Farobi Win Agustin dan Ceritanya Jadi Pemandu Pameran

Bandung - TemanBaik, kita kenalan sama Farobi Win Agustin, yuk! Ia berprofesi pemandu pameran di Selasar Sunaryo Art Space.

Banyak hal menarik dari Farobi. Perbincangan santai pun melahirkan aneka cerita dan pengalamannya seputar dunia pemandu pameran.

Pemandu pameran sendiri kadang jadi sosok terlupakan dalam sebuah pameran. Padahal, sosok ini paling setia selama pameran berlangsung. Apa sih petingnya pemandu pameran ini?

Tugas pemandu pameran ini tak sekadar membacakan tata tertib mengunjungi pameran saja. Pemandu pameran juga dibekali pengetahuan mengenai pameran yang sedang berlangsung.

Farobi berkisah perjalanannya menjadi pemandu pameran. Berawal dari kesempatan terlibat sebagai pemandu dalam pameran seni di Selasar Sunaryo Art Space pada 2017, siapa sangka, pekerjaan ini justru langgeng dengannya.

Usianya baru 22 tahun. Masih muda sekali, bukan? Meski begitu, pengetahuannya pada bidang seni enggak bisa diragukan. Ya, kami berani bilang begitu karena ia cukup banyak mempelajari karya-karya seni yang dipamerkan, khususnya di Selasar Sunaryo Art Space.

Meski perannya kerap terlupakan, namun jangan salah, pemandu pameran boleh jadi adalah penyampai pesan pertama dari seniman kepada audiensnya. Bayangkan jika kamu datang ke pameran seni, lalu kamu ingin bertanya seputar karya yang ditampilkan, sedangkan kurator pamerannya tidak ada di tempat, pemandu pameran akan mengambil alih peran itu.

Pekerjaan ini boleh jadi tidak mudah, namun boleh jadi tidak sesulit yang dibayangkan. Kuncinya; mau belajar dan cepat beradaptasi. Bagaimana sih proses adaptasi pria yang akrab disapa Obi ini? Simak obrolan kami yuk!

Hai, Obi! Waduh lagi sibuk banget ya mondar-mandir memandu pameran?
Hai! Waduh, iya nih.

Bi, kok bisa kerja di sini sih? Gimana awalnya bergabung di Selasar Sunaryo Art Space?
Saya udah kerja di sini dari 2017. Kerja lepas sih jatuhnya, freelance. Nah, pas 2017 itu saya lagi SMA. Teman-teman sebaya saya mulai banyak yang menjajal dunia kerja. Ada yang pada jadi barista, misalnya. Nah, saya enggak ngambil jalur ke situ karena punya asam lambung. Akhirnya sempet nyobain jadi driver ojol. Enggak lama dari situ, saya ditawarin teman di sekitar rumah, katanya "mau enggak kerja, jadi exhibition guide?" ,saya terima lah tawaran itu. Eh, enggak taunya manjang nih sampai sekarang (kerjaannya).

Obi sendiri memang tertarik sama seni atau gimana?
Ini menarik. Saya justru banyak dapet pembelajaran soal seni setelah ada di sini. Sebelumnya, saya memang tertarik sama bidang fotografi dan musik. Walau keduanya, untuk saat ini sih masih belum saya lanjutkan karena satu dan lain hal.

Pameran pertama yang Obi terlibat sebagai pemandu, masih ingat?
Masih dong. Pamerannya Enora Lalet, judulnya 'Tata Boga', itu tahun 2017. Pamerannya bertemakan tata boga. Ikutan wawancara buat jaga pameran di SSAS, ditanya-tanya standar lah seputar kegiatan, kenapa pengin gabung ke sini, dan lain-lain. Singkat cerita, ya akhirnya saya debut di pameran itu sebagai pemandu.

Setelah debutnya berlangsung lancar, Obi akhirnya jadi 'rajin' hadir sebagai pemandu pameran di kesempatan-kesempatan berikutnya. Ia menceritakan pula karena banyaknya ketersediaan pemandu pameran, pihak Selasar Sunaryo Art Space melakukan wawancara ulang, yang mana Obi juga dipanggil untuk mengikutinya.

Sejumlah kriteria dikemukakan, mulai dari kemampuan penggunaan Bahasa Inggris, hospitality, dan komunikasi aktif. Tidak lupa juga kemampuan beradaptasi dengan sajian para seniman.

Untungnya Obi cukup jago Bahasa Inggris ya?
Hahaha. Alhamdulillah, ada bekal. Nah, penggunaan Bahasa Inggris ini, karena memang di Selasar Sunaryo Art Space, ada beberapa tamu dari luar, atau bahkan dari sekolah internasional. Kalau sekolah internasional itu sendiri, sekolahnya sih di Bandung, tapi kadang ada permintaan dipandu pakai Bahasa Inggris. Makanya, ya, di sini sih tantangannya.

Kok bisa sih Bi memahami sebuah karya itu cepet banget? Biasanya kan dari pameran A ke pameran B nih, jedanya bahkan cuma dua-tiga hari, kan. Itu gimana caranya Bi?
Hmmm. Karena ada tantangan sih. Dan sejujurnya emang aku tipikal orang yang suka tantangan. Jadi kayak "oke, kita harus pelajari ini'.

Dan gimana cara menyampaikan atau istilahnya jadi penerjemah lah ya, secara enggak langsung kan, antara seniman dan audiens?
Perspektif terhadap seni itu sendiri penting. Kalau saya menganggap seni bisa kita lihat dari berbagai sudut pandang. Biasanya, saat ada pengunjung yang datang lalu bertanya "ini tuh karyanya gimana sih? Tentang apa?". Saya akan jawab dan biasanya saya akan tanya kembali "perspektif kamu terhadap karya ini gimana sih?". Sehingga, muncul juga interaksi dengan pengunjung.

Proses mengenal seni banyak dialami Obi di Selasar Sunaryo Art Space. Kendati banyak memandu judul pameran di SSAS, Obi mengaku ketertarikan secara personal muncul saat ia memandu pameran bertema fotografi dan film.

Ada kaitannya sama ketertarikan kamu di fotografi enggak sih?
Iya. Kayaknya sih emang karena secara enggak sadar saya seneng motret atau sesuatu yang ada kaitannya sama kamera mungkin ya.

Di luar unsur itu, apa kunci memahami sebuah karya sampai kamu bisa menerjemahkannya sama pengunjung?
Adaptasi. Di sini enggak menuntut kamu untuk paham akan sebuah karya, tetapi tuntutan itu muncul dari kehadiran pengunjung. Dan itu kerasa banget sama saya. Pada akhirnya, saya terus beradaptasi sama keadaan dan jadi terus belajar.

Menjalani pekerjaan sebagai pemandu pameran bukannya tanpa tantangan. Apalagi, saat ini Obi merupakan mahasiswa aktif di Universitas Padjadjaran. Ia mengambil jurusan Manajemen Produksi Media dan sedang menempuh semester lima.

Seperti pada umumnya TemanBaik yang menjalankan kuliah sembari bekerja, manajemen waktu disebutnya sebagai senjata ampuh agar hari-hari tak jadi berantakan. Manajemen waktu ini terus dilatih oleh Obi, sembari ia melatih untuk menetapkan prioritas hidup.

Manajemen waktu sih udah mutlak yah, Bi, dalam situasi yang mana kamu kuliah sambil kerja?
Ya! Itu penting banget. Dan karena memang ini pekerjaan lepas, alhasil jadwalnya pun menyesuaikan dengan jadwal kuliah saya. Ada hari-hari di mana saya memilih udah diam di rumah saja, kuliah, nugas, ada hari-hari di mana saya berkegiatan di SSAS.

Kalau tantangan dari pekerjaannya sendiri? Ada enggak sih misalnya pengunjung yang bertanya, tapi pertanyaannya sotoy?
Wah. Enggak ingat. Aku mencoba untuk enggak judgemental.

Wah, anda ini positive vibes sekali, ya?
Hahahahahaha. Tapi ya, memang. Ada sih beberapa orang yang datang ke sini dengan karakter yang, hmmm, kita sebut mereka unik lah ya.

Seperti apa keunikannya? Dan gimana kamu mengatasinya jika itu mengganggu?
Gini. Ada satu momen di mana SSAS ter-blow up di TikTok. Hal itu pada akhirnya memengaruhi jumlah kunjungan. Biasanya, di weekday itu saya memandu 20 sampai 30 orang. Nah karena viral itu, jumlah kunjungannya bisa mencapai 200 sampai 350 orang. Dalam sehari saya memandu orang segitu banyaknya. Dan jadi menarik, karena ada sebagian dari mereka, datang ke sini tujuannya enggak sepenuhnya untuk mengapresiasi karya. Kalau boleh kita sebut istilah sih, FOMO, lah ya. Tapi ya sudah. Itu pilihan mereka, dan saya tetap respek.

Wah. Seru nih. Coba lanjut lanjut, Bi..
Nah, tetapi, ada kalanya di mana aku merasa fed up (kesal) nya ini, saat ada pengunjung yang tidak mengapresiasi seni pada tempatnya. Contoh: ada orang yang nanya ke saya "mas, karya ini tentang apa sih?", pas saya jelasin, dia matanya malah ke mana, malah kayak enggak serius gitu. Padahal kan dia yang nanya. Dan ada aja nih, saat aku menjelaskan tentang peraturan mengunjungi pameran kayak jangan menyentuh karya, dilarang mengambil gambar dengan kamera profesional, dan banyak peraturan lainnya, itu kayak enggak didengerin.

Kesalahan paling parah yang kamu temuin di ruang pamer tuh apa sih Bi?
Waktu itu pernah ada pengunjung yang menginjak instalasi karya. Ya, ini konyol sih. Tapi, gimana caranya sebagai pemandu pameran saya tetap bisa menyajikan hospitality yang baik, komunikasi yang baik, tapi mengawasi karya-karya para seniman ini juga dengan baik. Jadi, yang saya lakukan ya mengingatkan si pelanggar ini. Dan untungnya mereka ngerti.

Mengenai penggunaan kamera: kenapa sih orang-orang enggak boleh motret pakai kamera profesional dalam sebuah pameran?
Pertanyaan ini juga sering saya dapetin dari pengunjung yang kepengin motret pakai kamera selain dari ponsel. Pernah ada pengunjung yang mau berfoto pakai kamera polaroid atau kamera analog misalnya, nah, itu saya jelasin. Pertama, aturan dari SSAS-nya sendiri memang tidak memperkenankan pengunjung berfoto dengan kamera profesional, ya kecuali dari media atau orang SSAS. Kedua, memang senimannya ini kepengin citra dari karyanya enggak rusak. Kamera profesional ini kan hasilnya bisa sangat detail, dan kita menghindari potensi plagiat (untuk karya seniman yang dipamerkan) karena gambar hasil pengunjung yang berfoto nanti tersebar, gitu.

Dan tanggapan pengunjung gimana?
Ya, pernah juga digas saya: "kok enggak boleh? Emangnya kenapa?" atau malah kecolongan, tiba-tiba jepret aja. Waduh. Ya paling saya ingetin lagi kalau kecolongan.

Di luar kegiatannya sebagai pemandu pameran, Obi juga sempat menjalani beberapa bidang pekerjaan lepas sebagai fotografer dan musisi. Namun, kebersamaannya dalam kegiatan-kegiatan tersebut terbilang relatif singkat. Saat ini, ia memutuskan fokus menyelesaikan kuliah sembari berkegiatan di Selasar Sunaryo Art Space.

Kalau band, bubar atau gimana?
Hhhmmm. Itu saya berenti main musik karena satu alasan dan lain hal lah. Ya, intinya visi misinya juga memang beda aja.

Kamu main alat apa di bandnya?
Saya vokalis. Dan bandnya juga belum terkenal. Itu temen-temen SD ngajak main musik. Format bandnya udah ada, saya masuk belakangan sebagai vokalis. Yah, karena enggak cocok, akhirnya bubar sih, mungkin belum berjodoh aja dengan bidang musik.

Kendalanya apa sih di musik?
Jadi, si band ini udah jalan setahun, tapi kayak masih nyari jati diri, ini genrenya mau ke mana, mau ngapain, mau bikin karya satu aja sesusah itu. Akhirnya kita kalau manggung enggak pernah bawain lagu sendiri, selalu cover lagu orang. Proses berkaryanya ini enggak jadi terus.

Kalau di fotografi sendiri gimana?
Sempet ngejajal freelance motret gitu sih.

Berarti kerja sampingan sebagai pengemudi ojol udah ditinggalin nih?
Saat ini sih ditinggal semua kerjaan. Mungkin karena saya orangnya agak realistis juga kali, ya. Jadi, saya liat nih, kerjaan apa yang dalam sebulan saya tetap punya jaminan dipekerjakan, saya bisa stay dan fokus kerja, tapi ada hari-hari di mana saya juga menyelesaikan kuliah. Dan memilih tetap di sini (SSAS) itu udah yang cukup ideal sih buat saat ini.

Empat tahun aktif dan bersinggungan dengan kegiatan seni, rupanya ada banyak hal yang mengubah pribadi Obi. Perubahan ke arah positif ini berangkat dari sifat seni yang universal dan tidak bisa dikotak-kotakan. Selain itu, ia mengaku jadi lebih terlatih dalam membagi waktu.

Apa sih pelajaran yang diambil, khususnya selama menjalani pekerjaan ini?
Aku belajar banget seni itu luas banget dan enggak bisa dikotak-kotakin. Dan itu ngaruh ke perilaku juga: saya berusaha tumbuh jadi pribadi yang menghargai perbedaan, soalnya enggak beda sama seni, setiap orang punya perbedaan dan enggak mungkin jadi sama.

Level mengapresiasi seni juga naik ya?
Gini deh. Misalnya kita punya pemikiran "yah, ginian doang mah gua juga bisa" saat ngeliat sebuah karya seni. Pola pikirnya bergeser jadi "wah, gila ya. Yang seperti ini bisa terpikir dibikin jadi karya seni". Dan saya jadi lebih bisa mengapresiasi karya seni. Lebih ngambil dari perspektif yang positif.

Harapan untuk kegiatan Obi saat ini? Apakah mau terus kerja di bidang yang bersinggungan sama seni?
Semoga aku terus bisa jadi pribadi yang terbuka sama orang, sama apapun, dan enggak berpikir kaku. Enggak selamanya satu tambah satu sama dengan dua.

Ada pesan buat temen-temen yang sedang menjalani kuliah sambil bekerja?
Ini soal manajemen waktu, sih. Tapi, itu semua bisa dilatih. Gimana caranya kita mengatur waktu. Dan jangan ragu kalau kamu pengen nyobain kuliah sambil kerja, karena akan ada masanya kita benar-benar diuji saat masuk ke dunia profesional. Dan kita jadi punya bekal untuk itu.

TemanBaik, perjalanan Obi tentu belum berakhir di sini. Boleh jadi, di masa depan, ia akan terus bertumbuh jadi seseorang dengan karya dan ide yang muncul ke permukaan. Enggak hanya itu, pertemuan dengan Obi juga bisa menyadarkan kita akan pentingnya peran seseorang yang mungkin sering terabaikan dalam sebuah kegiatan.

Maka dari itu, yuk sama-sama lebih peka melihat sekeliling kita. Kadang, sesuatu yang terlihat kecil, rupanya memiliki makna sederajat dengan apa yang dilihat sebagai sesuatu yang besar.

Oh ya, sejak diberlakukannya relaksasi pembatasan wilayah atau PPKM, beberapa hajatan seni seperti pameran mulai rutin lagi dilakukan nih. Selamat mengapresiasi dan jangan lupa tetap jaga protokol kesehatannya, ya.

Selain itu, kalau bertemu pemandu pameran seperti Obi, jangan lupa disapa dan diperhatikan betul arahan-arahannya ya, supaya kita tumbuh jadi apresiator seni yang semakin baik.

Semoga akhir pekanmu menyenangkan, TemanBaik!


Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler