Iwan Kurniawan dan Ceritanya tentang Temuan Hobbit di Flores

Bandung - Iwan Kurniawan sudah 33 tahun menjadi ahli paleontologi di Badan Geologi. Tentu banyak sisi menarik yang dialami dalam waktu selama itu. Simak ceritanya, yuk!

Iwan menjadi paleontologi sejak 1987. Tugas utamanya adalah melakukan survei lapangan, eskavasi, hingga menemukan fosil untuk dijadikan koleksi di Museum Geologi.

Sejak 2001, ia ditugaskan di Museum Geologi dan kini menjadi kepalanya. Namun, hal itu tak membuat Iwan berhenti dari aktivitasnya sebagai ahli paleontologi. Ia kerap masih terjun ke lapangan dan melakukan penelitian hingga kini.

Sebagai ahli paleontologi, Iwan sudah mengunjungi berbagai tempat di Indonesia. Ia menjadi "pemburu" fosil. Ia sendiri sudah tak ingat berapa banyak fosil yang pernah ditemukan dan ditelitinya. Sebab, sudah terlalu banyak yang ia temukan. Yang jelas, jumlah temuannya sudah ribuan fosil.

Dalam memburu fosil, ia bisa membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan. Ia pun terbiasa jauh dari keluarga demi perburuannya bersama tim. Namun, hal itu dijalani dengan serius dan tak menjadikannya beban.

Sebab, sebagai ahli paleontologi, ada tujuan besar yang ingin dicapai. Keberhasilan pun menjadi hal yang harus diwujudkan. Sebab, ketika tak berhasil dalam perburuan, ada beban moral yang menghantuinya.

"Kalau saya ke daerah tidak menemukan fosil punya beban moral. Tapi, kalau menemukan fosil, itu kebanggaan buat saya," ucap Iwan.

Baca Ini Juga Yuk: #BelakangDapur: Icip-icip Pisang Goreng Nikmat ala Dapur Desy

Temuan Paling Memuaskan
Dari seluruh hasil temuannya, jelas usia fosil yang ditemukan berusia sangat tua. Hal yang diingatnya, ada fosil dari jenis vertbrata yang berusia 2 juta tahun dan jenis molusca berumur 200 juta tahun.

Setiap fosil temuannya memberi kepuasan tersendiri. Namun, ada temuan yang dirasa menjadi salah satu pencapaian terbaiknya. Ia dan timnya berhasil menemukan fosil manusia purba.

"Paling puas saya menemukan manusia purba di Flores tahun 2016, itu baru di-publish 2017, usianya 700 ribu tahun," ucap Iwan.

Manusia purba yang ditemukannya tergolong istimewa. Sebab, itu adalah fosil manusia purba hobbit alias ukuran kerdil yang disebut homofloresiensis. Setelah dipublikasikan, penemuan itu menarik perhatian dunia.

"Saat di-publish di media internasional, itu jadi kebanggaan tersendiri karena dibaca scientist dunia, khususnya di bidang paleontologi," ungkapnya.

Saat itu, fosil manusia purba yang ditemukannya memang tak berupa fosil utuh. Ia dan timnya hanya menemukan gigi serta pecahan rahang dan tangan. Namun, ada data lain yang lebih menarik setelah diteliti lebih lanjut.

"Dari gigi kita bisa memprediksi atau berasumsi kalau yang ditemukan itu tiga individu manusia yang berbeda," jelas Iwan.

Penelitian di Flores sendiri sudah berlangsung selama 22 tahun. Sebelum menemukan fosil manusia purba itu, ia sudah menemukan berbagai temuan. Namun, fosil manusia purba itu ibarat jadi puncak dari pencariannya atas kehidupan masa lampau di sana.

Karena hasil temuan itu, penelitian di sana pun diperpanjang. Tujuannya agar bisa menemukan beragam fosil lainnya. "Kita memperpanjang penelitian di sana sampai 2023 karena ingin menemukan yang lebih dari itu. Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan temuan tengkorak," harap Iwan.

Baca Ini Juga Yuk: Kesetiaan Rachmi Aziah Merawat Peninggalan Maestro Ismail Marzuki

Penasaran hingga Sulit Tidur
Iwan sendiri mengaku punya ketertarikan pada dunia paleontologi sejak muda. Hal itulah yang mendorongnya hingga bisa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan paleontologi.

"Enggak tahu kenapa, saya tertarik aja di (dunia yang berhubungan dengan) fosil," ucapnya.

Menjadi ahli paleontologi sendiri memang tak banyak diminati orang. Namun, ia justru punya ketertarikan lebih sehingga mendorongnya berkutat di dunia paleontologi.

"Orang untuk masuk ke dunia fosil itu sangat sulit. Itu kembali lagi dengan stigma dan paradigma kalau itu enggak ekonomis," ungkapnya.

Ya, masuk di dunia paleontologi memang ada yang beranggapan bukan dunia yang ekonomis alias membuat kaya raya. Itu berbeda dengan dunia bisnis yang dipandang jauh lebih menjanjikan.

Namun, Indonesia memiliki kekayaan fosil yang luar biasa. Hal itu perlu orang yang merasa 'terpanggil' untuk menelitinya. Iwan pun merasa terpanggil sehingga membuatnya konsisten berada di jalur paleontologi sampai sekarang.

Selama perjalanan menjadi ahli paleontologi, tentu ada banyak cerita menarik. Bahkan, tak semuanya merupakan cerita indah. Terkadang, ia harus terlibat dalam konflik sosial dengan masyarakat. Sebab, masyarakat di area yang akan dilakukan penelitian dan eskavasi belum tentu menerima.

Tak jarang ia harus memberi penjelasan panjang lebar agar masyarakat setempat terbuka pemikirannya agar area tempat tinggalnya bisa diteliti dan dieskavasi. Salah satu yang membuat masyarakat menolak adalah karena di area tempat tinggalnya adalah perkebunan atau pemukiman warga.

Namun, sejauh ini masyarakat yang ditemuinya cukup mengerti. Mereka akhirnya paham dengan penjelasannya bahwa eskavasi punya tujuan penting untuk penelitian. Meski begitu, ada yang sejauh ini masih membuatnya penasaran karena belum bisa dilakukan eskavasi.

"Saya ingin melakukan eskavasi di Irian (Papua), tapi kita belum melakukan itu. Sampai sekarang belum pernah, salah satunya karena masalah sosial," tuturnya.

Dalam melakukan penelitian dan eskavasi, konflik sosial jadi hal yang paling ia hindari. Ia tak mau melakukan pemaksaan yang berujung konflik. Karena itu, melakukan penelitian dan eskavasi di Papua masih menjadi mimpi yang belum terwujud hingga kini.

Sementara selama berkutat dengan dunia penelitian seputar fosil, Iwan kerap dihantui rasa penasaran yang terkadang membuatnya sulit tidur. Bahkan, ketika berhasil menemukan sesuatu, hal itu tak serta-merta membuatnya rasa penasarannya berakhir. Temuan atas sesuatu justru menambah untuk rasa penasaran berikutnya.

Sebab, ketika misalnya menemukan fosil gigi manusia purba, ia akan tergerak untuk mencari bagian tubuh lainnya. Dari situ, penelitian juga akan terus berkembang hingga akhirnya diharapkan dapat menemukan berbagai hal lainnya secara lengkap dari kehidupan manusia purba tersebut.

"Jadi, bukan apa adanya (setelah itu selesai). Justru kita berharap mudah-mudahan setelah menemukan ini, kita menemukan yang lain. Karena itu juga akan mengangkat negara kita, khususnya di bidang ilmu paleontologi di dunia," tutur Iwan.

Foto: Oris Riswan/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler