Christina Riani, 28 Tahun Menjadi Ibu Asuh untuk Puluhan Anak

Bandung - Christina Riani sudah 28 tahun menjalankan tugasnya sebagai ibu asuh di SOS Children's Villages di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Ada banyak lika-liku yang membuatnya layak disebut sebagai sosok ibu hebat. Simak kisahnya, yuk!

Pada 1992, perempuan berusia 51 tahun mulai bekerja di SOS Children's Villages. Tugas awalnya adalah menjadi asisten ibu asuh selama dua tahun. Tugasnya adalah membantu segala hal yang diperlukan ibu asuh dalam mengasuh anak-anak di sana.

Sebelum diterima bekerja di sana, perempuan yang akrab disapa Rini itu bekerja sebagai pengasuh di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC). Ia melamar bekerja ke SOS Children's Villages karena ingin mendapatkan pengalaman baru.

Setelah melalui serangkaian tes, Rini yang saat itu berusia 24 tahun akhirnya diterima. Tugas pertamanya sebagai tante alias asisten ibu asuh. SOS Children's Villages sendiri merupakan tempat pengasuhan anak-anak dengan berbagai latar belakang. Mereka dibesarkan di sana dengan gaya pengasuhan keluarga seperti di kehidupan keluarga lain pada umumnya.

Begitu diterima, ia mengalami pergolakan batin yang luar biasa. Sebab, ia dihadapkan pada anak asuh dengan berbagai usia dan latar belakang beragam. Apalagi, ia masih berusia 24 tahun saat itu serta belum menikah dan punya pengalaman sebagai seorang ibu.

"Di situ saya mengolah batin saya, apakah saya siap menjadi seorang ibu?" ujar Rini.

Baca Ini Juga Yuk: Perjalanan Nurhayati, Menerima & Membesarkan Anak dengan Cinta

Ia pun sempat berpikir hanya akan menghabiskan waktunya selama dua tahun. Sebab, dua tahun itu adalah masa percobaannya bekerja di SOS Children's Villages. Ia sempat berpikir mencari pekerjaan lain jika masa percobaannya sudah selesai.

Sebab, di usia 24 tahun, ia merasa masih menginginkan kebebasan dan menjalani kehidupan normal. Sehingga, ia tak mau berlama-lama bekerja di sana.

Hari demi hari dilalui Rini untuk membantu ibu asuh menjalankan pekerjaannya. Singkat cerita, ia kemudian dipercaya menjadi ibu asuh. Ia bahkan mengurungkan niatnya untuk mengakhiri pekerjaannya dan menjalankan tugas sampai sampai sekarang.

Memutuskan Tidak Menikah
Menjadi ibu asuh membuat matanya semakin terbuka lebar. Sebab, ia harus menangani anak-anak di sana secara langsung. Ia benar-benar bertugas selayaknya ibu bagi anak-anak. Meski bukan anak kandungnya, Rini membesarkan mereka seperti anaknya sendiri.

Tak punya pengalaman menjadi ibu, Rini mendapatkan ilmu menjadi seorang ibu dari berbagai pelatihan dan buku yang dipelajarinya. Sehingga, peran sebagai ibu akhirnya bisa dijalankan dengan baik.

"Dengan jalannya waktu, saya berjanji untuk tidak menikah. Sampai sekarang saya tidak menikah. Menjadi ibu anak-anak ini yang penting buat saya," ungkapnya.

Jelas itu bukan keputusan yang mudah bagi Rini. Namun, janji untuk tidak menikah menjadi hal yang tak bisa ditawar. Tujuannya, ia ingin mengabdikan hidupnya sebagai ibu asuh bagi anak-anak di sana.

Komitmen tidak menikah itu lahir ketika Rini ditanya anak asuhnya. Mereka bertanya pasti Rini akan meninggalkan mereka jika kelak menikah. Setelah merenung, ia sadar betul bahwa anak-anak di sana membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya secara penuh sebagai seorang ibu. Sedangkan jika menikah, otomatis ia harus meninggalkan mereka demi membina keluarga.

Kekuatan hatinya membuat ia akhirnya mantap berjanji tak akan menikah. Bahkan, di usia 51 tahun, ia tak terpikir untuk membina keluarga. Hanya ada satu dalam benaknya, ia ingin mengasuh dan membesarkan anak-anak di SOS Children's Villages sepanjang hidupnya.

Ditolak Keluarga & Diprotes Warga
Pekerjaan menjadi ibu asuh dan janji tidak menikah pun mendapat penolakan dari keluarga, terutama sang ayah. Bahkan, orang tua Rini sampai dicibir bahwa anaknya tak laku. Pergolakan batin Rini pun begitu hebat. Sebab, di satu sisi ia ingin menjalankan tugas dan janji yang jadi pilihannya. Di saat yang sama, ia merasa beban yang ditanggung orang tuanya cukup berat atas pilihannya itu.

"Keluarga besar saya menolak. Saya bertentangan dengan bapak saya karena beliau berprinsip anaknya harus menikah. Orang tua saya dicibir anaknya enggak laku nikah," tutur Rini.

Butuh waktu cukup lama bagi Rini untuk membuat hati orang tuanya luluh. Meski berbagai penjelasan sudah disampaikan, hal itu tak cukup membuat orang tuanya menerima keputusan Rini.

Akal pun terus dipakai bekerja untuk berpikir mencari cara mendapat restu dari orang. Di satu waktu, ia membawa beberapa anak asuhnya ke kampung halamannya di Malang untuk dipertemukan dengan orang tua Rini.

"Sebelum meninggal, waktu ayah saya sakit, saya bawa bayi (anak asuh) ke sana, saya katakan ini cucumu, pak," ungkapnya.

Sempat tidak menerima, akhirnya sang ayah luluh setelah mendapat berbagai penjelasan. Hingga akhirnya, menjelang sang ayah meninggal, restu itu pun didapat. "Detik-detik mau meninggal, baru bapak saya terima, (beliau berkata) 'kalau itu keputusan kamu, kalau itu pilihan kamu, saya serahkan ke kamu'," jelasnya.

Dari situ, semangat Rini semakin besar. Ia menjadi semakin kuat menjalankan tugasnya sebagai asuh. Di saat yang sama, ia juga merasa lega karena restu yang selama ini diharapkan bisa didapatkannya.

Bahkan, sang ayah mempersilakan jika Rini mau membawa anak-anak asuhnya ke sana jika ada waktu libur. Itu jelas seolah jadi sebuah kemenangan besar di balik perjuangan dan pilihan beratnya selama ini.

Tak hanya itu, pikiran orang-orang di lingkungan sekitar tempat tinggalnya di Malang juga dibuat terbuka. Saat membawa rombongan anak asuh berlibur ke sana, mereka sempat berulah selayaknya anak kecil. Anak-anak asuh itu memetik buah-buahan milik tetangga tanpa minta izin lebih dulu.

Baca Ini Juga Yuk: Jasmine Maulidya, Sukses Jadi Hotelier & Ibu Kebanggaan Keluarga

Akibat kelakukan itu, pihak RT dan RW setempat sempat mendatangi Rini dan menegur kelakukan anak-anak asuhnya. Namun, ia kemudian memberi penjelasan siapa mereka dan latar belakangnya. Hal itu membuat mereka yang sempat protes dengan tingkah anak-anak akhirnya lulus.

"Besoknya (setelah menegur), anak-anak panen tebu, apel, rambutan, dan lain-lain. Semua dibawa ke rumah (oleh warga), katanya ini untuk anak-anakmu. Jadi, anak-anak waktu pulang itu dibawain macam-macam sama mereka. Anak-anak juga disuruh main dibawa lagi ke sana," papar Rini.

Jatuh-bangun Mendidik Anak
Menjadi ibu asuh jelas tak mudah. Rini bahkan mengakui kerap jatuh-bangun dalam mendidik mereka. Namun, semangat dari sesama ibu asuh, pengurus SOS Children's Villages, hingga spirit dari anak-anak membuat batin Rini selalu bangkit.

Dalam mendidik anak, ia juga harus menghadapi berbagai karakter. Berbeda dengan anak yang diasuh sejak bayi, Rini juga kerap mengasuh anak yang diterimanya ketika sudah cukup besar, misalnya saat usia delapan atau 10 tahun.

Ia pun punya cara pendekatan sendiri dalam mendidik mereka. Misalnya ketika ada anak yang tak mau berbagi makanan, ia akan melakukan terapi secara perlahan. Di awal-awal, ia bakal berusaha memenuhi semua keinginan anak itu. Namun, secara perlahan, ia menanamkan berbagai hal yang harus dilakukan.

Hal serupa juga dilakukan terhadap anak yang pendiam. Sebab, ia kerap menemui ada anak yang tertutup karena malu untuk meminta sesuatu. Mereka juga masih merasa canggung untuk menganggap Rini sebagai ibunya. Gaya komunikasi personal hingga mengandalkan sentuhan dan belaian jadi kekuatannya untuk merebut hati anak-anak.

Sehingga, anak-anak yang akhirnya tak mau berbagi bisa berbagi, yang tak mau menurut jadi penurut, dan berbagai lika-liku lainnya. Ia menerapkan kedisiplinan dalam berbagai hal. Selain itu, kejujuran dan mau berbagi menjadi hal yang ditanamkan pada mereka.

Rini sendiri menganggap posisi sebagai ibu asuh bukan sebagai pekerjaan. Ia justru lebih menikmatinya sebagai peran seorang ibu yang mengasuh anak-anaknya. Apalagi, ia menganggap mereka seperti anak kandungnya sendiri.

"Saya harus melakukan apa yang sebisa mungkin saya lakukan (sebagai seorang ibu) untuk mereka," tegasnya.

Ia pun membagi cerita soal caranya membuat anak-anak mau berbagi satu sama lain. Misalnya ketika mendapatkan kue dari donatur, ia akan membaginya membagi delapan. Sehingga, semua anak mendapat bagian yang sama rata. Hal seperti itu pada akhirnya juga dilakukan anak-anak. Ketika mendapatkan sesuatu, mereka akan dengan otomatis membaginya agar semua bisa merasakannya.

Rini juga mengajarkan anak-anak agar bisa hidup mandiri. Sehingga, mereka dilatih untuk bisa melakukan berbagai hal. Sebab, ia menanamkan pemahaman bahwa tak selamanya mereka akan hidup di SOS Children's Villages dan dirawat oleh dirinya.

"Saya mengajarkan ke mereka dari kecil kamu harus mandiri," tuturnya.

Ia juga mengajarkan mereka agar selalu hidup dalam balutan rasa syukur dan religius. Ia mempersilakan anak-anaknya beribadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Sebab, itu merupakan ranah personal. Namun, ada ciri khas Rini yang diajarkan terkait rasa syukur.

"Bangun tidur berdoa, ucapkan terima kasih (kepada Tuhan atas segala yang diterima). Mau tidur juga begitu. Itu yang saya ajarkan," kata Rini.

Tak Tidur hingga 'Sekolah' Lagi
Sebagaimana seorang ibu, Rini jelas berkutat dengan berbagai tugas dan keseharian sebagai ibu rumah tangga. Misalnya ketika ada anak yang sakit, ia akan selalu sigap untuk merawatnya. Bahkan, tak jarang ia harus begadang demi mereka.

Selain itu, Rini juga sama seperti orang tua lainnya yang harus menemani anak-anaknya belajar. Apalagi di masa pandemi seperti ini, kesulitan Rini jauh lebih besar dibanding orang tua lainnya.

Dengan delapan anak yang diasuhnya saat ini, mereka bersekolah di tingkatan berbeda. Ada yang SD, SMP, SMA, termasuk ada yang TK. Terbayang kan bagaimana rumitny Rini membagi waktu membantu anaknya belajar daring?

Karena itu, ia harus pintar-pintar membagi waktu agar semua anaknya bisa didampingi belajar daring dan mengerjakan tugas sekolah. Ia pun harus 'sekolah' lagi agar bisa nyambung dengan anaknya.

"Saya sampai istilahnya harus berusaha jadi pintar untuk jadi guru bagi anak-anak. Saya belajar lagi, saya membaca lagi (berbagai mata pelajaran)," tutur Rini.

Meski rumit, ia tetap menikmati proses tersebut. Apalagi ketika nilai yang didapatkan anak-anaknya bagus, hal itu jadi kepuasan tersendiri yang tak bisa diukur dengan materi.

Harapan dan Pesan di Hari Ibu
Sebagai ibu asuh, keinginan Rini hanya satu. Ia ingin anak-anak asuhnya kelak hidup mandiri, sukses, dan bahagia. Itu akan jadi kebanggaannya sebagai ibu setelah bertahun-tahun mendidik mereka­.

"Saya berharap anak-anak bisa menjalankan kehidupan mereka dengan bahagia. Itu keberhasilan saya mendidik sebagai seorang ibu," ucapnya.

Sejauh ini, sudah lebih dari 30 anak yang 'lulus' dari pengasuhan Rini. Ada yang sudah lulus kuliah, ada yang sudah bekerja, bahkan ada yang sudah menikah dan mempunyai anak.

"Sekarang saya punya cucu sembilan. Jadi sekarang sudah dipanggil nenek," ungkap Rini.

Salah satu hal yang membuatnya sangat bahagia adalah mereka tidak melupakan Rini sebagai ibunya. Mereka masih tetap berkomunikasi dan memberi perhatian pada Rini meski ia tak memintanya. Mereka juga masih ingat kapan ulang tahun Rini. Tak hanya itu, mereka juga tak melupakan adik-adiknya dan memberi perhatian.

Secara khusus, ia pun memberi pesan kepada para ibu di luar sana. Jangan pernah melupakan komunikasi dan mengabaikan waktu berkumpul bersama anak. Yang paling ia tekankan adalah jangan kehilangan waktu bersama untuk makan di rumah.

Sebab, makan bersama bisa jadi momentum berkomunikasi dan membangun kedekatan antara orang tua dengan anak. Usahakan setiap hari melakukan itu.

"Kita harus berkomunikasi (dengan anak), menyempatkan waktu baik hanya lima atau 10 menit setiap hari. Itu untuk mendekatkan orang tua dengan anak. Komunikasi dan makan bersama itu penting dalam keluarga," pungkas Rini.

Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler