Rahasia Kata-kata Sederhana Bermakna di Balik Puisi Aan Mansyur

Bandung - Kalau TemanBaik sudah menonton film 'Ada Apa dengan Cinta 2' (AADC 2), pasti sudah tidak asing dengan puisi-puisi yang melekat dalam film tersebut. Ya, Aan Mansyur, ia adalah sosok di balik puisi-puisi Rangga yang puitis di film AADC 2.

Barisan kata di puisi milik Aan Mansyur bukan kata-kata yang rumit dan sulit di mengerti namun rangkaian puisinya ternyata banyak diminati karena punya kesan yang 'ajaib' di benak pembacanya. Ternyata Aan memang tak menyukai menulis puisi-puisi berat yang kata-katanya sulit dimengerti.

Di acara Organic #1: Eksplorasi Puisi dalam Seni yang digelar di Kantor beritabaik.id, Jalan Cigadung Raya Barat, Bandung Jumat (5/10/2018) malam, pria kelahiran Bone Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982 ini berbagi cerita tentang bagaimana karya-karyanya dibuat

Aan mengungkapkan bagaimana ia mengeksplorasi puisi hingga menjadi karya indah meski menggunakan bahasa yang sederhana. "Puisi itu bukan tentang makna, tapi tentang cara mencari makna. Kalau puisi saya berat itu berarti saya membohongi diri saya sendiri, itu kenapa saya suka menggunakan bahasa yang sederhana," ungkapnya.

Baginya, menulis juga menjadi sarana komunikasi berbicara dengan sang ibu karena semasa kecil ia memang jarang berbincang dengan ibunya. Namun ia mengetahui, ibunya adalah penyuka puisi bahkan beberapa kali jatuh cinta pada seorang penulis puisi. Kala itu, Ibunda Aan berharap mampu mendapat cinta dari seorang penyair. "Penyair seringkali gagal dalam menemukan cintanya. Ibu saya malah menikah dengan seorang yang bukan penyair," kata Aan sambil tertawa.

Baca juga: Akrab dan Hangat Berpuisi di Organic #1

Puisi menjadi media komunikasi bagi Aan dengan sang ibu bahkan ia merasa seperti membuat 'rumah' untuk ibunya. "Setiap kali saya menulis puisi, saya seperti membangun rumah buat ibu. Meski di dunia nyata sebenarnya saya tidak berhasil membangun rumah untuk Ibu. Sehingga ketika menulis puisi saya selalu merasa bahwa, setidaknya dalam puisi dia bisa merasakan kalau rumah itu ada," jelas Aan.

Kesederhanaan bahasa yang kita lihat dari tulisan Aan Mansyur, baik itu cerpen atau pun puisi menurutnya adalah suatu bahasa yang ada dalam gambar di pikirannya. Bagi Aan, cara itu bukan untuk membuat puisinya menjadi nampak indah namun sebagai upaya untuk menyederhanakan 'gambar' apa yang ada dipikirannya.

"Tidak semua hal yang nampak sederhana, tidak berarti menyimpan sesuatu yang rumit atau kompleks. Itulah yang saya upayakan dalam menulis puisi," terangnya.

Ditanya tentang foto visual, Aan menjelaskan kalau hal-hal yang ia rekam adalah materi yang ia rasa bakal dijadikan puisi. Semacam momen atau objek yang ia rasa suatu saat bisa membawanya ingat peristiwa yang ia butuhkan untuk menjadi puisi.

Aan juga menambahkan kalau puisi kekinian bisa berarti bahwa jumlah pembeli remaja buku puisi tersebut banyak, tapi bukan berarti mewakili zaman sekarang ini. "Banyak faktor yang membuat anak-anak muda saat ini jadi suka puisi. Saya juga tidak pernah meragukan kalau di setiap zaman, orang menyukai puisi. Dan itu bisa dikatakan sebagai puisi kekinian," jelas Aan.

Selain Aan Mansyur, hadir pula pegiat puisi, Euis Nur Hayati serta musisi folks, Oscar Lolang yang turut memeriahkan Organic #1 ini. Nantikan program Organic #2 selanjutnya ya TemanBaik! Tentunya dengan tema seru dan pembicara-pembicara yang berbeda lainnya.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler