Samsul Bahri, Anak Punk yang Berjuang Populerkan Angklung

- Sabtu, 23 Oktober 2021 | 15:25 WIB

Menjalani lebih dari satu pekerjaan berbeda tiap harinya bukanlah hal mudah. Selain melelahkan, dibutuhkan konsentrasi tinggi agar ritme kerja tak berantakan. Namun, kecintaannya pada angklung dan kewajibannya bertahan hidup membuat Samsul enteng langkah.

Waktu jadi pramusaji tuh di mana aja sih?
Banyak. Saya pindah-pindah. Tapi yang cukup lama sih waktu itu saya kerja di Dago Plaza. Yang di seberang Superindo itu loh.

Gimana cara Akang membuka jejaring ke dunia angklung dengan kerjaan yang juga tetap dijalani?
Saya kenal dekat dengan pelatih angklung waktu SMA. Dia itu internal di KABUMI, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia. Nah, saya diajak ke sana, kenalan dengan beberapa teman-teman di UPI. Di situ, walaupun bukan mahasiswa UPI, saya nekat aja membangun relasi.

Enggak capek apa, Kang?
Ya, abisnya saya senang. Hahaha.. Terus, saya juga aktif ikutan lomba-lomba atau festival angklung. Skalanya emang kecil sih, kota atau kabupaten lah. Di situ saya mulai ngajak-ngajak kenalan pegiat angklung lainnya, bikin kolaborasi.

Memilih bidang seni di tahun 2000-an tuh pilihan yang tepat enggak?
Enggak. Suram pisan aslina! Hahaha.. Saya enggak tau ya hari ini stigmanya gimana, cuma selepas SMA dulu, memilih berkesenian sebagai full time job itu PR banget! Makanya saya nyambi kerja.

Konsistensi dan kemampuannya menjalankan lebih dari satu kegiatan dalam sehari mengantarkannya pada perjalanan hidup yang seru. Ia membuktikan tanggung jawab atas pilihannya saat remaja.

-

Pelatih & Angklung Taman
Medio 2008, Samsul meninggalkan pekerjaan pramusaji resto dan mulai fokus mengajar angklung. Hal ini dilakukannya agar tak perlu repot membagi waktu. Relasi yang didapatkannya selama menyambi kerja dimanfaatkan dengan baik. Ini adalah fase awal Samsul secara penuh menggeluti bidang kesenian.

Pencinta musik punk yang pernah menjadi vokalis band punk pada masa remaja ini mengaku tidak punya wawasan musik luas saat memutuskan jadi pelatih angklung. Namun, semangat dan karakter rebel yang ada dalam musik punk dibawanya ke dalam kesenian angklung.

"Kalau ditanya musiknya kayak apa? Kadang semangat rebel itu yang aku bawa, jadi aku mau bikin musik seperti apa tuh ya mungkin lebih bebas dan mengalir aja," terangnya.

Halaman:

Editor: Oris Riswan Budiana

Tags

Terkini

X