Kisah Inspiratif Anggi, Guru Musik Asal Mojokerto

Mojokerto - Menjalani profesi menjadi seorang guru tidaklah mudah. Hal itulah yang dirasakan oleh seorang guru musik yang mengabdi di salah satu sekolah di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Anggi Primary Holyson Hernanda (33).

Jarak yang ditempuh Anggi, sapaan akrab lelaki ini setiap hari untuk menuju sekolah bisa mencapai 90 kilometer. Namun, jarak tersebut tak pernah menjadi penghalang.
Sudah hampir 12 tahun, beliau mengabdi di SMA Negeri 1 Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Pada 21 Januari 2019, Anggi mendapat kabar pemindahan tugas ke salah satu SMA di Kota Mojokerto yang lebih dekat dari kediamannya. Perpisahannya dengan seluruh siswa dan guru di SMA Negeri 1 Trawas menjadi pengalaman yang tak disangka-sangka baginya.

"Saya tidak menyangka. Seperti yang bisa dilihat di Instagram Story saya, satu sekolah sampai libur dan tidak ada pelajaran selama sehari penuh hanya untuk merayakan perpisahan saya," ungkap Anggi sambil terharu saat ditemui di kediamannya, Selasa pekan lalu.

Baca Ini Juga Yuk: Azis Hermawan, Tunadaksa Asal Lampung yang Jago Desain Rumah

Anggi juga berkata bahwa mungkin itu hikmah dari Tuhan atas apa yang ia beri selama ini. Ia yakin, setiap orang akan menuai apa yang ia tanam. Bapak dua anak asal Daerah Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto yang mengaku telah belajar musik sejak SMP ini memiliki banyak prestasi di bidang aransemen musik. Salah satu prestasinya yakni pada ajang Asian Games 2018 kemarin, beliau berhasil menjadi pemenang aransemen ulang jingle Asian Games yang berjudul "Bright as The Sun".

"Saya memang punya beberapa prestasi. Tapi itu semua juga saya buat bersama siswa, dan hampir semua berkesan. Bagi saya, setiap karya yang kita buat pasti
memiliki keistimewaannya masing-masing," tuturnya.

Tak hanya itu, Anggi yang sering mengunggah hasil karya di akun Instagram pribadinya (@anggiedoremi) ini juga berhasil memenangkan kompetisi musik nasional yang lain, seperti kompetisi bodrex bertajuk #generasibodrex jingle cover competition dan memenangkan satu set alat recording yang selama ini diimpikannya, serta menjadi juara 2 kompetisi jingle Waroeng Steak and Shake yang dibuat dengan lirik berbahasa Jawa.

Baca Ini Juga Yuk: Sosok yang Berijbaku dengan Air Limbah PDAM Bandung

Menjadi seorang guru di sebuah desa terpencil, pastinya ia memiliki beberapa hambatan dalam menjalankan tugasnya. "Awalnya saya belum begitu ikhlas ketika mendapatkan penempatan di SMA tersebut, selain karena jarak, saya juga merasa bahwa siswa-siswi yang saya ajar belum mampu menyeimbangi ambisi saya. Namun justru dari situlah saya belajar dari SMA-SMA lain di wilayah kota dan menerapkannya di SMAN 1 Trawas," jelas Anggi.

Menanggapi tentang profesi guru di Indonesia yang kerapkali kurang dihargai, Anggi pun turut berkomentar, "Menjadi guru itu berarti menjadi panutan. Apapun yang kita
lakukan pasti ditiru, mulai dari gaya berpakaian sampai bertutur. Maka dari itu, kita harus selalu menjaga sikap. Kalau soal gaji, jika niat awalnya kita lakukan untuk
berbagi ilmu dan mengabdi, maka nominal bukanlah masalah. Saya yakin, nilai yang kita tuai di hari depan pasti lebih besar dan berarti, entah itu untuk diri kita sendiri, maupun untuk anak-anak kita kelak," pungkasnya.


Foto dokumentasi pribadi


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler