Cerita Nova Adriyanti, Pebisnis yang Kecanduan Berbagi

Bandung - Kenalin nih TemanBaik kita. Namanya Nova Adriyanti. Dia adalah Ketua Yayasan Menjadi Indonesia Pintar yang juga aktif dalam berbagi kegiatan sosial.

Saat ngobrol bersama kami, Nova mengaku kecanduan berbagi pada sesama. Kok bisa ya? Satu jam kami habiskan untuk ngobrol banyak hal ,mulai dari masa remaja Nova, sebagai anak kantoran, hingga perjalanannya membangun wadah bernama Menjadi Indonesia Pintar dan Bintaro Berbagi.

Jika ditarik mundur ke masa lalu, Nova mengaku dirinya seperti remaja biasa pada umumnya. Ia malah lebih doyan bermain dan menjelajah.

"Jadi, sebenarnya pas SMP atau SMA itu aku siswa yang biasa aja, sih. Anak yang biasa aja gitu dan bahkan cenderung bandel lah. Tapi, kalau berbagi, memang sudah dikenalkan dari lingkungan terdekat, dari orang tua," kenangnya.

Lepas SMA, Nova memutuskan langsung bekerja. Berbagai peran dalam pekerjaan ia jalani. Namun, kebanyakan peran Nova adalah sebagai personal assistant dan sekretaris yang mengurusi segala sesuatu berkaitan administrasi. Jam kerja tak menentu dan kadang harus pulang larut malam pun dijalani Nova saat menjalani profesi tersebut.

Kendati begitu, saat senggang, ia cukup aktif menjalankan ragam kegiatan, terutama sepulang kerja. Misalnya pada medio 2013, ia bertemu dengan komunitas Berbagi Nasi Jakarta. Tak disangka, pertemuannya dengan komunitas ini banyak memberi Nova pelajaran.

Ia kemudian memberanikan diri berhenti kerja dan memulai peran baru sebagai pengusaha. Nah, peran barunya ini yang kemudian jadi petualangan seru. Simak obrolan kami yuk!

Awal banget gabung sama kegiatan sosial tuh di mana sih, Mbak?
Berbagi Nasi Jakarta. Itu tahun 2013 sampai sekitar 2015 deh. Nah, tahun 2015 tuh aku mikir kayak 'duh, ini kok mau berbagi aja susah?'. Maksudnya, waktunya terbatas gitu. Pulang kerja baru bisa berbagi. Kayaknya aku jadi wirausaha aja deh biar waktunya lebih fleksibel.

Saat resign kerja, gimana dong melanjutkan hidupnya?
Aku buka Ngemealyuk. Itu bisnis kuliner yang aku jalani. Awalnya itu kita memang hanya jualan camilan aja dan jualannya masih di tenda gitu.

Kejadian apa sih yang meyakinkan diri buat resign?
Ya, itu, jadi pada hari itu ada jadwal Berbagi Nasi Jakarta lagi muter (berbagi nasi). Itu sampai jam 9 atau jam 10 malam ya, aku masih kerja deh pokoknya. Di situ mikir waduh, buat doing something in a good way aja susah banget, ya. Dan memang sudah jalannya aja.

Di awal fase berhenti kerja, terus bangun usaha sendiri, itu pernah ada rasa menyesal enggak sih?
Iya. Bukan menyesal sih, tapi mungkin kangen aja suasana ngantor dan pastinya kangen gajian setiap bulan. Hahaha.. Karena kan kalau pengusaha enggak kayak gitu (perputaran ekonominya).

Nah, itu kan fase yang bisa dibilang berat lah ya buat orang-orang yang mau banting setir dari zona nyaman. Perlu berapa lama adaptasinya mbak?
Adaptasi sampai bisa menjalankan usaha baru sih sekitar dua tahunan, sampai Ngemealyuk punya lapak sendiri. Kalau dari segi ekonomi sih, namanya pengusaha, dan memang aku enggak ada bakat jadi pengusaha kan, itu di awal sempet juga pinjam uang buat membuka jalan. Tapi, Alhamdulillah usahanya terus berkembang sampai saat ini.

Apa yang meyakinkan mbak supaya konsisten jadi pengusaha?
Aku bilang sama diri sendiri: ini kan jalan yang udah lu pilih. Jadi, terusin dong.

Perjalanan membangun Ngemealyuk sebagai sebuah produk dilakoninya sembari tetap berkegiatan sosial. Tempat tinggalnya di Bintaro dan jarak tempuhnya saat hendak berbagi dengan komunitas Berbagi Nasi Jakarta membuatnya berpikir membuat gerakan serupa agar tak perlu jauh-jauh ke Jakarta jika ingin melakukan kebaikan.

Momen itu yang kemudian menggerakkan hatinya mendirikan Bintaro Berbagi. Konsepnya sama seperti Berbagi Nasi Jakarta, hanya saja, Nova lebih leluasa bergerak karena tidak perlu ke Jakarta.

"Dan ternyata di Bintaro yang bisa dibilang wilayah elit ini, banyak juga loh saudara-saudara yang membutuhkan," katanya.

Apa sih yang menumbuhkan rasa ingin berbagi dalam diri mbak?
Awal kegiatan di Berbagi Nasi Jakarta itu, biasanya kegiatan jalan di malam hari. Nah, di sana itu aku kayak diperlihatkan sisi lain Jakarta yang luar biasa. Kalau siang, kota ini identik dengan hiruk pikuk, gedung-gedung tinggi dan kemegahannya. Coba deh jalan malam di Jakarta. Beuh!

Jadi, Berbagi Nasi Jakarta tuh bisa dibilang komunitas bernada sosial pertama yang mbak ikutin ya?
Iya. Dan perlu saya akui, di sini saya banyak belajar mengolah rasa. Berbagi tuh soal megolah rasa loh.

Sampai saat ini, dua kegiatan sosial baik itu Berbagi Nasi Jakarta ataupun Bintaro Berbagi masih eksis. Kamu bisa mengunjunginya di Instagram @berbaginasijkt dan @bintaroberbagi.

Baca Ini Juga Yuk: Fahrein Rachel, Putri Padjadjaran yang Punya Segudang Bakat

Belajar Hal Baru dari Bisnis
Menjalani peran pebisnis dan melakukan gerakan sosial boleh jadi bukan DNA yang dibawa Nova sejak lahir. Ia tak punya bakat bisnis dan bukan dari kalangan orang bergelimang harta yang doyan berbagi. Namun, keberaniannya melangkah dari zona nyaman sebagai anak kantoran merupakan titik awal perubahan positif dalam dirinya.

Setelah menghabiskan waktu dua tahun beradaptasi, Nova mulai memahami pola bisnis dan manajemen waktu. Hal ini jadi modal besar baginya untuk terus melangkah.

Suka duka di awal Ngemealyuk berdiri apa aja?
Hahaha, ini banyak banget. Dulu tuh kita kan tempatnya masih di tenda begitu. Nah, kita sering jadi tempat buangan orang. Jadi, kayak misalnya di sebuah area festival kuliner deh, foodcourt ya, itu kan ada banyak yang jual makanan minuman. Nah, karena di tempat makan A atau B penuh, pembeli nebeng duduk di kita terus cuman beli minum doang di kita. Enggak beli makan. Aku disitu kayak pengen ketawa, tapi kesel juga. Tapi, semuanya tetep seru dijalanin sih.

Pelajaran apa sih yang didapatkan dari hal yang katanya bukan bakat mbak?
Manajerial. Pandemi mengajarkan saya kalau perusahaan yang sehat itu antara dia punya banyak duit banget atau manajemennya bagus. Walau enggak ada inovasi yang kayak gimana gitu, tapi tetep, Ngemealyuk masih ada sampai saat ini. Selain manajerial, aku juga jadi banyak belajar menata waktu dan prioritas.

Ngemealyuk sama kegiatan sosial yang mbak jalanin tuh satu paket atau gimana sih?
Enggak. Justru aku enggak mau menggabungkan keduanya. Aku enggak mau ada kesan bikin Ngemealyuk untuk nantinya produknya dibeli buat didonasikan. Aku benar-benar pisahkan, sih. Nah, paling kalau ada kegiatan nih, boleh lah meeting point-nya di tempat aku. Kalau mau ada meeting apa, boleh pake lapaknya Ngemealyuk.

Jadi kalau ada program berbagi, itu makanannya pesan ke mana dong?
Kalau ada yang mau pesan ke Ngemealyuk, dengan batas tertentu oke masih kita ambil. Kalau udah lewat dari, misalnya 20 boks nih, selebihnya kita rekomendasiin teman-teman UMKM juga biar sama-sama kebagian pesanan.

Jelajahi Dunia Pendidikan
Dua kegiatan sosial yang dijalankannya, Bintaro Berbagi dan Berbagi Nasi Jakarta, membuka jalan Nova mendirikan Komunitas Menjadi Indonesia Pintar pada 2018. Tiga tahun berjalan, Menjadi Indonesia Pintar berkembang menjadi yayasan dan aktif menjalankan program serta #AksiBaik di kota-kota besar seperti Jakarta, Tangerang, dan Bandung.

Isu yang menjadi perhatian penuh Menjadi Indonesia Pintar adalah menyediakan fasilitas pendidikan bagi anak-anak 'pinggiran' yang tidak memiliki akses menjangkaunya. Tiap akhir pekan, para relawan turun ke jalan mengajak anak-anak belajar sembari bermain. Konsep kelas luar ruangan ini juga diselipi donasi berupa makanan gratis bagi anak-anak yang ikut belajar.

Meski terlihat indah dan mulia bak adegan film 'Alangkah Lucunya Negeri Ini' yang diperankan Reza Rahadian, namun tantangan mendistribusikan pendidikan bagi kalangan 'pinggiran' ini cukup tinggi. Di awal kehadiran kelas-kelas yang digagas Menjadi Indonesia Pintar, berbagai penolakan harus diterima. Nova mengenang momen yang boleh disebut sebagai masa perjuangan tersebut.

Kegiatan di Menjadi Indonesia Pintar ini apa aja sih, mbak?
Fokus kegiatannya di bidang pendidikan. Yayasan ini membawahi tiga sekolah belajar: Sekolah Belajar Asemka, Sekolah Belajar Ciputat, dan Sekolah Belajar Bandung.

Dalam tiga tahun udah bisa bikin tiga titik sekolah belajar. Itu enggak gampang loh. mbak...
Tantangan sih pasti ada. Hanya saja, kebetulan saya ketemu teman-teman yang satu visi. Di Bandung misalnya, saya ketemu teman-teman yang baik, juga di dua titik lainnya. Kalau sudah ketemu teman yang satu visi, semuanya kayak gampang aja gitu.

Perkembangan apa sih yang dilewati tiga sekolah belajar saat ini?
Kalau yang di Jakarta ini di kolong jembatan dekat Pasar Pagi Asemka, titik Ciputat ada di lapak pemulung punya salah satu anak asuh kami, dan di Bandung tuh ada di depan stasiun transit, dekat Viaduct. Nah, makanya kita kepengin mendirikan sekolah dalam bentuk fisik, bangunan gitu, biar mereka punya tempat belajar yang nyaman dan aman. Enggak kena hujan atau panas.

Selain mengajar, para relawan Menjadi Indonesia Pintar juga melakukan observasi dan pendekatan, baik itu ke anak asuhnya ataupun orang tuanya. Proses ini memakan waktu lama dan energi yang besar.

Saban kelas dibuka, para relawan membawa makanan dan snack guna menambah semangat belajar anak asuhnya. Tak jarang, anak asuh yang datang awalnya bukan karena ingin belajar, tetapi ingin mendapat makanan gratis. Namun para relawan tak mempermasalahkannya. Saat ini, yang mereka prioritaskan adalah kehadiran anak-anak agar masuk kelas.

"Pernah ada satu momen snack-nya itu kurang dan anak-anak itu ngebanting snack-nya ke kita. 'Pilih kasih banget!' gitu katanya. Duh," kenang Nova.

Meruntuhkan hati orang tua anak-anak 'pinggiran' ini juga menjadi salah satu tantangan besar. Nova menjelaskan, kebanyakan anak-anak asuhnya ini sehari-hari bekerja lepas sebagai pemulung, pengamen, kuli angkut, dan pekerjaan serabutan lainnya. Waktu yang digunakan mereka belajar, sejatinya bisa dipakai bekerja dengan upah sekira Rp50 ribu.

"Jadi, kayak: daripada lu belajar, mending kerja dapet duit buat makan hari ini," tambah Nova.

Pendekatan bersifat persuasif pun dijajal Nova dan para relawan. Ia berulang kali meyakinkan para orang tua anak-anak 'pinggiran' ini akan pentingnya akses pendidikan. Para relawan juga terkadang membawa makanan dalam jumlah besar agar bisa dinikmati bersama orang tua murid yang datang ke kelas terbuka itu.

Selain pendekatan persuasif, para relawan ini juga membuat sebuah konsep penghargaan berupa bantuan pendidikan bagi anak asuh berpretasi. Jadi, tiap anak asuh berprestasi yang punya keinginan belajar di sekolah formal bisa punya akses dengan bantuan Yayasan ini.

Kini, kelas-kelas luar ruangan yang digagas Menjadi Indonesia Pintar tak pernah sepi lagi. Bahkan, beberapa pihak orang tua yang awalnya menolak kehadiran kelas ini, sekarang justru memberi dukungan dan keleluasaan bagi anak-anaknya belajar.

Ini jadi kayak epic comeback gitu enggak sih mbak?
Hahaha. Iya bener!

Jadi sebenarnya orang tua anak-anak itu mendukung atau enggak sih sama pendidikan?
Yang aku lihat sih, kadang ada beberapa pihak yang sebetulnya kepengin anaknya sekolah, tapi mereka enggak punya biaya.

Dan kalau ada yang mengacaukan ritme kalian saat bikin kelas, gimana?
Kita memilih fokus sama siapa yang mau kita rangkul. Buat apa juga capek menghabiskan energi untuk orang yang enggak mau dirangkul.

Jalan-jalan Sambil Berbagi
Meski terlihat seperti sesuatu yang amat besar dan mulia, rupanya kegiatan berbagi bisa dibarengi dengan hal kecil yang bahkan menjadi hobi. Nova dan gerakan bersama rekan-rekannya membuktikan itu. Kecintaannya pada jalan-jalan alias travelling kemudian disatukan dengan #AksiBaik ini.

Berawal dari program berbagi Hantarkan Semangat yang dijalankan saat awal masuknya pandemi, kini #AksiBaik itu bertransformasi jadi Roadtrip Hantarkan Semangat. Empat kota disambanginya dalam perjalanan selama sepekan, mulai dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan berakhir di Solo.

Menariknya, Nova dan temannya kala itu awalnya hanya ingin berkunjung ke tempat seorang temannya di Solo. Namun, ia menyadari harus ada hal lebih yang bisa dilakukan selain jalan-jalan. Oleh karenanya, ia menggabungkan program berbagi reguler yang biasa dilakukan di sekitar rumahnya dengan jalan-jalan ini.

Hantarkan Semangat ini baru beres berarti ya, mbak?
Iya. Kemarin tuh semingguan sih roadtrip ke beberapa kota, termasuk ke Bandung juga kemarin!

Ada cerita seru enggak sih selama roadtrip kemarin?
Banyak banget yang nitip (donasi) nih di program ini. Kita sampai bagiin 200-an boks makanan dan minuman ya untuk sesama. Tiap kota itu kita secara acak berbagi 50 sampai 60 boks. Seru banget! Dan kalau cerita sih lebih ke perjalanannya aja. Selain itu kita kan memang mau bikin konsep baru di tempat baru Ngemealyuk nanti. Soalnya dalam waktu dekat kita akan berpindah lapak, nih.

Kota yang paling berkesan buat kalian saat roadtrip?
Pada dasarnya tiap kota punya kesan. Tapi, pas di Jogja dan Solo, kita nulis kata-kata semangat buat penerima makanan pakai bahasa Jawa! Ya, karena kita kepengin penerima manfaat juga ngerasain pesan kita enggak sekadar makanan aja.

Kalian berbagi di titik-titik mana aja saat itu?
Random aja sih. Di titik-titik ada saudara kita yang membutuhkan, kita pasti turun dan kasih makanan untuk mereka.

Bakal ada roadtrip lagi enggak nih?
Kepenginnya gitu. Semoga bisa terealisasi segera, ya.

Baca Ini Juga Yuk: Keni Soeriaatmadja, Liuk sang Penari & Perannya dari Balik Layar

Berbagi Itu Candu
Delapan tahun aktif dalam gerakan sosial, kini sudah menjadi pengusaha kuliner, serta memimpin Yayasan Menjadi Indonesia pintar, banyak perubahan positif dan kemajuan yang dialami Nova sebagai individu. Ia tak membayangkan perjalanannya melakukan #AksiBaik sudah sejauh ini. Padahal, ia merasa hanya melakukan apa yang disukai.

Perjalanan delapan tahun ini juga diakuinya sebagai fase luar biasa. Dari uluran ke uluran yang dilakukannya bersama banyak pihak, ia mulai memahami konsep hidup.

"Di satu sisi, saya juga jadi sadar kalau konsep hidup tuh, ya, begini. Beberapa orang memang dipilih memainkan peran menjadi mereka (saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan) dan aku kayak ngomong sama diri sendiri: ya udah, selama bisa bantu, ya bantuin," tegasnya.

Kenikmatan apa sih yang mbak dapetin dari berbagi?
Aku cuman merasakan satu hal: berbagi itu candu. Kalau lu enggak mau kecanduan, jangan coba-coba berbagi! Dan saat ini tuh aku lagi belajar menjadikan berbagi sebagai gaya hidup. Soalnya kalau bukan kita, siapa lagi yang mau mulai?

Serius? Sekalipun enggak punya uang?
Iya. Beneran. Cobain deh. Itu tuh kecanduan loh. Dan sebetulnya berbagi enggak cuma soal uang. Sesimpel kita senyum, atau mungkin jadi relawan, itu berbagi juga.

Tantangan terjun di bidang sosial itu apa sih mbak?
Menjaga konsistensi sih buatku yang sampai saat ini masih jadi PR.

Sebagai pamungkas, ia berharap apa yang sudah dijalaninya sampai saat ini tetap konsisten. Sebab, perjalanan selama hampir 10 tahun ini disebutnya telah membawa dirinya ke jalur yang seperti seharusnya. Ia pun begitu bersyukur atas segala kelancaran upayanya berbagi dengan siapapun

TemanBaik, obrolan dengan Nova sejatinya bikin kita penasaran: apa benar berbagi bikin kecanduan? Kalau kamu bagaimana? Adakah kesamaan cerita antara kamu dengan Nova?

Kalau ada, dan ternyata benar, yuk ajak lebih banyak orang berbagi pada sesama. Selain sama-sama menikmati candunya, kita juga bisa sama-sama meringankan beban saudara kita di luar sana.

Selamat berakhir pekan!


Foto: Dokumentasi pribadi Nova Adriyanti
Layout: Agam Rachmawan/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler