Ngobrol Asyik tentang Sejarah Bareng Alex Komunitas Aleut

Bandung - Kenalin nih, TemanBaik kita pekan ini. Namanya Ariyono Wahyu Widjajadi atau akrab disapa Alex. Ia pegiat sejarah di Komunitas Aleut.

Komunitas Alet sendiri adalah kumpulan para penyuka dunia sejarah. Mereka kerap melakukan berbagai penjelajahan hingga mengorek informasi baru sejarah yang belum atau jarang terungkap.

Di Komunitas Aleut, Alex kerap jadi pemandu alias storyteller saat melakukan perjalanan. Ini tak lepas dari informasi atau pengetahuan seputar berbagai sejarah yang bisa dibilang menumpuk dalam kepalanya.

Selain itu, Alex juga sering diundang menjadi narasumber dalam kegiatan yang membahas seputar sejarah, khususnya sejarah Kota Bandung. Perjalanan pria yang lahir dan besar di Bandung itu pun menarik. Yuk, kenal lebih dekat dengan Alex.

"Dari dulu saya suka dongeng yang sifatnya storytelling. Dari kecil juga suka didongengin. Ketika udah bisa baca, sama orang tua dikasih bacaan majalah anak kecil. Dulu kan ada majalah Bobo, isinya kan lebih banyakan cerita-cerita anak-anak," kata Alex membuka perbincangan.

Seiring berjalannya waktu, kegemaran Alex membaca semakin luas. Apalagi, orang tuanya kerap membelikannya bahan bacaan sejak kecil, mulai dari komik, cerita bersambung, hingga legenda.

"Beranjak lebih besar, saya dijejali buku '5 Sekawan'. Hampir setiap caturwulan atau pas libur sekolah, suka dibeliin. Dulu, hampir semua serial '5 Sekawan' punya. Dari situ jadi lebih suka kisah-kisah gitu," ucapnya.

Alex akhirnya punya ketertarikan tersendiri pada bacaan-bacaan berbau sejarah. Menurutnya, sejarah sangat menarik. Bahkan, ia memandang ada gaya yang sama antara sejarah dan dongeng yang dulu sangat digemarinya.

"Sejarah tuh kisah. Jadi nerusin latar belakang saya yang suka dongeng, saya jadi suka sama sejarah," ungkapnya.


Bertepuk Sebelah Tangan
Saking cintanya pada hal-hal berbau sejarah, saat SMA, Alex memilih masuk jurusan ilmu pengetahuan sosial (IPS). Salah satu alasannya karena pelajaran sejarah yang bisa dipelajari.

"Waktu SMA, saya masuk sosial (IPS) karena ngerasa enggak mampu masuk eksak. Itu berlawanan sama keinginan orang tua. Tapi, akhirnya saya masuk ilmu sosial, terutama karena suka sejarah," tuturnya.

Terus, kuliah juga ngambil jurusan sejarah?
Ketika mau kuliah, ketika mau ambil sejarah, itu enggak dibolehin. Jadinya salah ngambil jurusan, malah ke ekonomi. Padahal, saya ngehindarin yang berhitung, di sana ada manajemen risiko, akuntansi juga, ada statistik, dan lain-lain.

Kok, jadi ke ekonomi masuknya?
Terpaksa, terus enggak tahu, enggak nyari lebih banyak informasi soal jurusan itu. Jadinya salah pilih. Kuliahnya juga setengah-setengah lah, setengah hati. Masa kuliahnya juga panjang, tapi beres.

Tapi bisa beres kuliah meski enggak menikmati, gimana ceritanya?
Beres kuliah mah mau enggak mau, harus, karena udah masuk, sayang kalau enggak diselesaikan. Sebenarnya, kalau ditanya keinginan, enggak banget.

Bagi Alex, menyelesaikan kuliah ibarat jadi tanggung jawab tersendiri. Meski tak sejalan dengan hati, ia harus menyelesaikan agar tak menuai kecewa orang tuanya. Ia pun memahami saat orang tuanya tak memberinya restu kuliah jurusan sejarah. Sebab, Alex tahu betul pemahaman serta pengetahuan ia dan orang tuanya berbeda.

Setelah lulus, bidang pendidikan yang ditempuh pun mengantarnya bekerja di salah satu perusahaan di Bandung. "Kerjaan saya agak nyambung sama latar belakang pendidikan. Saya karyawan di salah satu perusahaan investasi berjangka. Saya di bagian yang lebih ke admin," ucapnya.


Cara Mendalami Sejarah
Meski kuliah hingga bekerja di dunia yang bukan passion-nya, di saat bersamaan Alex tetap menekuni kegemarannya dalam dunia sejarah. Ia kerap membaca buku berbau sejarah dengan mengunjungi perpustakaan hingga ke toko buku. Khusus ke toko, ia mengaku kerap membaca buku yang sudah dibuka kemasannya.

Setelah bekerja, Alex ibarat mendapat celah lebih dekat dengan sejarah. Di sela waktu luang, ia kerap mencari hal-hal berbau sejarah lewat internet. Dari situ, ia mulai mengenal Komunitas Aleut.

Gimana ceritanya nyari hal berbau sejarah di sela pekerjaan?
Iseng aja kalau lagi enggak ada kerjaan. Ketika itu internet setelah 2012 kan lebih mudah diakses. Jadi di kantor suka buka internet, suka browsing, suka ikutin catatan perjalanan, dulu masih blog Komunitas Aleut.

Dari situ suka ikutin kisahnya. Ini asyik nih kegiatannya bisa walking tour ke tempat sejarah, diceritain, enggak cuma jalan ke tempat sejarah, enggak cuma pergi ke mana terus lihat tempatnya gimana. Terus pengalamannya dituliskan (lewat blog) atau nemu tokoh apa dituliskan. Dari situ saya beranikan diri buat ikutan (bergabung Komunitas Aleut).

Tahun berapa mulai gabung Komunitas Aleut?
Dulu ikut kegiatannya dulu. Karena di Aleut itu asal udah pernah ikut kegiatan, berarti sudah dianggap anggota. Dari anggota biasa, jadi pengin ikut lebih jauh. Itu tahun 2013. Kegiatan pertama yang saya ikutin, Aleut tuh bikin konsepnya kayak amazing race, yang kayak ngelacak jejak BLA (Bandung Lautan Api). Dari situ suka ikut seminggu sekali.

Di sela waktu luang suka baca buku juga, suka nemu hal baru enggak?
Kadang kita nemuin info yang enggak ditemuin di buku lain. Contohnya, walaupun kadang ada yang malas baca buku biografi seseorang karena enggak spesifik, enggak membahas khusus tentang Bandung. Padahal si tokoh ini mungkin pernah hidup di Bandung. Padahal infonya lumayan valid karena mereka merasakan dan mengalami langsung dan dia ceritakan dalam biografinya.

Ada contoh informasi baru seputar sejarah yang ditemukan?
Kalau ngambil contoh, banyak fakta atau info, kayak contohnya Bung Hatta, kita tahu Bung Karno pernah tinggal di Bandung, ternyata Bung Hatta juga sempat tinggal di Bandung walaupun enggak menetap. Dalam seminggu, dia habisin setengah minggunya, dia ngebagi weekend-nya tuh tinggal di Bandung karena ngurusin PNI baru.

Berbagai informasi seputar sejarah pun terus bertambah. Ia kerap menemukannya dalam berbagai hal, mulai dari buku, perjalanan ke suatu tempat, hingga ngobrol dengan pelaku atau saksi sejarah dan keturunannya.

Peran Baru hingga Melawan Malu
Seiring aktifnya Alex di Komunitas Aleut, ia akhirnya diarahkan jadi storyteller dalam sejumlah kegiatan. Hal ini membuatnya semakin mendalami berbagai hal-hal seputar sejarah. Berbagai informasi dicari dari beragam sumber untuk memperkaya referensi dan pengetahuannya.

Bagi Alex, berbicara di depan banyak orang bukan hal mudah. Sebab, sejak kecil ia mengaku sosok introvert alias tertutup. Namun, aktifnya ia di Komunitas Aleut membentuknya jadi pribadi yang lebih berani berbicara di depan orang banyak.

Memang Kang Alex dulunya pemalu? Gimana pas awal-awal ngomong di depan orang banyak, khususnya dalam kegiatan di Komunitas Aleut?
Awalnya canggung banget. Saya awalnya introvert, pemalu banget. Saya tuh pemalu, bicara di depan umum tuh enggak biasa. Saya juga jarang ngomong kalau enggak ditanya, ngomong seperlunya, karena cenderung enggak suka bsa-basi juga karena takut dianggap sok kenal sok dekat.

Nah, membiasakan diri bicara di depan orang banyak gimana?
Dari situ, ya udah, 'kamu mau enggak mau harus bisa ngomong (di depan banyak orang)'. Contohnya kalau lagi kegiatan ngaleut (perjalanan Komunitas Aleut ke suatu tempat), kan harus gasih info. Jadi, mau enggak mau harus nundukin rasa malu itu.

Walaupun enggak semua terkikis, tapi bisa nekan rasa malu (secara perlahan). Akhirnya, ya udah, (lama-lama) menimbulkan kepercayaan diri. Dulu saya ngomong (panjang lebar) kayak gini juga susah. Jangankan ngomong di depan orang banyak, ngobrol juga harus kenal beberapa kali, itu baru bisa ngobrol banyak. Kalau sama yang baru kenal saya enggak bisa (ngobrol panjang lebar).

Aktifnya Alex dan pengetahuan sejarahnya juga mengantarnya jadi narasumber. Ia kerap diminta jadi pembicara untuk membahas hal-hal berbau sejarah, terutama sejarah Bandung. Peran ini seolah menambah 'kekuatan' Alex saat berbicara di depan banyak orang. Ia semakin terbiasa jadi pembicara.

Sebagai narasumber kegiatan, materi pun kerap datang. Namun, ia tak berorientas pada materi dari perannya sebagai narasumber. Ia justru memandang ada sisi lain yang lebih besar. Dengan menjadi narasumber, ia bisa terhubung orang baru hingga 'melebarkan sayap'.

Contohnya, ia kini bisa membuat artikel atau tulisan yang dimuat di media massa. Sehingga, ia tak hanya menyalurkan kegemarannya menulis seputar sejarah di laman Komunitas Aleut saja. Ini jadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan satu sama lain.

"Kalau saya enggak ikutan Komunitas Aleut, kemudian harus membaca, dan mungkin infonya yang didapat enggak dituliskan, saya enggak mungkin, misalnya nulis buat Bandung Bergerak, buat Tirto," ujar Alex.

Ia sendiri cukup gemar menulis. Meski mengaku belum sempurna dan perlu banyak belajar, ia menikmati proses menulis. Isinya pun enggak jauh-jauh dari sejarah, termasuk hal-hal baru yang ditemukannya.

Baginya, menulis dirasa lebih mudah ketimbang menceritannya secara lisan. Sebab, ada banyak hal yang menumpuk dalam pikirannya. Jika tak dituliskan, apa yang ada dalam benaknya kadang sulit diungkapkan.

Eh, ngomong-ngomong, Kang Alex punya hobi lain enggak di luar hal-hal berbau sejarah?
Saya juga punya hobi lain, musik, saya dulu suka band-band-an. Sampai sekarang masih, itu jadi salah satu hobi saya, nama band-nya The Clown. Ketika zaman (suka ada konser di GOR) Saparua, saya ikut di dalamnya itu. Itu sisi lainnya saya, walaupun kadang saya enggak mau orang tahu.

Personelnya masih lengkap?
Gonta-ganti personelnya, tapi personel awal masih ada, salah satunya saya.

Posisi di band?
Saya vokalis.

Kok bisa, introvert tapi kok milih jadi vokalis? Kan itu tampil paling depan dan harus ngomong.
Kalau lihat saya manggung, saya engak bisa bergaya. Tapi, itu bagian dari menaklukkan rasa malu itu. Mau enggak mau harus tampil, harus keluar suara.


Hikmah Hidup Berkomunitas
Menjadi bagian Komunitas Aleut sangat disyukuri Alex. Sebab, ia mendapat banyak hal berharga setelah aktif di sana. Ia bisa lebih mendalami dunia sejarah, menambah teman, punya jejaring lebih luas, jadi penulis, jadi narasumber, serta beragam hal positif lainnya.

Paling terasa, ia bisa jadi pribadi yang lebih terbuka, berani berbicara di depan banyak orang. Singkatnya, ia bisa melawan introvert yang selama ini cukup lekat dengannya.

Di saat bersamaan, lewat peran yang dijalankan, Alex ingin berusaha memberi manfaat. Setidaknya, pengetahuan yang didapatkannya tak dipendam sendirian.

"Harapannya saya, ke depannya bisa bermanfaat bagi orang banyak. Makanya saya salah satu alasan suka nulis tuh ingin berbagi info yang saya tahu. Atau mandu, bagi saya itu salah satu cara saya bisa ngasih sesuatu ke orang lain. Itu yang bisa saya lakuin," pungkas Alex.

Sehat selalu Kang Alex, semoga lancar dengan segala aktivitasnya..


Foto: Dokumentasi pribadi
Layout: Agam Rachmawan/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler