Ritual Cinta dan Doa Bernama Ulambana

- Selasa, 24 Agustus 2021 | 08:30 WIB

"Jadi, semua itu kita undang, yang mati penasaran, mati bunuh diri, kecelakaan, bayinya digugurkan, dan lain-lain," jelas Bikhu Bhante.

Baca Ini Juga Yuk: Menyerap Makna Hidup dari 5 Persembahan Puja Hari Raya Waisak

-

Hadirkan Mainan hingga Perahu
Salah satu yang menarik perhatian kami adalah adanya persembahan berupa mainan anak-anak. Di antaranya bola warna-warni berukuran kecil, mobil mainan, balon, spidol, hingga botol susu.

Berbeda dengan persembahan lainnya yang disimpan di meja, persembahan ini disimpan di area bawah, tepatnya di lantai yang sudah diberi alas.

Bikhu Bhante memberi penjelasan soal persembahan tersebut. Umumnya, persembahan di sana memang dihidangkan untuk para leluhur yang 'diundang', termasuk anak-anak. Ruh anak-anak 'diundang' agar turut menikmati sesajian yang ada, termasuk mainan. Penempatannya pun sengaja di bawah agar memudahkan mereka menikmatinya.

"Iya, jadi itu (area persembahan yang ditempatkan di bawah) untuk mainan anak-anak. Jadi, anak kecil kan enggak bisa dia main ke atas, dia mainnya di bawah. Jadi, mainan dan segala macam (sengaja disimpan di bawah)," tuturnya.

Selain mainan anak-anak, ada bagian lain yang tak kalah menarik. Di sana terdapat semacam perahu yang terbuat dari kertas.

Menurut Bikhu Banthe, perahu kertas ini jadi bagian dari tradisi. Intinya, perahu itu akan dibakar menjelang akhir dari prosesi Ulambana.

Setelah perahu dibakar, arwah leluhur yang semula 'diundang' akan dipulangkan kembali. Mereka akan memakai perahu yang sudah dibakar itu. Setelah 'pulang', mereka diharapkan mendapatkan karma baik di kehidupan berikutnya.

Halaman:

Editor: Oris Riswan Budiana

Tags

Terkini

X