Asep Sopian, 'Jantung' Pengolah Air PDAM Bandung

Bandung - Asep Sopian (49) jadi salah satu elemen penting di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening Kota Bandung. Ia bahkan bisa dibilang sebagai 'jantung' PDAM dalam urusan mengolah air.

Sebagai supervisor di bagian instalasi pengolahan air (IPA) PDAM Tirtawening, ia betugas memastikan seluruh proses produksi air berjalan baik. Titik akhirnya, ia yang memastikan air menjadi layak konsumsi sesuai standar baku mutu yang ditetapkan.

Sebagai supervisor, Asep tidak hanya bekerja di belakang meja. Ia sering terjun langsung membantu pekerjaan para operator pengolahan air. Ia bahkan sering membantu membersihkan sampah dan berbagai pekerjaan lain yang seharusnya hanya dikerjakan operator.

Asep mengaku harus memberikan contoh kepada bawahannya. Di sisi lain, ia paham bagaimana beratnya tugas operator karena pernah di posisi itu selama sekitar 15 tahun.

Hal itu membuatnya sering membantu langsung para operator. Terlebih, para operator itu bukan hanya dianggap rekan kerja. Mereka sudah seperti saudaranya sendiri. Sehingga, saling membantu menjadi hal yang dirasa harus dijalaninya.

Dengan begitu, semua proses pengolahan air bisa berjalan lancar. Sehingga, kuantitas dan kualitas air yang diolah bisa sesuai dengan yang diharapkan.

"Kita tidak mengandalkan hanya mengawasi sebagai pengawas, kita ikut terjun langsung. Saya pribadi happy menjalani pekerjaan ini," ujar Asep kepada BeritaBaik.


Sebagai supervisor sejak 2010, ia sudah kenyang akan beragam kendala dialami. Salah satunya adalah kerusakan salah satu mesin. Ia pun harus memastikan perbaikan berjalan secepatnya agar pengolahan air tidak terganggu.

Terkadang, Asep dan para operator harus mengesampingkan keselamatan diri. Tujuannya agar kerusakan atau kendala bisa diperbaiki secepatnya. Sebab, ketika lama ditangani, dampaknya akan dirasakan konsumen PDAM, mulai dari seretnya air hingga kualitas air yang buruk.

"Penanganan memang harus serba cepat. Makanya kita kadang tidak berpikir keselamatan diri sendiri dulu," tuturnya.

Sebagai supervisor, Asep sudah sering kehilangan waktu bersama keluarga saat akhir pekan atau libur nasional, termasuk saat Idul Fitri. Tapi, bekerja di saat masyarakat libur tetap dijalaninya sebagai bentuk tanggung jawab. Ia tidak ingin pekerjaannya diabaikan karena dampaknya air tidak akan bisa diolah untuk didistribusikan ke konsumen PDAM.

"Kita di (bagian pengolahan air) PDAM tugasnya memang tidak bersentuhan langsung melayani masyarakat. Tapi istilahnya jantung PDAM itu kan ada di bagian produksi. Seperti kantor wilayah, kalau enggak ada air dari sini, mau mengalirkan apa," papar Asep.

Sementara saat disinggung kebahagiaan terbesarnya di tugasnya saat ini, Asep menjawab sederhana. "Kebahagiaan saya kalau air lancar, dari segi kuantitas dan kualitas juga sesuai yang diharapkan," pungkasnya.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler