Fahrein Rachel, Putri Padjadjaran yang Punya Segudang Bakat

Bandung - Fahrein Rachel Latisha, begitu nama lengkap selebgram ini. Ia juga penyandang gelar 1st Runner Up Putri Padjadjaran 2021 dan Ketua Angkatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad).

Perempuan kelahiran 31 Januari 2021 ini memanfaatkan usia muda sebagai wahana bermain serta momentum aktualisasi diri. Ia pun mengaku nyaman dengan segala proses yang dijalani.

Fahrein begitu aktif dalam berbagai bidang. Ia aktif menggeluti bidang fesyen, punya karya musik berupa single di platform digital, hobi bermain futsal, hingga aktif di berbagai komunitas pemuda. Organisasi kemahasiswaan? Jangan ditanya, ia aktif di unit kegiatan mahasiswa (UKM) serta komunitas kampus.

Seperti apa sih keseruan masa muda Fahrein? Simak obrolan kami yuk!

Fahrein sibuk banget ya kayaknya. Kita sampai nunggu sebulan loh buat ngobrol sama kamu!
Wah. Enggak kok. Hahaha. Kemarin-kemarin tuh emang lagi ada beberapa tahap untuk kegiatan final Putri Padjadjaran ini aja.

Seru enggak sih jadi duta kampus?
Banget!

Apa yang bikin seru?
Proses dan ketemu banyak orangnya sih. Dan pengalaman baru aja, melatih kemampuan berkomunikasi kita.

Jadi mahasiswa di era pandemi nih, yang segalanya harus dijalani online. Gimana kesannya?
Harus banyak beradaptasi sih. Karena emang semua kan online ya. Duh, jadi emang perlu upaya ekstra buat naikin lagi antusias temen-temen untuk tetap berproses.

Sebelum ngobrol sampai ke fase kuliah, sejatinya Fahrein mulai menemukan kegemaran atau passion sejak duduk di bangku SD. Lulusan SMA Taruna Bakti ini sudah mulai tertarik dengan dunia fesyen, bahkan saat usianya masih sebelia itu. Kepindahannya dari Jakarta ke Bandung di masa SMA, akhirnya menambah wawasan serta memperluas pergaulannya.

Awal kepindahannya ke Bandung memang dihiasi kebingungan. Maklum, perbedaan gaya hidup Jakarta dan Bandung boleh jadi membingungkan bagi mereka yang belum terbiasa. Kepada kami, Fahrein bercerita bagaimana adaptasi yang ia lakukan di fase awal kepindahannya.

Kaget enggak tuh pas pertama pindah ke Bandung?
Bisa dibilang culture shock ya. Walau Bandung sama Jakarta tuh deketan. Tapi beda banget, karena waktu itu umur berapa ya? Pokoknya temen baru, sekolah baru, ya, aku jadi banyak belajar.

Pasti lebih kaget karena perbedaan gaya bicara, ya?
Hahahaha. Sebetulnya emang udah nyiapin sih pasti bakal agak beda nih. Waktu itu rasanya punya temen satu atau dua juga udah cukup banget.

Nah, terus cara kamu beradaptasi gimana saat itu?
Hhhmmm. Ya itu, karena memang udah menyiapkan diri dan enggak apa-apa seandainya cuma punya inner circle yang sedikit. Terus aku enggak tau kenapa, semesta, cie, iya, universe tuh kayak ngasih jalan yang enak aja untuk aku beradaptasi.

Enggak perlu waktu lama lah, ya?
Bisa dibilang karena memang anak-anak di sekolahku lebih majemuk aja sih. Dan menurutku itu memudahkan.

Taruna Bakti kan memang terkenal dengan anak-anaknya yang kreatif nih. Kamu punya pengalaman seru apa?
Pernah! Yang paling aku highlight itu waktu aku nampilin produk fesyenku di acara pensi. Nah, SMA di Bandung kan emang kayak bagus-bagusan pensi lah ya. Hahaha, dan di sana tuh aku kayak kepala divisi fashion show gitu. Kita kayak ngonsep perintilan untuk si fashion show ini.

Hasil karya Fahrein di bidang fesyen itu sendiri menjadi sebuah produk bernama Holo Fashow. Hal ini enggak lepas dari material hologram dan PVC  dalam pakaian yang didesainnya.

Holo Fashow itu sendiri merupakan kolaborasi Fahrein dengan seorang temannya bernama Adinda. Di sini, ia bertindak sebagai desainer dan konseptor. Coba deh kamu tengok karya mereka di Instagram @holo_fashow.

Fesyen tuh udah identik dengan Fahrein lah, ya. Kok bisa sih tertarik ke dunia fesyen bahkan di usia yang mungkin anak umur segitu sih masih main-main ya?
Itu dari TK. Aku emang udah suka ngegambar-gambar kayak kostum haloween gitu. Aku enggak menyadari kapan tepatnya aku jatuh hati sama fesyen. Tapi yang jelas aku mulai suka sama bentuk-bentuk 3D di fesyen gitu.

Pengembangan apa yang kemudian kamu lakukan?
Produk Holo Fashow ini bisa dibilang pengembangan. Karena moodboard, bahan, serta peruntukan fesyen ini. Kita emang fokus di dress aja, belum bikin yang untuk harian. Pernah juga aku bikin dress untuk acara promnite, walaupun ujungnya promnite-nya enggak jadi.

Ooo... Akhirnya jadi merek fesyen sendiri lah ya?
Iya. Namanya Holo Fashow. Tapi sekarang kan masih vakum dan lagi riset produk baru.

Saat ini progressnya gimana si Holo Fashow ini?
Lagi ngegarap sustainable fashion sih. Ke depannya kita pengin ada katalog fesyen yang ramah lingkungan. Baik dari produknya, prosesnya, semuanya lebih ramah lingkungan.

Dari fesyen, kemudian Fahrein menjamah bidang komunikasi. Awalnya, ia mengikuti ajang Duta Bahasa Daerah Jawa Barat pada 2018. Sejak keikutsertaannya itu, ia merasa di dalam dirinya ada bakat seni berbahasa yang sayang apabila dipendam.

Proses belajar komunikasi itu membawanya berjumpa dengan senior-senior di sekolahnya yang sudah terlebih dahulu masuk ke jurusan ilmu komunikasi saat mengambil jurusan kuliah. Setelah berkonsultasi, Fahrein merasa tertantang masuk jurusan tersebut.

Padahal ada jurusan tata busana loh. Kenapa kamu milih komunikasi?
Jadi waktu itu aku emang udah daftar di salah satu sekolah fesyen di Jakarta. Karena kayaknya masih memungkinkan kok aku ngambil jurusan komunikasi, tapi tetap jalanin fesyen.

Wah, jadi si fesyen ini mah masuknya bakal jadi sampingan yah?
Nah! Bisa ini!

Kurikulum di sekolah fesyen itu jadi kekhawatiran bakal ngehambat kreativitas kamu enggak sih?
Nah iya! Iya banget. Apalagi setelah konsultasi dengan temen-temen yang kuliah di jurusan itu, dan setelah aku mengukur juga potensi aku di bidang ini, kayaknya bakal ada rasa enggak nyaman kalau aku memaksakan masuk ke sana (jurusan fesyen). Kalau misalnya dalam berkarya terlalu banyak batas enggak enak aja, aku lebih suka berkarya di fesyen ini sih kepenginnya sesuka aku aja. Dan belajar juga bisa di mana aja kan.

Di FIKOM sendiri, kamu ngambil prodi apa?
Ilmu komunikasi.

Satu lagi bidang yang juga dieksplorasi Fahrein, yaitu musik. Saat ini, ia sudah punya single berjudul 'Terraform'. Ia mengaku sangat mencintai musik dan menikmati proses kreatif dalam bermusik.

Selain itu, Fahrein juga tergabung dalam KMF (Komunitas Musik FIKOM) di bawah naungan FIKOM UNPAD. Beberapa hari sebelum masuknya wabah COVID-19 ke Indonesia, ia sempat menggelar acara musik bareng komunitas ini.

Kamu dengerin musik apa aja?
Semua musik kok aku dengerin. Dan memang beberapa waktu ini emang lagi in to sama elektronik (musik).

Di KMF seru banget ya?
Iya! Karena memang banyak aktivasi acara yang kita garap

Kalau harus milih, musik atau fesyen?
Musik itu kayak bagian dari hidup ya. Walau sebetulnya aku lebih dulu kenal sama fesyen.

Kalo 'Terraform' sendiri tentang apa?
Tentang keadaan bumi dan gimana kita manusia harus menjaga rumah kita.

Kamu nulis sendiri atau gimana?
Iya. Aku nulis sendiri lagunya, dan bikin instrumennya bareng Han Andern.

Kenapa kamu enggak seriusin musik ini?
Ah ini sih hobi aja. Aku kalau dalam segi kompetitif di musik, kayaknya kalah deh. Hahahaha.

Bisa kita dengerin di mana aja?
Ada kok di Spotify. Reinrachel - Terraform.

Saat teman-teman sedang keranjingan lagu cinta yang liriknya kopi senja, kamu keluar dengan lagu yang temanya tentang bumi. Apa yang kamu pikirin saat itu?
Hhmmm gimana ya. Aku selalu berusaha di manapun aku dan apapun yang aku kerjakan, aku berharap karyaku bisa bermanfaat atau setidaknya bisa menginspirasi kita, sedikitnya buat di sekitar kita deh.

Terus kalau kamu patah hati, jatuh cinta, itu lebih nyaman dilampiasin ke fesyen atau musik?
Lebih ke nulis sih. Kayaknya ribet juga sih kalau tiba-tiba bikin rancangan fesyen apa gitu. Hahaha. Eh tapi fun fact-nya adalah aku masih rutin nulis diary di buku tiap harinya.

Keren! Biasanya anak sekarang kan nulisnya di Instastories, ya...
Hahahahaha.

Malu enggak kalau baca tulisan lama?
Enggak. Soalnya aku yang baca sendiri.


Aktivitas yang padat dijalani Fahrein juga selaras dengan popularitasnya di dunia nyata ataupun dunia maya. Jika istilah influencer atau selebgram sedang banyak kita dengar, ya, Fahrein adalah salah satunya.

Popularitas ini dianggap Fahrein sebagai hal positif, meski ia sebetulnya lebih suka dibilang aktif ketimbang populer. Secara garis besar, perjalanan Fahrein selama SMA hingga saat ini identik dengan komunitas pelajar atau mahasiswa.

Tapi, popularitas itu mengganggu enggak sih? Biasanya kan anak kuliah sekarang dikit-dikit bahas ruang privat, dikit-dikit bahas privacy. Walau sebetulnya kadang kita bingung ruang privat itu ada enggak sih di sini?
Penting banget buat kita belajar kecerdasan emosional saat bermain media sosial. Kita jadi belajar buat fokus sama apa yang bisa kita kontrol aja. Masalah respons orang atau feedback di medsos akan unggahan kita itu kan enggak bisa kita jaga ya.

Jadi ada batasan enggak sih buat kamu kalau mau posting sesuatu di media sosial?
Saat kita makin aktif di media sosial, kita memang harus siap sama dampak dari apa yang kita posting sih. Karena orang lain punya hak untuk bicara apapun, walau sebetulnya kita yang lebih tahu apa yang kita lakuin tuh baik atau enggak. Dan berusaha untuk lebih baik dan belajar menjaga emosi aja saat bermain medsos.

Tapi enggak merasa ruang privat kamu hilang enggak sih sebagai selebgram ini?
Enggak sih.

Enggak. Karena masih ada fitur close friend, ya?
Hahahahaha.

Apa yang coba kamu perlihatkan sih di medsosmu?
Aku sih sebenernya lebih seneng masukin konten self awareness aja.

Aktivitas dunia maya yang tinggi juga dibarenginya dengan upaya mencintai diri sendiri. Ini jadi catatan penting loh, TemanBaik. Saat kita aktif di dunia maya, kita berpotensi tersugesti buruk dari kesuksesan teman kita di dunia maya. Nah, upaya mencintai diri sendiri atau self love ini juga digalakkan oleh Fahrein sebagai batas. Artinya, boleh banget kita aktif di dunia maya dan lingkungan sosial, namun, utamakanlah diri kita sendiri sebelum melihat orang lain.

Definisi self love itu sendiri apa sih buat kamu? Dan kenapa penting banget ini diterapkan?
Hhhmmm. Ini tuh kayak bagaimana kita mencintai diri sendiri. Dan aku sih mulai menerapkan kayaknya lebih baik kita ngomongin diri sendiri (introspeksi) ketimbang ngomongin orang lain. Iya enggak sih?

Upaya lainnya? Apakah menulis masuk juga?
Bisa jadi. Ya karena aku memang rutin nulis tadi kan.

Pernah enggak sih ada rasa enggak nyaman sama diri sendiri?
Pernah dong. Tapi aku cepet kok recovery-nya.

Gimana caranya biar bisa balik ke mood terbaik?
Aku sih dengan ketemu dan ngomong sama orang. Aku biasanya suka memuji mereka. Dan saat kita memuji orang, nebarin positive vibes gitu, suka nular loh.

Anak muda sekarang tuh kan kayak dituntut sukses sebelum usia 25 lah ya. Nah, itu berat enggak sih buat kamu?
Sangat. Ya karena dunia makin kompetitif. Kita sebagai mahasiswa tuh kayak dituntut buat jadi SDM yang berkualitas.

Itu jadi beban enggak sih? Jadi ngebandingin diri sendiri sama orang lain?
Iya, dan ini tuh jadi pelajaran aja buat aku: jangan sesekali bandingin diri kita dengan orang lain. Karena enggak akan pernah sama. Dan tekanan-tekanan ini bikin aku jadi belajar mengolah rasa insecure saat lihat temen lebih sukses lah.

Jadi sebetulnya ini lebih ke masalah manajemen perasaan ya?
Iya. Aku percaya tiap orang punya timeline-nya masing-masing.

Kendati tergolong anak muda yang aktif dan populer, Fahrein merupakan seorang anak yang begitu dekat dengan Ibu. Ia menyebut kedekatan dengan orang tua saat berada di usia produktif adalah sesuatu yang krusial. Lebih jauh lagi, ia mengaku begitu menggemari sosok Ibundanya.

Lebih deket sama Mama ya kamu tuh?
Banget. Aku se-bestfriend itu sama Mama.

Apa sih nilai positif yang kamu bisa lihat dari Mama?
She's strong woman. Beliau adalah pribadi yang sangat bijak, punya toleransi yang tinggi sama sesuatu. Dan aku enggak pernah dimarahin karena sesuatu tanpa alasan.

Gaya bicara Mama saat nyampein nasihat gimana?
Ya, kayak "aku ngasih tahu ini demi kebaikan kamu. Kalau kamu ngerasa punya pendapat lain, it's okay, kamu bisa sampaikan, kita bisa diskusi, dan cari jalan keluar." itu yang terngiang.

Pesan paling nempel dari Mama?
Kalau misalnya aku lagi di luar rumah nih, Mama biasanya bilang: "aku enggak pernah ngelarang kamu untuk ngapa-ngapain, Aku percaya kamu sudah cukup dewasa, sudah cukup bijaksana dalam mengambil keputusan. Jadi apapun yang kamu lakukan, itu ada pertanggung jawabannya." Jadi aku diberi kebebasan yang bertanggung jawab.

Sebagai penutup, Fahrein berharap dirinya masih bisa lebih jauh untuk berkembang. Ia mengaku sudah menemukan cita-citanya, walau masih ingin menemukan lebih banyak lagi profesinya. Ia juga berpesan agar kita enggak membatasi diri untuk melakukan hal apapun selama niatnya adalah berbuat kebaikan.

Apa sih cita-cita kamu? Udah menemukan?
Walau masih berubah-ubah ya, yang jelas aku kepengin jadi orang yang berguna aja untuk orang banyak.

Punya pesen enggak sih buat mereka yang mungkin saat ini masih di persimpangan, belum menemukan tujuan hidup dan ada di fase krisis kepercayaan diri?
Jangan pernah membatasi diri kita untuk melakukan apapun selama itu untuk kebaikan. Sebab kita bisa belajar apapun dan dari siapapun.

TemanBaik, masa muda adalah masa paling indah dalam hidup manusia. Selagi kita masih punya energi untuk beraktivitas dan berkegiatan di luar, lakukan dan maksimalkan waktu terbaik ini. Namun, sebagai rem agar kita tak kebablasan, ada baiknya sisi aktif dalam diri kita dibarengi dengan upaya mencintai diri sendiri.


Jadi, masih punya alasan untuk terus murung sendirian? Nah, yuk bangkit dan tengok ke luar sana. Selamat berakhir pekan, ya!

Foto: Dokumentasi pribadi
Layout: Agam Rachmawan/Beritabaik.id 


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler