Tips Percaya Diri 'Pamer' Puisi di Media Sosial

Bandung - TemanBaik mungkin masih banyak yang tidak percaya diri untuk memublikasikan karya puisinya. Padahal, di era modern saat ini tulisan bisa dengan mudah dipublikasikan, salah satunya melalui media sosial.

Euis N Hayati, pegiat puisi yang rutin membagikan puisi melalui akun Instagramnya ini membagi tips bagi TemanBaik agar punya kepercayaan diri 'memamerkan' puisi di media sosial. Perempuan kelahiran 1997 ini hadir jadi pembicara di acara Organic #1: Eksplorasi Puisi dalam Seni yang digelar di Kantor beritabaik.id, Jalan Cigadung Raya Barat, Bandung Jumat (5/10/2018) malam.

Ia menuturkan yang harus diperhatikan pertama adalah memiliki banyak kosakata. Caranya dengan membaca, mulai dari membaca buku, membaca hal-hal di sekitar, hingga membaca diri sendiri untuk memperkaya isi tulisan. Berikutnya, rasa percaya diri harus dimiliki dengan cara dilatih. Jangan malu meminta pendapat orang lain soal puisi yang dibuat.

Juga jangan ragu meminta dikoreksi hingga meminta penilaian sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan tulisan. Hal itu akan membuat TemanBaik perlahan mulai menemukan rasa pecaya diri untuk memublikasikan puisi.

"Coba beranikan tulisannya ingin dibaca sama teman-teman. Bisa dibagikan grup misalkan kalau punya grup. Lama-lama juga akan terbiasa," ujar Euis yang punya pengikut lebih dari 23 ribu orang di Instagram ini.

Khusus untuk menulis puisi, sebagai pegiat puisi yang sering mengunggah puisi di Instagram, Euis juga memberi tips. Yang paling utama, menulislah dengan jujur dan tanpa target muluk-muluk.

Untuk memulai memublikasikan puisi, sebaiknya tulisan yang dibuat adalah hal-hal riil di sekitar TemanBaik. Sehingga, TemanBaik bisa tahu persis apa yang ditulis dan dipublikasikan.

"Menurut saya kalau teman-teman mau nulis, nulislah dengan jujur. Jujur disini adalah jujur yang teman-teman tahu tulisan itu (temanya) setiap hari bersama teman-teman, yang teman-teman pahami, dan memang sesuatu yang ada setiap hari sama teman-teman," tutur Euis.

Saat mengunggah puisi di media sosial, ia pun menyarankan TemanBaik tidak menjadi pemburu 'like' dari para pengikut. Sebab, hal itu akan membebani TemanBaik dalam membuat tulisan karena merasa dikejar target.

Rasa malu pun harus ditanggalkan. Sebab, tulisan TemanBaik bisa jadi justru adalah hal realistis yang dirasakan orang lain. Sehingga, pembaca pada akhirnya akan memberikan apresiasi.

"Kalau kita niatnya mau nulis, bukan untuk mengejar like, nanti juga dengan sendirinya komentar itu banyak, like itu banyak. Maksudnya, kita akan menemukan pembaca kita," ucapnya.

"Kita jangan malu untuk memublikasikan tulisan kita. Karena bisa jadi dari beberapa tulisan kita, itu yang sebenarnya dari pembaca atau pengikut kita pernah merasakannya, tapi mereka enggak berani juga mengungkapkannya. Bisa jadi lewat teman-teman terwakili tulisannya," jelas Euis.

Sementara jika berkaca dari pengalaman menulis puisi dan memublikasikannya di Instagram, Euis mengatakan tulisan yang lebih banyak disukai pembaca di media sosial biasanya tulisan pendek.

"Kalau tema (yang disukai) biasanya seputar asmara, melankolis, patah hati, yang (menyangkut perasaan) anak muda lah. Itu lagi digandrungi," pungkas Euis.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler