Cerita Amri, dari Jurnalis Foto hingga Jadi Petani

Cicalengka - Kegiatan bertani jadi pilihan seru yang bisa dijajal kaum muda. Ini dibuktikan mantan jurnalis foto Amri Rachman Dzulfikri. Bagaimana sih keseruannya menjalankan peran petani muda?

Menariknya, sebelum terjun menggeluti pertanian, Amri merupakan jurnalis foto. Kegiatan memotret bahkan sudah dilakoninya sejak kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Awalnya, ia menekuni fotografi pernikahan.

Usai lulus dari UIN, ia sempat menjajal profesi jurnalis foto di salah satu surat kabar di Bandung. Namun, perjalanannya bersama surat kabar tersebut relatif singkat. Masuk pada 2015, dua tahun setelahnya ia tertarik dengan bidang pertanian.

"Sebetulnya mah (awal jadi petani) karena lagi apply kerjaan di tempat baru. Cuma, saat itu karena belum ada panggilan, saya mengisi waktu dengan menanam jagung," ujar Amri di ladangnya, Desa Babakan Peuteuy, Kampung Cikopo, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Siapa sangka, kegiatan yang awalnya dilakukan untuk mengisi waktu, justru kini jadi profesi utamanya. Namun di sisi lain, pria 31 tahun ini mengaku sudah tertarik bidang pertanian sejak remaja. Ia pernah mendaftar ke Fakultas Pertanian di Universita Padjadjaran (Unpad). Sayangnya, ia tak diterima di jurusan tersebut dan akhirnya menekuni fotografi jurnalistik terlebih dulu.

Memasuki 2021 merupakan tahun ketiga Amri menekuni profesi ini. Ya, setelah melewati berbagai proses adaptasi di tahun pertama, kini ia begitu menikmati profesi ini. Bahkan, ia tak menyesali keputusannya beralih dari orang kantoran menjadi petani.

Penyesuaian Waktu dan Relasi
Kendati singkat, pengalamannya berkantor banyak memengaruhi gaya Amri dalam mengelola lahan kolektif seluas 300 tumbak (sekitar 4.000 meter persegi) dan hidroponik sebanyak 300 lubang tanam. Layaknya berkantor, ia membuat jadwal harian dalam bertani. Berbagai adaptasi ia lakoni hingga akhirnya bertemu dengan pola kerja yang cocok.

"Sebetulnya kalau zaman ngantor itu enaknya ya gajian tiap bulan. Tapi enggak enaknya, kita enggak tenang kalau mau istirahat. Misalnya beres kerja jam 5 sore, malam itu (apalagi kalau jadwal piket) mau tidur enggak tenang. Kalau bertani mah, jam 9 malam juga udah ngantuk, pagi-pagi udah seger," bebernya.

Saban pagi, ia sudah terjun ke lahan dan menyiram sayuran. Saat ini, Amri fokus bercocok tanam dua komoditas sayur, yakni selada dan kangkung. Pukul enam hingga sembilan pagi adalah waktu tersibuknya karena disebut sebagai waktu terbaik merawat tanaman.

Baca Ini Juga Yuk: Abah Ukan, Sosok Berjasa di Balik Sayuran yang Kita Konsumsi

Profesi baru yang dipilihnya ini membuat Amri banyak melakukan adaptasi. Misalnya, ia membuka jejaring baru di bidang pertanian dan mempelajari komoditas tani yang bisa dijualnya.

Salah satu upaya yang dilakukan Amri adalah mengikuti program Gerakan Pemuda Tani Indonesia (GEMPITA) yang pernah digaungkan Kementerian Pertanian. Dari program ini, ia mendapat banyak jejaring dan memperluas eksplorasinya di bidang pertanian.

Di sisi lain, sebagai seorang jurnalis foto, jalan-jalan atau traveling merupakan kegemaran utama Amri. Area peliputan di Bandung Raya telah habis dilumatnya. Sebetulnya, Amri masih ingin mengeksplorasi hobi jalan-jalannya dan sempat khawatir akan kehilangan banyak waktu jalan-jalan saat banting setir jadi petani.

Rupanya hal itu keliru. Ia malah terbang ke Makassar pada awal 2020. Bahkan, ia menghabiskan masa-masa awal pembatasan wilayah akibat pandemi virus korona di Makassar. Perjalanannya ke Makassar tentu bukan demi keperluan jurnalistik, melainkan untuk menanam bawang merah dari biji.

Program penanaman bawang merah dari biji ini memang belum sepopuler dibanding menanam dari umbi. Amri menyebut, menanam bawang dari biji memiliki tingkat kerumitan lebih tinggi sehingga tidak terlalu populer. Kendati begitu, hasil panen bawang dari biji disebut lebih bagus kualitasnya. Nah, di Makassar, ia menguji coba metode penanaman tersebut.

"Relasinya sih dari program GEMPITA yang pernah saya ikuti. Jadi, ya itulah kelebihan membangun jejaring," terang Amri.

Usai perjalanan dari Makassar, ia kembali fokus menggarap lahan di belakang rumahnya. Ia menyebut di sinilah kekuatan relasi dalam dunia pertanian. Dengan aktif merawat jaringan di media sosial dan aktif ikut organisasi pertanian, ia tetap bisa jalan-jalan tanpa meninggalkan pekerjaan.

Lebih dalam lagi mengenai rutinitasnya dengan tanaman, ia menjelaskan kedekatan dirinya bareng tumbuhan yang dirawatnya sebagai suatu keniscayaan. Ia tak membayangkan sebelumnya keterkaitan yang tak kasat mata ini bakal muncul dalam dirinya. Karena keterkaitan itulah, Amri makin mantap memilih profesi ini dan meninggalkan kegiatan yang mengharuskannya bepergian.

"Saya bukan petani yang puitis. Ya, bagi saya sih, perlakuan terhadap tanaman itu lebih 'dapet' sih. Percuma juga tanaman diajak ngobrol kalau enggak disiram," terangnya sembari tertawa.

Ia juga mengaku masih menjalankan kegiatan fotografi. Kamera beserta lensa pun masih dijaga. Hanya saja, kegiatan fotografi hanya dilakukan sebatas hobi saat waktu senggang.

"Motret masih, kok. Ya, cuma sekarang kan kebutuhannya untuk hobi. Terus di sisi lain pas udah bisa membaca situasi (kerja sebagai petani), eh, job-nya enggak ada," sambungnya.

Baca Ini Juga Yuk: Ratnauli Gultom, Petani Tangguh dari Silimalombu

Asyik Jadi Petani Muda
Di tahun ketiganya, Amri begitu menikmati profesi sebagai petani. Ia merasa bercocok tanam lebih menyenangkan ketimbang fase saat dirinya bekerja kantoran.

Menurutnya, medan yang harus dikuasai petani antara lain lahan, modal, dan akses pasar. Ketiga hal ini harus benar-benar dirawat dan dikembangkan. Di sisi lain, dukungan besar pemerintah terhadap perkembangan petani muda disebutnya sebagai angin segar bagi kamu yang mulai tertarik beralih ke bidang pertanian.

"Jadi, ada petani pemula yang dia semangat menanam nih di awal. Tapi begitu panen, nah, dia enggak tau mau dikemanain (hasil panennya). Maka dari itu, penting banget nguasain akses pasar," terangnya.

Lebih lanjut, ia mengkau lebih nyaman jika petani menggarap lahan dalam format grup. Katakanlah ada dua orang yang menggarap lahan tersebut. Sehingga, dua orang itu bisa membagi tugas agar fokus menggarap lahan dan akses pasar.

Saat ditanya penghasilan, ia membocorkan pada dasarnya penghasilan petani ditentukan kuantitas produk yang dihasilkannya. Ini tentu berbeda dengan anak kantoran yang sudah memiliki penghasilan lebih pasti.

Buat yang mulai tertarik menggeluti bidang pertanian, ia menyarankan kamu punya komitmen tinggi dan konsistensi menjalankan profesi ini. Selain itu, kamu juga perlu memperluas relasi, karena relasi ini bakal memudahkan kamu menjual komoditas tani.

"Tapi kalau bicara realistis sih memang harus punya modal dulu buat lahan," sambungnya.

Sebagai pamungkas, ia berharap makin banyak anak muda menjajal bidang pertanian. Dengan begitu, ekosistem dan jejaring pertanian menjadi semakin dekat.

"Hal-hal yang tadinya sulit diakses (seperti distribusi pasar) juga jadi mudah kalau banyak yang terjun jadi pelaku," pungkasnya.


Foto: Djuli Pamungkas/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler