Keni Soeriaatmadja, Liuk sang Penari & Perannya dari Balik Layar

Bandung - Kenalin nih TemanBaik kami edisi kali ini. Namanya Keni Kurniasari Soeriaatmadja, penari yang akrab disapa Bubbu Keni. Di kalangan pegiat kreatif Bandung, ia dikenal aktif jadi fasilitator dan kerap bikin program seni keren di NuArt Sculpture Park.

Sosoknya enerjik, murah senyum, dan terlihat tenang. Itu mungkin bisa jadi kesan pertama yang didapatkan orang saat pertama kali bertemu dengannya. Padahal, di balik kesan itu, ada banyak pengalaman dan ilmu sebagai seniman yang ia kuasai.

Kemampuan paling menonjol Keni adalah menari yang digelutinya sejak usia enam tahun. Siapa sangka, bidang pertunjukan inilah membawanya pada petualangan menyenangkan. Beberapa panggung kecil hingga besar, lokal hingga mancanegara, sudah dicicipinya. Pengalaman ini mengubah Keni menjadi pribadi lebih tenang.

Kami pun ngobrol soal perjalanan Keni menggeluti bidang seni dan bagaimana ia menikmati hidup dari bidang yang digemari sejak kecil. Mau tahu keseruan perbincangan kami? Simak ulasannya, yuk!

Bubbu belajar nari awalnya gimana sih?
Aku dulu disuruh Mama. Disuruh nari aja gitu. Jadi, karena orang tua (Ayah) saya Dosen di ITB dan Ibu kan Dharma Wanita ya di sana. Nah, ibu-ibu Dharma Wanita ini tuh kerja sama dengan mahasiswa untuk bikin kelas tari. Awalnya saya ikut kelas tari Sunda. Dapet sih materinya selama beberapa bulan, terus enggak lama dari situ, ternyata lebih kenal sama temen-temen (di kelas) tari Bali, dan akhirnya saya pindah.

Oh, jadi di usia enam tahun itu belajar tari Sunda dulu, terus pindah ke tari Bali?
Iya, pindah. Jadi, itu mah karena mungkin saat itu (di kelas tari Bali) selain temen-temennya lebih seru, ya, motivasi untuk menari-nya itu lebih ke bermain aja, anak-anak.

Keseruan dan motivasi tadi yang akhirnya bikin Bubbu nyaman ya?
Iya. Terus, guru-gurunya teh kayak ngasih tantangan aja gitu, diikutin acara festival, dan akhirnya jadi keterusan menari Bali.

Hhmmm, oke...
Iya. Jadi saya adalah urang Sunda yang mendalami tarian Bali. Gitu. Kecewa ya? Atos wae ieu teh (sudah aja ini)? Bade eureun (mau berhenti ngobrolnya)?

Eh enggak enggak! Di #BertemuTemanBaik itu kita ngobrolnya lebih ngalir, Bu...
Hahahaha..

Nama Keni dikenal sebagai pegiat seni, khususnya pertunjukan. Melalui Hibah Seni Inovatif Yayasan Kelola, Keni bersama rekan penari di Bengkel Tari Ayubulan, Bandung, menggagas Sasikirana KoreoLAB & Dance Camp. Menemukan kegemaran di usia yang cukup belia tentu membuat Keni semakin giat melakukan eksplorasi. Sejak SD, ia sudah membagi waktu antara sekolah, bermain, dan berlatih. Hal itu terus berlanjut saat ia duduk di bangku SMP.

Bu, boleh cerita tentang masa kecil? Apakah Keni kecil adalah seorang penari yang ambisius kepengin jadi penari besar gitu?
Waduh. Masa kecil saya mah ya seperti anak dosen pada umumnya sih sebetulnya. Cuma, mungkin saya tergolong orang yang punya akses pendidikan yang lebih baik, dan di satu sisi saya teh jadi kayak belajar tentang keragaman sejak kecil.

Kalau masa sekolah, gimana tuh?
Saya SD di Taruna Bakti. Nah, ini yang menarik. Jadi, di Taruna Bakti itu kan, mungkin lingkungannya 50:50 ya. Maksudnya, dari segi suku, ras, agama, itu antara yang muslim dan nonmuslimnya imbang. Nah, di situ udah mulai terbiasa melihat keragaman. Sebenernya pas SMP tuh udah bosen dan kepengin ke (SMP) negeri. Tapi, karena NEM nya enggak masuk, jadi ya, di situ lagi.

Menghabiskan masa SD sampai SMP di sekolah yang sama tuh gimana sih, Bu?
Gitu aja. Pagi mah sekolah, ya, kayak biasa. Sorenya saya nari. Dan kegiatan menari itu udah mulai tercium nih sama orang tua. Dari situ, saya didorong buat nyari guru privat menari dan lebih serius lagi aja.

Tapi, SMA enggak di situ lagi ya? Akhirnya masuk negeri...
Nah. SMA sih aku masuk SMAN 2 Bandung. Itu SMA satu-satunya pada saat itu ya, yang kelas satunya enggak sekolah siang. Jadi aku teh kepengin ke negeri, tapi males masuk sekolah siang. Pas banget.

Kok males? Kan enak bangunnya bisa siang?
Enggak suka aja dan emang saya ngantuk kalo abis makan siang, mendingan main aja, dan kebiasaan aja bangun pagi, sorenya main.

Ngobrol soal bagi waktu nih, Bu. Gimana sih caranya tetap bisa mencukupi waktu belajar, bermain, dan berlatih?
Jadi saya latihan tuh minggu. Waktunya ya pagi ke sore. Pemilihan waktu di hari minggu ini karena saya enggak mau ngeganggu hari bermain saya di hari lain.

Petualangan Semakin Jauh
Memasuki tahun 1994, petualangan Keni mempelajari tari Bali semakin dalam saat ia bergabung dengan Bengkel Tari Ayubulan. Ia berguru pada maestro legong Ayu Bulantrisna Djelantik dan fokus mempelajari genre legong yang merupakan bagian tari Bali.

"Dan setelah masuk ke Bengkel Tari Ayubulan, saya baru sadar kalau tari Bali juga banyak ragamnya," ujarnya.

Ia kemudian menyadari jika selama dekade 80-an hingga awal 90-an, wawasannya mengenai seni tari adalah hasil standardisasi kesenian yang saat itu mulai masuk di ranah pendidikan. Padahal, jika kita meriset ulang, kemunculan wujud seni tersebut ke daerah asalnya, boleh jadi apa yang tercatat dalam buku teori seni tidak sama persis dengan yang terjadi di daerah asalnya.

Bengkel Tari Ayubulan sendiri menjadi wadah menyenangkan bagi Keni mengeksplorasi bidang tari. Ia mengenang masa-masa itu sebagai masa berharga karena ia melihat sendiri bagaimana keragaman dalam seni itu ada. Misalnya, dari jumlah peserta kelas yang diisi penari berbagai macam suku, bukan hanya dari Bali saja.

"Setelah saya merefleksi perjalanan belajar menari, di situ Ibu Ayu Bulan tuh kayak menyadarkan saya enggak apa-apa kok berbeda dengan standar seni yang ada," kenangnya.

Distraksi Seni Rupa
Meski sudah menggeluti tari Bali sejak usia enam tahun, nyatanya tak ada minat lebih dari dalam diri Keni untuk mempelajari seni tari secara formal. Buktinya, ia memilih Seni Rupa sebagai jurusan kuliahnya. Secara spesifik, ia mengambil jurusan keramik di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Namun, saat ditanya mengenai pilihannya, ia sempat ragu menjawab.

Kok enggak ngambil seni tari sih, Bu?
Saya enggak tau ya, jawaban ini akan baik atau enggak untuk ditulis. Tapi saya coba jujur deh.

Oke. Jadi...
Ya. Saya ngerasa enggak tau, apakah si seni tari ini bakal bisa menghidupi atau enggak. Dan kenapa sampai sekarang pun saya masih terus bekerjasama dengan para kreator tari, relasi saya, itu karena saya pengin temen-temen punya kapasitas. Karena sampai sekarang saya ngerasa agak sulit bisa hidup sejahtera dari tari saja. Kamu harus punya daya tawar dan super extra ordinary.

Apa sih nilai yang Bubbu dapetin dari seni rupa?
Saya enggak menyesal masuk seni rupa. Di sana saya belajar pola-pola yang terjadi di sana, mengenal pola-pola di sana, dan memang karena marketnya ada, jadilah infrastrukturnya lebih bagus. Nah, infrastruktur-infrastruktur di seni rupa kayak kurator, art dealer, dan banyak hal lainnya teh kepake saat saya berkarya di seni tari. Jadi, dalam manajerial pertunjukan, saya memperlakukannya kayak sebuah pertunjukan seni rupa.

Saat menjadi mahasiswa seni rupa, Keni juga mulai melirik peran di balik layar pertunjukan. Peran ini sejatinya kerap muncul dari ketertarikan Keni menjadi koordinator acara seni yang biasa ditampilkan semasa dirinya masih sekolah dulu.

Catatan penting peran Keni di balik layar selama kuliah antara lain Dream Project Under Construction yang dikuratori oleh Asmujo Jono Arianto. Dalam karya ini, ia bertugas sebagai ko-kurator bersama Agung Hujatnikajenong.

Menjadi Perempuan Domestik
Menjadikan seni sebagai pilihan hidup rupanya tidak serta-merta membuat Keni 'lari' dari kenyataan sebagai perempuan. Buktinya, ia sempat berhenti berkesenian secara serius saat buah hatinya lahir. Satu dekade ia fokus menjadi wanita 'domestik'.

Di sini, Keni juga bercerita mengenai posisinya sebagai perempuan. Hal yang digarisbawahi Keni adalah posisi perempuan yang memiliki sisi lemah karena faktor biologis.

"Perempuan tuh merupakan satu kelemahan yang ada dalam diri saya. Gini ya, untuk konteks orang Indonesia, orang beruntung itu yang tinggal di Pulau Jawa, punya akses pendidikan, dari kelas menengah ke atas, dan tinggal di kota besar. Saya punya itu semua, kecuali saya perempuan," bebernya.

Kenapa menjadi perempuan itu jadi kelemahan?
Buat saya sih sebenernya aman. Tapi, kalau di Indonesia secara umum, menjadi perempuan di Indonesia itu masih banyak masalah. Buat saya sih aman, dengan segala negosiasi terhadap risiko biologis. Kenapa perempuan menjadi domestik? Kan karena memang secara biologis kita diciptakan menjadi makhluk yang melahirkan dan menyusui, ya, dan saya rasa merawat anak itu menjadi porsinya perempuan di beberapa masa hidup seorang anak.

Itu yang membuat Bubbu meninggalkan sejenak bidang seni?
Iya. Pernah saya nyobain pas anak umur dua tahun balik lagi ke studio keramik. Tapi ternyata enggak bisa. Akhirnya saya menepi dulu deh selama 10 tahun, pas anak-anak udah agak gede, baru saya berkarya lagi.

Sekarang sama anak-anak di rumah, apakah Bubbu mengarahkan ke bidang seni? Atau gimana?
Nah. Kebetulan saya dengan suami itu kan memang berangkat dari bidang seni. Jadi, kita enggak tau banyak hal di luar bidang itu. Tentu, aku seneng sih kalau anakku kepengin jadi dokter, ya. Cuma kalo dia milih bidang profesi yang deket sama seni, seenggaknya kita bisa ngasih banyak input buat mereka.

Kecenderungan anak-anak sendiri gimana? Lebih ke seniman juga apa gimana?
Untungnya sih enggak jauh dari seni ya. Soalnya kita pengaruhi sedikit-sedikit. Hahahaha. Enggak atuh!


Kembali ke Panggung
Setelah sempat rehat satu dekade, Keni kembali ke panggung pertunjukan dengan peran barunya. Jika dulu ia adalah seorang di atas pentas dengan liuk dan gerakannya menari, saat ini, ia lebih banyak berada di balik layar dan memberi panggung pada seniman muda untuk bisa lebih berkembang.

Penampilannya yang cukup fenomenal adalah saat ia dipilih menjadi penari utama dalam pertunjukan kolosal 'Swadharma Ning Pertiwi' pada 2018. Pertunjukan ini melibatkan Sutradara Teater Wawan Sofwan dan koreografer Eko Supriyanto. Gelaran premiere untuk pentas ini digelar di Singapura.

Dalam pertunjukan ini, Keni berperan sebagai penari sekaligus produser. Proses kreatif sebelum pementasan ini menyadarkan Keni bahwa kesalahan di atas panggung nyatanya adalah sebuah kenikmatan tersendiri.

Bu, kalau menari tuh pernah kerasukan enggak sih?
Hhhmmm gimana, ya. Beberapa orang pernah nanya ini, sih. Nah, kalau orang Bali itu bilang, puncak menari itu saat kita sudah dapet taksu-nya.

Taksu itu apa?
Itu adalah jiwa dari tarian tersebut dan juga keikhlasan. Saat kita di tahap taksu, itu kita udah enggak mikir lagi. Nah, masalahnya pakem dalam sebuah tarian itu kan banyak, ya. Saat kita udah bisa gerak tanpa mikir dan ikhlas aja sama apa yang terjadi, nah, kayak gitu. Menari itu udah enggak mikirin fisik, gerak, enggak mikirin penonton, sebab ini bukan tugas, bukan kebanggaan, dan untuk mencapai ini teh emang sulit.

Bubbu merasa kalau menari sudah taksu?
Enggak mau menyatakan aku sudah di tahap ini, malu lah. Biar aja orang kalau liat aku nari seperti apa. Tapi yang perlu digarisbawahi teh, waktu kecil mah aku teh belajar nari tuh harus bener dulu. Nah, kebiasaan untuk menari dengan benar, lama kelamaan kan jadi kebentuk, ya.

Oh, jadi pembelajaran itu didapat dari kebiasaan ya?
Iya, dibiasain nari benar sejak kecil. Dari umur belasan sampai 20-an, itu saya ngotot nari harus benar. Dulu mikirnya puncak menari adalah di atas panggung. Tapi, setelah aku punya anak, udah lebih dewasa deh, ternyata puncak menari itu enggak hanya di atas panggung. Seluruh rangkaian acara dari mulai latihan garapan sampai pentas, itu yang harus kita nikmatin.

Apa sih tantangan utama seorang penampil di seni pertunjukan?
Menanggulangi kesalahan. Soalnya dalam seni pertunjukan tuh saat kita salah, ya, kita ditonton langsung oleh audiens. Jadi kayak wajah kamu teh enggak bisa disembunyiin gitu.

Bubbu muda dan Bubbu sekarang, beda enggak menyikapi kesalahan saat pentas?
Proses kreativitas itu makin ke sini makin menyadarkan saya, ternyata jiwa dari sebuah karya itu muncul dari proses, termasuk kesalahan yang kita bikin. Ya, balik lagi, khususnya di tari ya, ini adalah kegiatan kolektif yang mana kita saling menopang satu sama lain.

Pesan dari Balik Layar
Ngobrol soal peran barunya, perempuan 42 tahun itu menyadari ketertarikannya berperan di balik layar. Sebetulnya, peran baru ini sudah mulai dilakoni sejak 2015 saat ia mendirikan Sasikirana KoreoLAB & Dance Camp. Pertemuannya dengan pelaku tari dari seluruh penjuru Indonesia membuka matanya jika bidang seni satu ini perlu dikembangkan lebih jauh lagi.

Tentang Sasikirana KoreoLAB & Dance Camp Keni menyebut wadah ini adalah wadah aman dan sebagai alternatif bagi pelaku tari untuk bisa mendapatkan kemerdekaan berpikir. Di sini, para pelaku tari bebas menuangkan ide hingga dimaterialisasi menjadi karya.

"Di situ saya belajar lagi tentang seni kontemporer dan banyak kaget sih. Seni kontemporer di Indonesia, khususnya tari, itu seperti lahan yang gembur tapi enggak tau nih ngembanginnya digimanain," terangnya.

Konsep dari Sasikirana itu sendiri gimana sih, Bu?
Simpelnya sih, saya ngeliat banyak penari muda yang keren, pada jago deh, dan saya rasa para penari-penari ini lebih membutuhkan panggung daripada saya. Waktu itu saya merasa banyak yang bisa kita eksplorasi. Akhirnya saya bikin wadah ini. Kita ngasih alternatif dari pelaku tari ini yang mungkin enggak dia dapatkan di tempat dia belajar.

Jadi, ini bentuknya camp gitu ya? Proses seleksinya gimana Bu?
Iya, setahun sekali kita ada open call. Ada 25 sampai 30 orang terpilih dan sebisa mungkin plural. Pesertanya dari berbagai penjuru Indonesia, gendernya kita seimbangin. Mereka latihan intensif buat sebuah pertunjukan. Kita datangin mentor dengan latar belakang yang tervalidasi sebagai orang yang emang paham tari kontemporer.

Timeline selama nge-camp itu gimana?
Jadi, nanti akan ada lima koreografer. Nah, para koreografer ini pada ngide lah, didampingi mentor, sih. Ada proses ideasi konsep sampai termaterialisasi menjadi sebuah karya. Nah, sisanya ada penari yang dilatih olah tubuh. Selama tiga hari diskusi, di hari ketiga ini baru deh ideasi ini ditransfer ke penari yang sudah dilatih pula selama tiga hari itu. Bukan proses mudah sih menjadikan temen-temen ini satu frekuensi, dan menariknya teh kita menemukan frekuensi yang sama justru saat kita memelihara kerecehan.

Bubbu suka marah-marah enggak sih selama ngelatih?
Gua enggak pernah marah kayaknya, ya. Hahaha, tapi jangan coba-coba lah, ya.

Pembagian peran dengan rekan-rekan fasilitator di Sasikirana sendiri gimana?
Aku bareng sama Ratna. Nah, peranku ini sebagai Menteri Luar Negeri lah, jadi kayak ketemu sama mentor dari luar, ngurusin sesuatu yang sifatnya eksternal. Nah, Ratna itu lebih ke dalam. Ngurusin anak-anaknya sih.

Sejauh ini sudah ada berapa 'alumni' Sasikirana?
Bukan alumni, sih. Jadi kesannya udahan ya kalo alumni. Ada 130-an sih anggota yang pernah nge-camp di Sasikirana dan setelah pertunjukannya selesai, kita tetap rawat siapa yang mau dirawat.

Rata-rata usia peserta Sasikirana berapa aja?
Usia anak kuliahan sih, 20-an sampai 25 tahun.

Pekerjaan rumah apa sih bu yang harus diberesin sama pelaku seni khususnya seni tari di Indonesia?
Banyak. Tapi yang paling sederhana adalah biarkan para pelaku ini mengeksplorasi.

Sebagai penutup, panggung yang kini dijalani Keni sebagai orang di balik layar juga membuka sisi-sisi lain yang mungkin dulu belum terjamah olehnya. Hal paling sederhana yang dirasakan adalah dampak yang terjadi setelah ia berkarya. Jika dahulu ia merasa saat tirai panggung ditutup maka perannya usai, sekarang ia mulai memikirkan keberlanjutan apa yang sudah dikerjakan.

"Merawat kegiatan ini supaya tetap tumbuh. Itu sih PR ya menurut saya," sambungnya.

Bu, pertanyaan terakhir: pesan Bubbu buat para seniman muda?
Jadi ternyata kita teh mau dalam bidang apapun, yang harus ditambah itu daya tawar kita. Mau jadi perajin tambal ban kek, atau apa kek, kita harus sadar posisi kita di mana, perannya sebagai apa. Lalu apa yang bisa kita kontribusikan dari peran dan posisi kita. Setelah tahu power kita di mana, kita bisa saling negosiasi dengan power-power lain untuk kepentingan bersama. Dan supaya daya tawar kita semakin tinggi, cobalah fokus sama apa bidang kamu. Misalnya kamu seneng gitar, ya harus tau A sampai Z tentang gitar, inovasinya, dan banyakin referensi, sehingga kita bisa punya daya tawar. Jangan takut untuk memilih profesi apapun yang kita pengen, asal kita punya jawaban untuk pilihan tersebut.

TemanBaik, jawaban terakhir dari Bubbu Keni sepertinya cukup membuka mata kita untuk jadi pribadi yang senantiasa meningkatkan harga tawar, ya. Dan tentunya, kita enggak perlu takut memilih jalan hidup selagi kita punya alasan dan jawabannya.

Jadi, tunggu apalagi untuk menjajal panggung kehidupan berikutnya?


Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id
Layout: Agam Rachmawan/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler