• Minggu, 25 September 2022

I-Nose C-19, Pendeteksi Virus Korona Lewat Bau Keringat

- Senin, 18 Januari 2021 | 09:15 WIB

Inovasi kembali datang dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka mengembangkan inovasi alat pendeteksi COVID-19 melalui bau keringat ketiak yang dinamakan 'i-nose c-19'.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Guru Besar ITS Prof. Drs. Ec. Ir. Riyanarto Sarno MSc, PhD. Jadi, i-nose c-19 merupakan alat pendeteksi virus korona pertama di dunia yang mendeteksi melalui bau keringat ketiak (axillary sweat odor). Cara kerja i-nose c-19 adalah dengan mengambil sampel dari bau keringat ketiak seseorang dan memprosesnya menggunakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. 

Tim pengembangan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan ini dipimpin langsung oleh guru besar dari Departemen Teknik Informatika ITS. Selain itu, penelitian juga melibatkan mahasiswanya dari jenjang magister dan doktoral.

"Keringat ketiak adalah non-infectious, yang berarti limbah maupun udara buangan i-nose c-19 tidak mengandung virus COVID-19," ungkapnya.

Selanjutnya, Ryan menyebut kalau alat ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan teknologi pendeteksi virus korona lainnya. Sampling dan proses berada dalam satu alat, sehingga seseorang dapat langsung melihat hasil pemindaian pada i-nose c-19. Hal ini tentunya menjamin proses yang lebih cepat. Selain itu juga ada fitur near-field communication (NFC), sehingga pengisian data cukup dengan menempelkan e-KTP pada alat deteksi cepat ini.

-


Baca Ini Juga Yuk: Begini Cara BMKG Memprediksi Cuaca

Lebih jauh lagi, Ryan memaparkan bahwa data dalam i-nose c-19 terjamin handal karena penyimpanannya pada alat maupun cloud. Penggunaan cloud computing mendukung i-nose c-19 dapat terintegrasi dengan publik, pasien, dokter, rumah sakit maupun laboratorium.  Dari segi biaya, alat ini juga tergolong murah karena menggunakan komponen teknologi yang murah. Selain murah, teknologi i-nose c-19 juga tidak membutuhkan keahlian khusus dalam implementasinya.

"Scanner ini dapat dilakukan oleh semua orang dengan perangkat pengaman yang lebih sederhana yakni hanya sarung tangan dan masker sebagai perlindungan dasar," ujar Ryan.

Penelitian ini sebetulnya sudah berjalan sejak empat tahun lalu. Namun, perkembangannya kemudian disesuaikan dengan kehadiran virus korona yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 silam. Saat ini, i-nose c-19 telah sampai pada fase satu uji klinis. Ryan berharap i-nose c-19 ini dapat segera dikomersialkan dalam waktu maksimal tiga bulan ke depan.

"Melihat semakin meningkatnya penyebaran virus Covid-19 ini dunia membutuhkan banyak teknologi screening yang mudah dan cepat diimplementasikan," pungkasnya.

Dapat Apresiasi dari Wagub
Terobosan dari ITS ini kemudian mendapat apresiasi dari Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak. Emil menyebut, penemuan ITS tersebut merupakan terobosan baru, di tengah munculnya penemuan pendeteksi COVID-19 berbasis cahaya dan suara.

Halaman:

Editor: Irfan Nasution

Tags

Terkini

6 Cara Menghapus Jejak di Dunia Digital

Rabu, 1 Juni 2022 | 13:12 WIB
X