• Sabtu, 26 November 2022

Kenalan dengan Acep Yunus, Disabilitas yang Viral Jual Camilan

- Rabu, 4 Maret 2020 | 14:30 WIB

TemanBaik, di media sosial beberapa waktu lalu viral sosok pria disabilitas daksa. Tubuhnya hanya (maaf) setengah, yaitu hanya sampai sekitar area pinggang sedikit ke bawah. Tapi, di balik kondisi fisiknya, sosok pria ini punya semangat hidup yang luar biasa.

Dalam video itu, terlihat ia berjalan dengan mengandalkan kedua tangan. Tangan itu seolah dijadikan kakinya untuk berjalan. Ia membawa boks berisi aneka camilan. Boks itu ditempatkan di belakang dengan cara diikat menggunakan tali ke tubuhnya. Sehingga, boks itu seolah melaju mengikuti ke mana pun ia berjalan.

BeritaBaik.id pun berkesempatan bertemu dengan sosok pria tersebut. Dengan ramah, ia menyambut ajakan untuk bertemu di kawasan Burangrang, Kota Bandung, Rabu (4/3/2020). Ia datang dengan menggunakan ojek online. Begitu tiba, turun sendiri dari sepeda motor tanpa dibantu. Ia bahkan mengatakan tak perlu dibantu karena bisa melakukannya sendiri.

Dalam perbincangan santai, ia memperkenalkan diri. Ia bernama Acep Yunus (25), anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ia berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Kondisi fisiknya sekarang sudah dialam sejak ia lahir.

"Saya sehari-hari jualan keripik, kacang, camilan. Saya jualannya keliling dari 2016," ujar Acep.

Sehari-hari, ia tinggal di Tasikmalaya. Tapi, untuk tempatnya berjualan, ia merambah ke banyak daerah. Selain di Tasikmalaya, ia berjualan ke Pangandaran, Ciamis, Banjar, hingga Bandung. Ia biasa menggunakan sepeda motor. Tapi, jika di Bandung, ia berjalan dengan berjalan menggunakan tangan.

Ia terinspirasi berjualan camilan setelah melihat tayangan di salah satu televisi swasta beberapa tahun lalu. Saat itu, bintang tamunya seorang disabilitas yang sukses berjualan keripik. Dengan modal Rp50 ribu, ia mantap berjualan keripik singkong.

"Akhirnya saya beranikan diri membeli singkong mentah, saya kupas sendiri, goreng sendiri. Dijualin waktu itu Rp1.000 satu bungkus. Saya mangkal di depan warung nasi di depan Masjid Agung (Tasikmalaya)," ucapnya.

Keripik singkong buatannya pun laku. Dari situ, semangatnya berusaha semakin besar. Seiring perjalanan, ia memutuskan untuk membeli keripik singkong yang sudah jadi untuk dikemas ulang dan dijual. Hal itu untuk memudahkannya berjualan.

Ia awalnya berjualan dengan menempatkan barang dagangannya di dalam boks plastik. Seiring berjalannya waktu, ia kemudian bisa membeli sepeda motor untuk menunjang usahanya, termasuk menambah aneka camilan lainnya. Tapi, khusus jika ke Bandung, ia berjualan dengan cara seperti dulu, yaitu berjalan dengan tangan. Sedangkan boks berisi aneka camilan ia tempatkan di belakang.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Puja Purnama, Menata Suara dan Penghidupan

Pantang Mengemis dan Dikasihani
Terlahir sebagai disabilitas, ada sikap tegas yang dimiliki sosok Acep. Ia jadi orang yang pantang mengemis dan dikasihani. Baginya, menjadi disabilitas bukan alasan untuk dikasihani, apalagi menjadi pengemis. Disabilitas menurutnya bisa menjadi apapun, sama seperti orang lain pada umumnya.

"Saya paling enggak suka kalau ada yang iba. Kalau lagi di jalan ada yang ngasih uang, saya enggak suka. Kalau ada yang seperti itu, saya selalu bilang, mohon maaf, saya bukan pengemis, saya tidak ingin dikasihani, tidak ingin diberi," ujar Acep.

Ia lebih suka orang membeli barang dagangannya ketimbang memberi uang dengan cuma-cuma. Kalaupun ada kelebihan uang yang diikhlaskan pembeli, ia akan menerimanya dan menganggap sebagai rezeki. Tapi, jika hanya diberi uang, dipastikan Acep akan menolaknya.

"Saya enggak pernah berpikir ingin dipuji orang. Dengan keterbatasan fisik begini, bukan berarti saya berharap dikasih sesuatu dari orang lain. Mohon maaf, saya orangnya pantang ngemis," tutur Acep.

Ketimbang diberi sesuatu, Acep justru lebih senang memberi. Meski bukan dalam bentuk uang, ia akan selalu berusaha memberi sesuatu kepada orang lain. Salah satunya adalah memberikan motivasi kepada sesama disabilitas dan masyarakat pada umumnya.

Media sosial pun dijadikannya sebagai sarana untuk berbagi semangat. Ia kerap menulis kalimat-kalimat penyemangat agar orang lain bersyukur atas nikmat hidup yang diberikan Allah SWT. Jika TemanBaik penasaran dengan motivasi ala Acep, salah satunya kamu bisa melihat di akun Instagram @acepyunus95_real.

Sikap pantang menyerah dan tak mau dikasihani ala Acep sudah ada sejak lama. Sebelum berjualan keripik dan camilan, ia pernah menjalankan beberapa usaha, mulai dari berjualanan mainan hingga jualan pulsa. Tapi, sejak beberapa tahun terakhir ia mantap berjalan camilan dengan harga Rp10 ribu per bungkusnya.

Salah satu yang menarik dari bisnis Acep adalah dagangannya yang sering habis dalam hitungan jam. Meski begitu, ia mengakui ada pasang-surut dalam berjualan alias tak selalu ludes. Uniknya, khusus ketika berjualan di Bandung, waktu jualannya jauh lebih singkat daripada perjalanan Tasikmalaya-Bandung.

Perjalanan dari Tasikmalaya ke Bandung sendiri biasanya rata-rata ditempuh sekitar 5 jam menggunakan bus. Setelah tiba di Terminal Cicaheum, ia biasanya mulai berjualan dan berjalan hingga Alun-alun Bandung. Tapi, sebelum sampai ke Alun-alun Bandung, biasanya barang dagangannya laris manis kurang dari 5 jam.

Tiga Mimpi Besar Acep
Manusia tak boleh berhenti bermimpi. Tapi, manusia juga tak boleh berhenti berusaha. Hal itu membuat Acep begitu semangat menjalani kehidupannya. Apalagi, saat ini ia punya tiga mimpi besar. Ia ingin membahagiakan orang tua dan memberangkatkan umrah, sukses dalam berbisnis, dan menikah.

Ia kini berusaha keras agar bisa membahagiakan orang tua. Sedangkan untuk usahanya, ia berharap bisa memiliki toko di Tasikmalaya. Jika keinginannya memiliki toko terwujud, menariknya Acep akan tetap seperti sekarang. Ia ingin terus berjualan secara berkeliling dari satu daerah ke daerah lain.

Sebab, ia mengaku lebih senang berada di luar. Sehingga, ia bisa berinteraksi dengan banyak orang hingga memberi motivasi dan inspirasi positif. "Jadi, saya tidak akan menghapus kegiatan saya yang sekarang walaupun nanti punya toko," ungkapnya.

Terakhir, ia ingin menikah. Setelah menjalani beberapa lika-liku dunia percintaan, Acep kini menemukan tambatan hati. Bahkan, orang tua sang calon istri merestui hubungan anaknya dengan Acep.

"Insya Allah Agustus tahun ini menikah, calon istri saya orang Batujajar (Kabupaten Bandung Barat). Dia disabilitas daksa ringan. Tapi, mau bagaimanapun kondisnya, yang penting buat saya itu 3S, saling mengerti, saling perhatian, saling menyayangi," tutur Acep.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Editor: Irfan Nasution

Tags

Terkini

X