Perjuangan Tim ITB Bikin Pesawat Tanpa Awak Hingga Juara di Turki

Bandung - Para mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung di unit kegiatan mahasiswa (UKM) Aksantara sukses mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Mereka menjadi juara kedua kategori fixed wing di ajang Tubitak International Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Competition 2018 di Turki pada 20-23 September lalu.

Tidak hanya itu, mereka juga menempati peringkat kesembilan pada kategori rotary wing. Prestasi itu tidak diraih dengan instan. Butuh perjuangan panjang hingga akhirnya mereka bisa mengukir prestasi manis tersebut.

"Ini prosesnya lama, ini buah yang indah untuk proses yang kita lalui selama delapan bulan," ujar Widyawardhana Adiprawita, salah seorang pembina Aksantara ITB, di Kampus ITB, Kota Bandung, Rabu (3/10/2018).

Selama delapan bulan, para anggota Aksantara ITB bekerja ekstra keras. Mereka tidak mengenal waktu mengerjakan berbagai hal untuk menuntaskan pengerjaan dua pesawat, masing-masing kategori fixed wing dan rotary wing. Tujuannya satu, mereka ingin menghasilkan prestasi maksimal dalam lomba tersebut.

"Siang-malam mereka membagi waktu di tengah kesibukannya. Jadi manajemen mereka bagus sekali untuk mengikuti kegiatan ini," timpal Agoes Mulyadi, pembina Aksantara ITB.

Ia pun mengapresiasi para mahasiswanya tersebut. Hal itu dinilai pantas didapatkan jika melihat secara langsung perjuangan mereka dari awal sampai akhir.

"Prestasi mereka patut kita syukuri. Tim ini sudah bekerja keras selama delapan bulan, sudah melakukan persiapan panjang, mengeluarkan tenaga, pikiran, dan lain-lain. Kita patut mengapresiasinya," tutur Agoes.

Khusus bagi Aksantara ITB, prestasi di ajang Tubitak sangat istimewa. Sebab, selama ini mereka hanya mengikuti kompetisi robot terbang di level nasional. Tapi, debut perdana berjuang di kompetisi internasional justru berbuah hasil manis.

Ketua Aksantara ITB Nathan mengungkap misi besar mengikuti kompetisi internasional tersebut. Ia dan rekan-rekannya ingin membuktikan pada dunia bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang tidak kalah unggul dari negara lain.

"Di tahun ini kita ingin mencari kompetisi lain (di luar negeri) karena kami ingin mengembangkan keilmuan kami dan membuktikan bahwa Indonesia itu tidak kalah dari negara manapun, kita itu bisa," ucapnya.

"Jad, Tubitak itu itu kompetisi internasional pertama yang diikuti Aksantara. Yang kedua, kita juara dua dan itu membawa suatu kebanggaan besar untuk Indonesia," jelas Nathan.

Kompetisi Tubitak sendiri perlombaan skala internasional yang diadakan setiap tahun. Tahun ini, total ada 85 tim dari Pakistan, Mesir, Turki dan Indonesia. Bukti kompetisi itu sangat serius dan berkelas adalah hadirnya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di lokasi.

Ada berbagai misi sulit yang harus dilalui masing-masing tim. Salah satunya adalah terbang manual dan melakukan atraksi berputar 360 derajat.

Misi lainnya adalah terbang secara otomatis sambil membawa lomba dan menjatuhkan bola di tempat yang sudah ditentukan. Ada juga misi terbang otomatis dengan take-off hingga pendaratan yang harus presisi.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler