Menetap di Bali, Sophie Navita Pulihkan Jiwa Lewat Menulis

Bandung - Empat tahun lalu, ranah pertelevisian mengenal Sophie Navita sebagai host, MC dan presenter yang kariernya cemerlang. Ia cantik, lucu dan pembawaannya yang ceria sanggup melesatkan rating sebuah acara.

Namun pamor itu tak menyilaukan lagi baginya. Atas dorongan pribadi, Sophie lebih memilih menjauh dari keriuhan dunia selebritas dan memilih tinggal di Pulau Bali bersama suami dan kedua anaknya.

Di Pulau Dewata, Sophie dan sang suami yang merupakan eks vokalis Jikustik, Pongki Bharata mulai menata kehidupan dari nol. Mereka mengontrak rumah, serba minimalis dan tak henti belajar untuk bersenyawa dengan atsmosfer Bali yang beda dari hiruk pikuk Jakarta.

Satu hal yang paling menantang dalam hidupnya, Sophie harus meninggalkan kemewahannya sebagai artis dan menjalani peran seutuhnya sebagai ibu dari dua orang anaknya.

"Kepindahan ke Bali merupakan hal besar bagi saya maupun keluarga. Tapi dorongan Tuhan di saat itu sangat kuat, saya harus meninggalkan karier yang gemilang demi mengembalikan peran sebagai ibu dan istri sesuai dengan visi dan misi di awal pernikahan," ujar Sophie di sela acara Re-Heart Memeluk Jiwa Merangkai Asa, di Maja House, Bandung Barat, Minggu (8/12/2019).

Menjalani kehidupan baru di Bali, bagi Sophie menjadi awal titik baliknya untuk memperbaiki diri. Tak hanya sebagai istri, Sophie pun mulai mengubah kebenciannya kepada sang ayah karena perbedaan cara pandangnya selama 40 tahun.

Ia blak-blakan, sejak kecil ia merasa terkungkung oleh sikap keras dan otoriter dari ayahnya. Imbasnya, ia kerap mengalami gangguan panik dan kecemasan pada situasi tertentu. Karena kejadian itu pula Sophie menjaga jarak dan komunikasi.

"Sampai akhirnya di usia 40 tahun, saat dorongan untuk pergi dari Jakarta semakin kuat, di waktu itu pula saya memperbaiki hubungan dengan bapak, yang pada momen itu sudah menderita alzheimer. Tapi saya menyadari bahwa tak ada yang terlambat untuk meminta maaf, karena meski banyak uang, doa saya tak pernah menembus langit karena kesalahan ini," bebernya.

Saat di Bali, perempuan berdarah Tapanuli ini juga merasakan perubahan psikis yang luar biasa. Jika di Jakarta ia mandiri dan serba bisa dibeli, di sana ia mengerjakan segala hal sendiri tanpa bantuan siapapun. Bahkan, ia juga sepakat mengajari kedua anaknya dengan metode home schooling.

Seperti ibu rumah tangga pada umumnya, setiap pagi ia mengawali hari dengan berdoa, mengurus cucian dan rumah dan menerapkan jam belajar untuk anak-anaknya. Di waktu yang sama, ia juga harus melebur semua gaya hidup dan kebiasaan lamanya seperti membeli tas mahal, fesyen dan kemewahan lainnya.

"Wajar dong sebagai istri yang tadinya sibuk dan punya penghasilan lebih dari suami, saya bisa beli apa saja sendiri. Saat di Bali kondisi berbalik, saya yang minta ke suami. Sempat kesal sih sama diri sendiri, tapi saya kembalikan lagi pada dorongan Tuhan yang sudah digariskan. Sejak saat itu saya sering menuangkan apa saja kondisi itu lewat tulisan harian," ungkapnya.

Tak menyangka, Sophie yang tadinya tak punya kemampuan menulis akhirnya bisa mendapatkan bahan tulisan yang kemudian ia jadikan buku 'Hati yang Gembira Adalah Obat'. Lewat buku itu pula ia merasakan healing yang luar biasa.

"Lewat menulis buku saya jadi bisa merunut emosi, dan merasa luka lama saya sudah dipulihkan Tuhan. Lewat keyakinan itu pula saya dan suami sepakat untuk menetap permanen di Bali. Kita bangun rumah di Bali, buka kedai kopi dan Januari 2020 buku kedua akan dirilis," terangnya.

Di sela kesibukannya sebagai ibu, ia sesekali mengurus usaha barunya di bidang kopi dan masih mendapatkan job MC wedding di seputar Bali. Meski sudah terjauh dari siklus keartisannya, Sophie masih menyimpan satu impian, suatu hari ia bisa hadir kembali di layar TV membawakan talkshow dengan namanya sendiri.

"Saya memang masih punya satu impian, suatu hari saya dapat pencapaian tertinggi dengan membawakan acara yang namanya Sophie Navita. Tapi saya enggak ngotot lagi, karena kita harus percaya musim. Musim saya memang harus di Bali dulu. Ibaratnya, jangan minta buah lontar ketika musimnya buah durian," pungkasnya.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler