Belajar Sukses dan Kepemimpinan dari Ignasius Jonan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan membagikan tip sukses sekaligus bagaimana jadi seorang pemimpin. Apa saja tipnya?

Yang pertama, seorang pemimpin harus punya tipikal sebagai pekerja keras. Ia menggambarkan kehidupannya saat masih berusia 20 tahunan. Saat itu, ia mengaku bekeja lebih keras dari orang lain di sekitarnya. Bahkan, ia bekerja dengan waktu lebih lama.

"Dalam pemikiran saya itu kalau orang lain bekerja misalnya 5 jam sehari dengan sungguh-sungguh, maka saya sedikitnya harus kerja 6 atau 7 jam dengan sungguh-sungguh," ujar Jonan di laman resmi Kementerian ESDM.

Jonan mengaku ia selalu berasumsi bahwa orang lain memiliki kapasitas atau kemampuan yang sama dengan dirinya. Sehingga, ia harus bekerja lebih sunggunh-sungguh untuk mempertegas dirinya 'berbeda' dengan orang lain.


Berikutnya, seorang pemimpin harus bisa memberikan contoh bagi bawahannya. Sebab, contoh baik akan membuat bawahan terpacu semangatnya. Dengan memberikan contoh, anak buah akan mengerjakan apa yang dilakukan pemimpinnya. Hal itu yang ia terapkan dalam memimpin Kementerian ESDM.

Sehingga, Jonan tidak segan terjun langsung ke lapangan untuk bekerja. Ia tidak mau hanya sekedar duduk di atas meja dan menerima laporan dari bawahan. Ia ingin memastikan semua pekerjaan di kementeriannya berjalan baik.

Sebab, sekitar 30 persen anak buah Jonan berusia di bawah 30 tahun. Sehingga, mereka harus diperlihatkan role model atau percontohan seperti apa seharusnya seseorang bekerja.

"Kemarin malam saya baru pulang dari pos pengamatan Gunung Merapi. Saya naik sampai tengah malam ingin lihat ini guguran lavanya seperti apa sih," ungkapnya.

"Kalau saya tidak mau memantau, pengamat gunung api yang usianya sekitar 20 tahun, nanti (pos pengamatan) akan ditinggal pulang juga sama dia," jelas Jonan.

Sementara khusus bagi para generasi milenial, Jonan memiliki pesan tersendiri. Ia mengajak mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang optimistis. Sebab, mereka merupakan generasi penerus bangsa di masa depan.

"Karena kalau orang pesimis itu tidak menghasilkan apa-apa, dan dapat merusak diri sendiri, juga orang lain. Sedangkan kalau optimis mungkin bisa menghasilkan sesuatu," pungkas Jonan.


Foto: dokumentasi Kementerian ESDM




Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler