Mengenal Dine Mutiara, CEO Rumah Sakit yang Berjiwa Humanis

Bandung - Aktualisasi diri perempuan, tak hanya mengandalkan kecantikan lahiriah. Di balik kemolekan tubuh, kaum hawa juga harus humanis dan mampu  menggali kebermanfaatannya buat orang banyak.
 
Demikian juga bagi Dine Mutiara, saat ia memaknai eksistensinya sebagai ibu modern. Terlahir dengan fisik yang menarik, Dine tak lantas jumawa dan berpuas diri. Baginya, daya tarik itu terlahir dari prestasi dan seberapa besar sumbangsihnya bagi kepentingan masyarakat luas. 

Bersamaan dengan momen Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember ini, yuk kita kenalan dengan sosoknya TemanBaik!
Sejak tahun 2005, lulusan Magister Manajemen Bisnis Universitas Katolik Parahyangan ini mantap mendirikan sebuah rumah sakit swasta bernama AMC. Lokasinya berada tak jauh dari gerbang tol Cileunyi. 

Dine menyebut letak RS nya sebagai kawasan segitiga emas, karena berada di antara perbatasan Kota Bandung, Kabupaten Bandung serta Sumedang. Bagi ibu dua orang anak ini, bisnis di bidang kesehatan tak semata-mata urusan materi.

Di benaknya justru  tertanam kuat, masyarakat menengah di pinggiran Kota Bandung harus tersentuh pelayanan kesehatan yang berkualitas dan mumpuni. Tak cukup itu saja, penyuka travelling ini juga berupaya untuk menerapkan biaya kesehatan yang terjangkau saku “orang kecil”.

“Usaha yang dirintis ini memang di bidang jasa pelayanan. Tapi lebih dalam itu, saya harus pikirkan banyak hal. Mulai dari kualitas pelayanan, alat medis, hingga tenaga medis. Semua memang harus bersertifikasi. Tapi saya juga harus pikirkan masak-masak, rumah sakit swasta ini harus terjangkau masyarakat luas,” ungkap Dine saat dijumpai di kantornya, RS AMC Cileunyi, belum lama ini.


Di usianya yang masih terbilang muda, Dine sudah dipercayai pihak keluarga untuk memimpin sebuah RS swasta. Waktu itu, usianya belum genap 25 tahun. Namun untuk urusan kepemimpinan, wanita berhidung mancung ini mengaku tak gentar menghadapi berbagai tantangan. 

Sah saja, sejak kecil ia memang dididik orang tuanya untuk menjadi wanita yang tangguh, dan terbiasa berhadapan dengan banyak orang.

“Tak mudah merintis sebuah rumah sakit sejak awal di bangun hingga sekarang. Banyak infrastuktur medis yang dimulai dari alat sederhana, hingga akhirnya kami bisa melengkapi semua kebutuhan. Tapi saya tak gentar menghadapi banyak ganjalan, karena sejak kecil orang tua memang sudah menggembleng jadi pribadi yang kuat dan biasa menghadapi persaingan hidup,” bebernya.

Bergelut di bidang usaha jasa pelayanan kesehatan, di mata Dine juga perlu empati yang kuat dengan pasien dan keluarga pasien. Kembali pada urusan psikologis, kolektor buku novel asing ini harus belajar memahami kultur dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Untuk menerapkan aturan di RS, ia juga butuh waktu dan pendekatan yang baik agar solusinya bisa tercapai.

“Ya namanya di RS, kita harus selektif membatasi jumlah pengantar pasien, yang jaga pasien dan yang nengok. Tapi saya juga harus pahami, tradisi masyarakat di daerah memang sangat tinggi kepeduliannya. Misalnya ketika nengok, bisa satu angkot masuk kamar atau tiba-tiba mereka menggelar tikar untuk makan bersama. Ya intinya kita harus mengedukasi, bahwa di RS banyak risiko tertular penyakit, jadi mesti hati-hati,” ungkapnya. 

Satu hal yang membuat Dine bersyukur, berkat keberadaan RS AMC di Cileunyi banyak sekali sentra usaha baru yang secara ekonomi terangkat. Selain banyak bermunculan restoran, sekolah, tempat kos dan lain-lain, kini harga tanah di sekitar RS juga terbukti semakin tinggi harganya. 

“Alhamdulillah, ketika RS maju dan menjadi andalan, demand-nya tinggi, akhirnya pembangunan di sekitarnya juga ikut terdorong. Ya mudah-mudahan bisa memajukan juga kawasan di wilayah Cileunyi dan sekitarnya. Tapi misinya tetap, ingin menolong masyarakat dari sisi medis,” tandas Dine.

Secara pribadi, tak ada target khusus untuk ke depannya. Dine mengaku hanya ingin mempersembahkan service execellent di lingkungan RS. Enggak heran, kini AMC juga terus berbenah baik dari fasilitas bangunan mau pun sarana kesehatan.

“Ya dijalani saja sambil dimaksimalkan semua prosedurnya, akreditasinya dinaikan dan kualitas harus selalu dijaga. Saya sendiri hanya ingin menjadi perempuan dan ibu yang lebih baik dari berbagai hal. Saya hanya ingin lebih salihah,” pungkasnya.

Foto: Dok. Dine Mutiara
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler