• Senin, 8 Agustus 2022

Mengenal Dokter Ning sang Pejuang COVID-19 Dua Dunia

- Rabu, 4 Agustus 2021 | 12:51 WIB

"Saya sempat kena bulan Juli 2020. Saya masih ingat, soalnya waktu itu ulang tahun saya, saya lagi isoman waktu itu," ujarnya.

Tak hanya sendirian, anggota keluarga yang ada di rumah juga terpapar. Namun, setelah melalui rangkaian pengobatan, Ning dan keluarganya akhirnya sembuh dan dinyatakan negatif.

Setelah ditelusuri, Ning mengaku ternyata tidak terpapar di rumah sakit tempatnya bekerja. Ia yakin tak terpapar di sana karena protokol kesehatan ketat selalu dijalankan saat bertugas. Ia justru terpapar dari klaster keluarga.

Saat masa penyembuhan, Ning mengatakan sempat mengalami penurunan saturasi cukup tajam. Ia bahkan sempat meminta rumah sakit tempatnya bekerja untuk menyiapkan ruang perawatan baginya. Namun, ia akhirnya tak jadi dirawat dan berujung sembuh.

"Saya sempat sudah pesen ke rumah sakit tempat saya kerja, saya minta ke dokter anestesti minta satu tempat (perawatan). Karena saturasi saya waktu itu turun terus, jadi saya istilahnya jaga-jaga minta ruangan. Tapi untungnya mentok di situ, enggak sampai turun lagi, sudah hampir 90 waktu itu," tuturnya.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita di Balik Topeng sang Badut Hendayana

Menjalani Peran Ganda
Sebagai dokter, Ning jelas bekerja di rumah sakit untuk menangani pasien COVID-19. Namun, di sisi lain, ia juga menjalankan peran sebagai edukator. Ia kerap mengedukasi publik melalui media sosial seputar COVID-19. Bisa dibilang, Ning menjalankan tugas sebagai dokter di dunia nyata dan dunia maya.

Ning sering membagikan informasi tentang COVID-19 sejak tahun lalu. Jumlah pengikutnya di media sosial pun terus bertambah banyak. Media sosial pun jadi sarana baginya untuk melawan hoaks yang begitu banyak bertebaran.

Aktivitas Ning di media sosial diakui bukan karena kesengajaan. Apalagi, ia mengaku bukan tipikal orang narsis atau gemar mengunggah sesuatu di media sosial. Namun, hasrat melawan hoaks di keluarganya jadi gerbang awal ia aktif di media sosial.

"Waktu itu titik tolaknya gara-gara di grup WA keluarga. Jadi di WA grup keluarga sudah banyak tuh yang namanya broadcast hoaks, itu banyak banget. Saya sempat ribut sama saudara-saudara yang menurut saya mereka tuh berpendidikan tinggi, tapi mereka ternyata mudah sekali percaya dengan hal itu," jelasnya.

Halaman:

Editor: Oris Riswan Budiana

Tags

Terkini

X