• Sabtu, 13 Agustus 2022

Cerita Menggugah Hati dari Makan Siang Gratis di Kedai Kopi

- Senin, 26 Juli 2021 | 09:20 WIB

"Sampai ada yang bilang saya cuma bisa kasih Rp50 ribu, karena dia masih sekolah, gitu. Eh enggak apa-apa saya bilang," ucapnya.

Ada juga seorang temannya yang berstatus mahasiswa di Australia. Ia rela mengorbankan uang makannya selama sepekan untuk berdonasi agar bagi-bagi makan siang ini terus berjalan.

"Dia kirim uang (ke) saya (dia) bilang 'Yu, ini kalau gua di sini (Australia) bisa buat makan seminggu, jadi mudah-mudahan ini bermanfaat buat kamu'. Dia ngirim Rp1 juta, terus saya bilang eh kalau Rp1 juta mah saya bisa buat tiga kali makan 40 orang," tutur Ayu.

Berkaca dari hal itu, ia mengambil kesimpulan jika setiap orang sebenarnya bisa berbuat baik dan membantu orang lain. Setiap orang bisa melakukan sesuatu sesuai dengan kadar kemampuannya.

"Saya berpikir orang-orang yang ngasih (donasi) juga bukan mampu banget gitu, orang-orang yang sebenarnya juga struggling dalam hidupnya," cetusnya.

Ia pun berharap gerakan saling bantu ini semakin banyak dilakukan orang. Sehingga, akan semakin banyak orang terdampak yang berkurang bebannya. Langkah ini jauh lebih baik dilakukan ketimbang sekadar ngomel atau protes tanpa aksi.

"Kita kan sekarang akhirnya bertahan (di tengah pandemi) dengan cara kita masing-masing. Jadi, daripada egois, marah-marah, ngomentarin orang, kan capek. Energinya mendingan gimana caranya kita bisa bahu-membahu dengan cara-cara sederhana," ujarnya.

"Jadi kita bisa melakukan apapun hal baik, sekecil apapun. Jadi enggak usah berpikir pemerintah tidak melakukan apa-apa buat kita, tapi itunya dipinggirin dulu aja, fokus sama kebaikan, itu aja," pungkas Ayu.


Foto: Oris Riswan/Beritabaik.id

Halaman:

Editor: Avitia Nurmatari

Tags

Terkini

X