Ketemu Sama Mang Dian, ‘si Tiis Leungeun’ dari Setraria

- Minggu, 1 Agustus 2021 | 15:43 WIB

Menikmati hidup dengan berkebun, minum teh saban pagi, ngobrol dengan tanaman, boleh jadi itu adalah impian sebagian orang kota yang sudah penat dengan rutinitas. Puluhan tahun menjajal kerasnya jalanan, mengalami hidup di masa kelam, hingga akhirnya keluar dari fase tersebut dan bisa hidup tentram.

Semuanya nampak sudah dilalui paripurna oleh Dian Rusdyana. Pria yang lebih suka disebut Mang Dian ini sudah benar-benar paripurna dalam menyikapi hidup; bukan sebatas keracunan musik pop akustik kekinian yang menawarkan utopia hidup lambat alias slow living. Perangainya penuh tawa, gemar bercerita, dan gemar berbagi.

Sepintas, guratan pada keningnya bikin kita agak was-was. Jangan-jangan, kita sedang mewawancarai preman lokal. Namun, perasaan itu buyar dalam hitungan detik.

“Tah, ieu nya!” sapanya dengan akrab. Suasana pun langsung cair seketika.

Saat ini, Mang Dian sedang sibuk mengurusi Urban Organik Farm, letaknya di daerah Setraria, Bandung. Di sana, ada aksi baik bernama Sedekah Benih yang dijalankannya.

Aksi baik ini berfokus pada kegiatan sedekah dan berbagi benih tanaman kepada penerima manfaat. Kendati belum bisa disebut kegiatan besar, kampanye sedekah benih ini setidaknya sudah melibatkan 150 penerima manfaat dengan tujuan atau gol menghidupkan kebiasaan baik urban farming atau berkebun di tengah kota.

Tahun 2011 adalah awal ketertarikannya dengan isu lingkungan. Selain berkebun, Mang Dian juga aktif bersama Komunitas Cikapundung. Ia banyak menggalakan aksi lingkungan seperti membersihkan sampah di sungai.

-


Sudah 10 tahun dong mang aktif sama lingkungan?

Iya. Tepatnya sih 2011 saya mulai tertarik sama kegiatan berkebun ini.

Boleh cerita enggak kegiatan Mang Dian sebelum akhirnya fokus bercocok tanam?
Kegiatan saya dulu di jalanan. Hahaha. Di BIP, tepatnya Jalan Merdeka. Dulu itu saya jualan aksesoris. Banyak lah kayak gelang-gelangan, kalung, usaha kreativitas gitu sih. Lalu sempet juga mengirim barang ke Jakarta.

Menjalani itu dari kapan? Dan berhenti totalnya kapan?
Wah, saya lupa detailnya kapan. Tapi saya inget, saya kembali dari Jakarta tahun 2013. Waktu itu kita kebanting sama produk-produk luar sih, kan ada perdagangan bebas tuh, ya jadi dampaknya usaha-usaha kecil akhirnya kena deh. Kita kena imbasnya, bisa dibilang pada waktu itu krisis juga sih saya. Lagi krismon-krismonnya deh. Setibanya di Bandung, saya gabung sama Komunitas Cikapundung.

Di sana, kegiatannya gimana?
Di Komunitas Cikapundung itu sih saya banyaknya ngasih edukasi aja terkait lingkungan, bagaimana mengelola tanaman, yang gitu-gitu deh. Terus juga kan Pemerintah waktu itu bikin beberapa program kayak urban farming, terus ada namanya Bandung Berkebun.

Pertemuannya dengan Komunitas Cikapundung seolah menjadi embrio bagi ide-ide cemerlangnya terkait lingkungan. Dua tahun setelah aktif di komunitas, Dian mengembangkan ide Sedekah Bibit. Ia menyulap atap kantor kelurahan di tempat tinggalnya menjadi kebun.

Dua tahun menjalani rutinitas ini, barulah ia pindah ke wilayah Setraria. Di atas lahan seluas 400 meter persegi, Dian menyemai harap dengan menanam aneka sayuran, yang mana benihnya ia sedekahkan.

Pada 2017 itu pula, ia kemudian membentuk Sedekah Benih. Seiring berjalannya waktu, Sedekah Benih mendapat perhatian besar, salah satunya dari kalangan seniman. Ada nama Vincent Rumahloine, Amenkcoy, hingga Angkuy, personel Bottlesmoker, yang disebut cukup intens berkomunikasi dengan Mang Dian.

“Pada akhirnya, Sedekah Benih mah dapet apresiasi gede dari temen-temen seniman. Ini mah akhirnya tuh kayak kampanye lingkungan lewat seni gitu,” ungkapnya.

-


Penyembuhan dengan Tanaman
Ada sisi gelap dari diri Mang Dian sebelum tumbuh menjadi pencinta lingkungan. Ya, pada masanya, pria dengan perawakan kurus ini merupakan pecandu narkoba. Mengenang masa kelam itu, tamparan keras seperti mendarat di wajahnya. Bagaimana tidak? Selain merusak tubuhnya, ketergantungan itu sempat membuatnya kesulitan secara ekonomi.

Segala jenis zat terlarang sempat masuk ke tubuhnya. Bahkan, ia pernah mengisahkan satu hari di mana ia berjualan di tengah hari dalam kondisi kesadaran di bawah pengaruh obat terlarang itu.

“Wah, kalau bisa dibilang sih hancur dulu mah. Jam 1 siang, panas lagi ngabelentrang, nge-sut dulu. Kacau,” kenangnya.

Pertemuannya dengan tanaman bukan sekadar berbicara teknis berkebun saja, akan tetapi juga menjadi salah satu jalannya menemukan distraksi hingga sanggup berhenti total menggunakan narkoba. Ia juga merasa tubuhnya kini jauh lebih sehat dan bugar.

Walau secara penghasilan, profesinya sebagai pengusaha kreatif di masa lalu bisa dibilang lebih besar, namun Mang Dian mengaku profesinya bercocok tanam kali ini jauh lebih nikmat. Menurutnya, ada kepuasan tersendiri saat dirinya berinteraksi dengan tanaman.

-


Kepuasan kayak apa sih, Mang?
Yang saya rasakan sih, ini yang saya rasakan untuk meredam, bahkan menghilangkan sugesti untuk enggak memakai ini adalah dengan melakukan hal lain, termasuk tanaman ini. Dan sepengalaman saya berhenti memakai sih, sugesti saya teralihkan saat saya sering main tanaman ini.

Keren banget!
Ini konsepnya olah air, olah tanah, olah rasa dan olah jiwa. Saya yakin sih banyak orang bisa sembuh dengan terapi tanaman ini.

Ini bisa dicoba ya oleh semua orang, yang mungkin punya ketergantungan sama hal lain, enggak melulu narkoba…
Bisa. Balik lagi ke awal: kecanduan itu karena kita enggak bisa meredam sugesti itu tadi. Perlu dialihin lah si fokusnya itu, biar enggak kalah sama sugesti.

Proses komunikasi seperti apa sih yang Mang Dian lakukan dengan tanaman?
Saya ajak ngobrol mereka. Tiap saya siram, saya omongin: “Sok, sing subur nya. Sing manfaat,” begitu. Saya juga biasanya ngobrol dengan hama yang tumbuh di sekitar tanaman saya. Saya bilang: “Sok. Da urang mah apal, maneh teu sarakah. Dahar saperluna, ulah ngaganggu nutrisi pokok di tanaman ieu, nya,” setelah itu saya siram. Memperlakukan tanaman dengan penuh cinta ini kerasa nanti saat panen.

Catatan penting nih buat kamu yang merasa kecanduan sama satu hal yang mulai mengganggumu. Kecanduan main gim misalnya. Nah, kalau memang kamu ada niat menghentikannya, cara Mang Dian bercocok tanam ini bisa kamu tiru.

Sudah kepikiran mau bercocok tanam apa, TemanBaik?

-


Menyemai Harap di Lahan Kecil
Saat ini, menyemai harap di lahan kecil adalah kalimat yang tepat untuk aksi baik yang dijalankan Mang Dian. Bukan apa-apa, gaya hidup sebagian besar manusia di kota besar perlahan membuat filosofi nenek moyang kita luntur.

“Saya yakin filosofi nenek moyang kita itu penanam, bukan pelaut aja,” ujar Dian sembari tertawa.

Ia juga merasa senang karena dukungan dari keluarga yang begitu besar terhadap kegiatannya sehari-hari. Di sisi lain, Mang Dian kadang sadar jika dirinya terlalu gemar berkebun.

Sebagai informasi, Mang Dian memiliki dua putra. Istrinya bekerja sebagai guru. Nah, ia juga meminta kepada istrinya untuk menggalakan kegiatan bercocok tanam di lingkungan sekolah. Tujuannya, agar banyak orang yang mengikuti aksi baik ini.

Ditanya mengenai jenis tanaman, pada dasarnya ia menyarankan tanaman yang cocok dikonsumsi sehari-hari saja. Di kebunnya, Mang Dian bercocok tanam pakcoy, selada, sosin, cabai, dan aneka sayuran sederhana.

Menggalakan kegiatan berkebun di rumah, menurut Dian, bukan sebatas untuk konten media sosial semata, namun manfaat langsungnya bisa dirasakan saat kita mengonsumsinya. Ia mencontohkan saat momentum harga cabai sempat melonjak hingga Rp200 ribu per kilogram. Kebiasaan urban farming bisa menekan angka tersebut.

Selain itu, kebiasaan baik ini juga bisa menjadi lahan bersedakah bagi kita. Jika jumlahnya cukup untuk kebutuhan satu keluarga, maka minimalnya ketahanan pangan satu keluarga sudah terpenuhi. Jika jumlahnya berlebih, maka kita bisa menyedekahkannya pada orang terdekat.

-


Enggak akan mubazir lah ya, Mang?
Moal (enggak). Enggak akan terbuang. Kalau berlebih, bisa jadi ajang sedekah. Saya tuh kepengin satu rumah, satu kebun. Walau di lahan yang sempit.

Apa yang Mang Dian harapkan dari kegiatan ini?
Saya berharap virus-virus ini (bercocok tanam), ini harus disebarkan yah. Saya juga minta istri untuk nyebarin ini. Dia kan guru, seenggaknya bisa ngajak ke murid-muridnya dulu deh.

Buat temen-temen yang kepengin memulai bercocok tanam di rumah, apa sih hal pertama yang mesti dilakuin. Kadang kan kita mah niat udah ada, tapi suka keganjal sama rasa malas gitu ya misalnya, Mang?
Silaturahmi. Hahahaha. Silaturahmi sama orang yang lebih dulu bercocok tanam. Karena dari situ pasti ada dorongan lebih kuat.

Sebagai informasi, Mang Dian banyak berada di kebun saban harinya. Dan ia sangat terbuka jika kamu mau bersilaturahmi, berbagi info soal tanaman, apalagi kalau kamu mau belajar bercocok tanam. Ia juga mengajak kamu untuk berkenalan, dengan berteman di Instagramnya @mang_dian_777. Ia sangat terbuka untuk ngobrol dan berbagi cerita.

TemanBaik, untuk melanggengkan sebuah aksi baik, ada kalanya kita enggak perlu berpikir hal-hal besar. Hal kecil semudah bercocok tanam di teras rumah, bisa jadi kebaikan yang nikmatnya bisa kita rasakan terus menerus. Panjang umur aksi baik dan segala kebaikan yang ada di bumi. Selamat berakhir pekan ya!



Foto: Djuli Pamungkas/Beritabaik.id
Layout: Agam Rachmawan/Beritabaik.id


Halaman:

Editor: Avitia Nurmatari

Tags

Terkini

X