• Kamis, 8 Desember 2022

Kisah Owner Chocodot, dari Tak Dipercaya hingga Beromzet Miliaran

- Senin, 28 Oktober 2019 | 16:00 WIB

TemanBaik ada yang tahu dengan produk Chocodot alias Chocolate with Dodol Garut? Sesuai namanya, produk ini dihasilkan di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Di Garut, produk Chocodot seolah sudah jadi ikon baru di bidang kuliner loh. Bahkan, wisatawan yang datang ke Garut enggak lengkap rasanya jika pulang tak membawa oleh-oleh Chocodot.

Tapi, yang akan dibahas kali ini adalah Kiki Gumelar. Pria asli Garut ini merupakan Owner PT. Tama Cokelat Indonesia. Perjalanannya dalam berbisnis bisa jadi inspirasi bagi siapa saja. Yuk, simak kisah selengkapnya!

Kiki mengaku tak punya darah pebisnis dari orang tuanya. Sebab, ayahnya adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Alhasil, ia meraba-raba sendiri bagaimana caranya berbisnis tanpa bakat turunan dari orang tua.

"Saya berjuang benar-benar dari nol membangun usaha ini," kata Kiki saat ditemui usai menghadiri Youth Innovation Summit 2019 di SPOrT Jabar, Arcamanik, Kota Bandung, Senin (28/10/2019).

Tapi, bukan perkara mudah membangun usahanya. Ia memulainya hanya dengan satu karyawan, yaitu dirinya sendiri. Secara perlahan, ia akhirnya bisa mengontrak tempat untuk dijadikan tempat menjual produknya.

Singkat cerita, usaha yang dirintisnya sejak sekitar 9 tahun lalu itu berkembang. Kini, perusahaan yang dikelola Kiki bisa memiliki omzet miliaran. "Saya sekarang PKP, Pengusaha Kena Pajak. Jadi, omzetnya sudah di atas Rp4,5 miliar per tahun," ungkapnya.

Tapi, jangan membayangkan Kiki meraih kesuksesan bisnisnya dengan mudah loh TemanBaik. Ia mengalami banyak lika-liku dalam berbisnis. Bahkan, di awal-awal ia membangun usaha, ia kesulitan mendapatkan modal. Pengajuan pinjaman modal ke bank pun berkali-kali ditolak karena ia tak dipercaya sebagai pengusaha baru.

"Banyak bank yang enggak yakin dengan apa yang saya mulai karena saya (awalnya) bukan pengusaha. Tiga bulan saya usaha, enggak ada bank yang mau pinjamin uang (untuk modal)," tuturnya.

Tapi, pinjaman akhirnya datang dari bank jabar banten (bjb). Jumlah pinjaman pun terus naik untuk pengembangan usahanya, dari mulai Rp100 juta, Rp400 juta, Rp2,5 miliar, dan terus meningkat hingga kini. Ia pun berusaha mengelola uang pinjaman dari bank dengan baik. Hasilnya pun bisa dirasakan.

Halaman:

Editor: Nita Hidayati

Tags

Terkini

X