untuk mempelajari bahasa dan budaya.

Halaman:

Editor: Oris Riswan Budiana

Tags

Terkini

X