Perjuangan Imas Masitoh Lawan Stroke dan Jantung Demi Anak Yatim

Bandung - Imas Masitoh (44) terus bergulat dengan sakitnya. Ia divonis mengidap stroke ringan sejak 2017 dan sakit jantung sejak 2018. Berkali-kali ia pun harus dirawat dan diperiksa di rumah sakit.

Tapi, hal itu enggak menyurutkan semangat Imas untuk merawat anak yatim dan duafa di Panti Asuhan Roudotul Amanah di kawasan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Selain puluhan anak di lokasi, ada anak lain yang tinggal di berbagai tempat dan jadi tanggungjawabnya.

Total anak asuh Imas lebih dari 130 orang. Anak-anak itu memang bukan lahir dari rahimnya, tapi Imas menyayangi mereka selayaknya ibu kandung. Ia berusaha memenuhi kebutuhan mereka mulai dari tempat tinggal, makan, hingga uang jajan sekolah.

Bagi Imas, saat ini ia merasa lebih lega karena panti asuhannya berdiri di atas lahan sendiri. Bangunan itu terdiri dari dua kamar, masing-masing kamar laki-laki dan perempuan. Ada juga ruangan lain seperti ruang tamu hingga dapur.

Bangunan panti asuhan itu biayanya berasal dari sumbangan berbagai pihak. Ia pun bersyukur satu lantai sudah bisa dibangun dan ditempati. Tapi, proses pembangunan lantai dua perlu dilanjutkan. Sebab, kondisi bangunan yang hanya satu lantai saat ini tergolong sempit. Bahkan, anak laki-laki selalu ada yang enggak kebagian tempat tidur.

Baca Ini Juga Yuk: Salut! Petani Lulusan SD di Sumedang Ini Dirikan 'Saung Maca'

Bahkan, Imas sering kali harus tidur dengan sebagian anak-anak di kamarnya karena mereka tidak tertampung di kamar khusus anak-anak. Jika penghuni panti salat berjamaah, ruangan saat ini juga tidak memadai. Bahkan, anak-anak selalu meluber sampai ke luar bangunan.

Jika bangunan lantai dua bisa dibangun sampai tuntas, suasana di lokasi akan lebih nyaman. Apalagi, ia berencana ingin menghadirkan musala yang lebih memadai dan beberapa ruangan dengan beragam fungsi.

"Alhamdulillah lantai satu mah sudah beres. Tapi pembangunan mau berhenti dulu, enggak ada dananya," ujar Imas kepada BeritaBaik.

Bangunan sendiri sudah ditempati sejak Maret. Sehingga, kini Imas dan anak asuhnya tidak perlu lagi pindah-pindah kontrakan. Saat ini, bangunan itu masih terus dikerjakan untuk tahap akhir. Tapi, untuk pembangunan lantai dua terpaksa diurungkan karena kendala dana.

Diperkirakan butuh dana lebih dari Rp 200 juta untuk menuntaskan pembangunan lantai dua. Ia pun berharap keajaiban agar ada rezeki untuk bisa menyelesaikan pembangunannya.

"Kalau ada keajaiban mah sebenarnya pengin sampai tiga tingkat. Saya pengin bikin semacam tempat kursus buat anak-anak," jelas Imas.

Imas sendiri tidak bisa mematok kapan bangunan itu bisa dituntaskan. Sebab, ia kini hanya mengandalkan pemasukan dari donatur untuk menghidupi anak-anak asuhnya. Di luar itu, ia mengandalkan pemasukan dari berjualan keset buatannya.

Tapi, ada kendala sendiri dalam berjualan. Sejak beberapa bulan lalu ia tidak lagi berjualan keliling menjajakan keset. Sebab, kondisi fisiknya sudah tidak memadai untuk jualan berkeliling dengan berjalan kaki.

"Pernah waktu itu tiba-tiba ambruk, jatuh, kaki kiri saya kan kena stroke ringan," ungkap Imas.

Kini, ia hanya menawarkan keset buatannya kepada pengunjung panti. Untuk kesehariannya, ia dibantu sang suami menjalankan panti asuhan. Sang suami terpaksa tidak lagi bekerja karena khawatir Imas tiba-tiba sakit dan perlu dilarikan ke rumah sakit. Sebab, seringkali sakit Imas kambuh tanpa diduga dan perlu pertolongan segera.

Imas sendiri bukan orang dari kalangan atas loh. Bahkan, ia berasal dari latar belakang keluarga kurang mampu. Tapi, ia punya semangat besar untuk menghidupi anak yatim dan duafa. Ia ingin hidupnya bermanfaat bagi orang lain.

Sejak 2012, ia merawat beberapa anak yatim. Seiring waktu, anak asuhnya terus bertambah dari tahun ke tahun hingga kini lebih dari 130 orang. Bukan hal mudah loh membina anak-anak sebanyak itu. Imas harus punya kesabaran luar biasa untuk mengatasi beragam tingkah anak-anak.

"Sudah biasa, jadi enggak jadi beban. Dinikmati aja, saya juga sudah tahu cara mengatasi anak gimana. Buat saya ada kenikmatan sendiri merawat mereka," tutur Imas.

Imas sendiri masih punya mimpi besar loh, TemanBaik. Selain ingin bangunan panti asuhannya diselesaikan pembangunannya, ia ingin mendirikan sekolah khusus bagi anak-anak tidak mampu. Sebab, ia merasa miris jika mendengar ada anak yang tidak bisa sekolah karena persoalan biaya.

Soal realisasinya, Imas hanya bisa berdoa dan berusaha. Ia yakin apa yang diinginkannya suatu saat terwujud. Apalagi, keinginan itu bukan untuk kesenangan dirinya sendiri. Keinginan Imas justru untuk kepentingan dan masa depan anak-anak asuhnya.

Yuk TemanBaik, ikut bantu Bu Imas mewujudkan mimpinya membangun panti asuhan ini. Klik di sini!



Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler