Indra Rejan, Disabilitas Daksa Perajin Kaki Palsu

Bandung - TemanBaik, kaki atau tangan palsu merupakan alat bantu yang sangat berharga bagi penyandang disabilitas daksa. Lalu, apa jadinya bila alat bantu ini dibuat oleh sesama penyandang disabilitas daksa?

Beritabaik.id punya kesempatan untuk berbincang dengan salah satu anggota Komunitas Kreatif Difabel, Indra Sumedi Rejan. Pria kelahiran 23 Mei 1974 ini sudah 11 tahun menjalani profesi sebagai pengrajin kaki palsu.

"Saya bikin kaki palsu pertama kali itu tahun 2009. Awalnya bikin untuk dipakai sendiri aja," terangnya saat ditemui di bengkel Komunitas Kreatif Difabel, Jl. Kawaluyaan Baru No.1, Bandung, Kamis (11/6/2020).

Seiring berjalannya waktu, ia kemudian membuatkan kaki palsu untuk kawannya, yang juga merupakan penyandang disabilitas daksa. Karena sang kawan merasa puas akan produk kaki palsu Indra, akhirnya tercetus ide untuk memproduksi kaki palsu. Awalnya, ia membuat dan memproduksi kaki palsu tersebut di rumahnya, di daerah Cilengkrang, Bandung.

Namun, tak lama setelah itu kemudian ia membuat Komunitas Kreatif Difabel dan beberapa kali pindah bengkel sebelum akhirnya menempati tempat saat ini. Komunitas Kreatif Difabel sendiri sekarang beranggotakan 12 orang, dengan jumlah anggota aktif 6 orang.

Tak hanya kaki palsu saja, Komunitas Kreatif Difabel juga membuat beberapa anggota tubuh lainnya seperti tangan palsu hingga alat terapi jari untuk penderita stroke. Meski begitu, jasa pembuatan dan servis kaki palsu diakui Indra memiliki tingkat pemesanan yang tinggi.

Tarif untuk pembuatan satu kaki palsu memiliki varian beragam. Untuk harga terendah, Indra mematok angka Rp1 juta dan untuk harga tertinggi Rp6 juta. Harga tersebut disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan kebutuhan calon pembelinya. Ia juga melayani jasa impor kaki palsu. Untuk yang satu ini, harga yang dipatok berkisar Rp.10 juta ke atas.

"Bahan bakunya datang dari Tiongkok, Swedia, atau Jerman. Begitu bahan baku nyampe, kita di sini yang ngerakit. Nah, kalau bahan baku untuk kaki palsu sendiri kan menurut saya itu yang bagus memang dari Jerman. Tapi kan harganya pasti lumayan," kata Indra.

Tak hanya melayani jasa pembuatan saja, Komunitas Kreatif Difabel juga melayani jasa perbaikan, penggantian komponen, hingga rekontruksi kaki palsu. Tarif untuk jasa ini beragam dan bergantung pada kesulitan perbaikan yang diperlukan. Namun, Indra menaksir angka Rp300 ribu hingga Rp500 ribu untuk tarif jasa ini.


Baca Ini Juga Yuk: Cerita Kampung Tangguh COVID-19 di Malang dan Inisiatornya

Sentuhan Craftman
Salah satu kunci alat bantu kaki atau tangan palsu untuk penyandang disabilitas daksa agar terasa nyaman digunakan adalah keahlian perajin atau craftman-nya. Nilai ini yang diakui Indra sebagai salah satu keunggulan produk kaki palsu yang dibuatnya.

"Soalnya kita kan sama-sama penyandang disabilitas. Kita cukup ngerti kemauan pemesan itu kayak gimana. Nyamannya gimana, itu bisa kita diskusiin sebelum alatnya dibuat," jelas Indra.

Produk kaki palsu, tangan palsu, hingga alat terapi jari buatannya mengandalkan proses manual, alias tanpa bantuan mesin. Keunggulan dari proses ini adalah kemudahan untuk mengkontruksi ulang bila suatu saat ditemukan ketidakcocokan dengan pengguna.

Lanjutnya, ia mengaku kerap kerap direkomendasikan oleh beberapa Rumah Sakit di Bandung, apabila Rumah Sakit tersebut menangani pasien yang kehilangan anggota tubuh lalu hendak membuat kaki atau tangan palsu.

"Alhamdulillah. Untuk wilayah Bandung mah, biasanya larinya ke saya," terang Indra.

Proses pembuatan kaki atau tangan palsu di bengkel Komunitas Kreatif Difabel memakan waktu sekitar 2 hingga 6 hari. Hal tersebut bergantung pada tingkat kesulitan yang dihadapi saat proses pembuatan.

Sebagai upaya melebarkan sayap dan membantu para penyandang disabilitas untuk mendapatkan alat bantu yang nyaman, ia juga membuka semacam unit cabang di beberapa wilayah Indonesia, dari mulai Aceh, Palembang, Lampung, hingga wilayah Kalimantan.

"Produksinya tetep di sini, di Bandung. Mereka buka spanduk di sana lah, gitu kira-kira. Awalnya para koordinator wilayah itu bikin (kaki palsu) di kita. Tapi saya bilang daripada di sana, mungkin, enggak ada kegiatan. Lebih baik ya buka aja spanduk, pesen ke kita," ujar Kepala Produksi di Komunitas Kreatif Difabel ini.

Sampai ke Negeri Jiran
Berkat sentuhan tangan perajin itulah, akhirnya produk kaki palsu buatan Komunitas Kreatif Difabel sampai ke luar negeri. Indra bercerita, sekitar medio 2017 silam, pernah ada seseorang dari Malaysia yang datang ke bengkelnya untuk memesan salah satu bagian dari kaki palsu.

Ia menambahkan, klien tersebut cukup kaget karena di bengkelnya, semua proses pengerjaan dilakukan manual. Selain itu, kecepatan waktu pengerjaan disebut oleh Indra sebagai aspek kepuasan pelanggan.

"Kita juga kaget waktu itu. Kok bisa ada orang asing dateng ke sini? Eh, ternyata dia liat-liat di media sosial, terus mereka bilang proses produksi di kita cepet. Selain itu, bagian kaki palsu yang mereka cari itu susah ditemuin di pabrikan," bebernya.

Bagian kaki palsu yang dimaksud adalah bagian di atas telapak kaki atau tulang betis hingga pangkal paha. Menurut Indra, bila bagian tersebut rusak, relatif jarang bengkel kaki palsu yang melayani jasa reparasi untuk bagian tertentu saja.

"Solusinya ya ganti baru. Tapi kan budget-nya lumayan, ya. Kalau di kita mah bisa sesuai sama orderan aja," sambungnya.

Sebagai pamungkas, Indra berharap Komunitas Kreatif Difabel bisa segera memiliki tempat singgah tetap. Pasalnya, kendati sudah 11 tahun beroperasi, mereka masih harus mengontrak rumah yang kemudian dijadikan tempat tinggal untuk beberapa perajin. Ia memaparkan, dengan memiliki tempat singgah yang tetap, Komunitas Kreatif Difabel bisa menjadi fasilitator untuk rekan-rekan penyandang disabilitas lainnya yang berkeinginan membuat kerajinan seperti kaki, tangan palsu, atau kursi roda tiga.

TemanBaik, sebagai informasi, bila kamu ingin melihat langsung atau bahkan memesan kaki palsu buatan Komunitas Kreatif Difabel, kamu bisa mengontak Indra melalui akun Instagram @indrarejan atau akun Facebook Indra Sumedi Rejan.

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler