Jajanan di Ambu, Produk Penuh Cinta dari Pejuang Kanker

Jajan atau membeli makanan tak hanya bisa puaskan mulut dan lidah. Namun, jajan bisa jadi aksi baik membantu sesama. Contohnya membeli Jajanan di Ambu.

Jajanan di Ambu ini punya beberapa jenis makanan, mulai dari cimol bojot, cimol krispi, cilok goang alias kuah, bawang goreng original dan pedas, hingga tempe kering. Khusus dua makanan terakhir, cocok banget jika disantap bareng nasi hangat.

Tak hanya enak, harganya juga terjangkau. Cimol dan cilok dihargai Rp15 ribu, bawang goreng kemasan 200 gram Rp45 ribu, serta tempe kering kemasan 200 gram Rp40 ribu. Namun, di balik rasa enak dan harga terjangkau, ada cinta serta manfaat besar yang dihasilkan.

Keuntungan penjualan produk ini sebagian besar dipakai untuk memenuhi kebutuhan pejuang kanker di Rumah Pejuang Kanker Ambu (RPKA), Jalan Bijaksana Dalam, Kota Bandung. Ini adalah rumah singgah bagi pasien kanker yang tengah menjalani pengobatan atau terapi di rumah sakit di Bandung.

Di sini, pejuang kanker dan pendampingnya biasanya tinggal, ada yang beberapa hari hingga berbulan-bulan. Selain diberi tempat tidur, berbagai hal di sini diberikan gratis, mulai dari makanan, transportasi, hingga obat dan keperluan lain yang tak ditanggung asuransi kesehatan dari pemerintah.

Jumlah pasien dan pendampingnya sendiri tak menentu setiap harinya. Sebab, pejuang kanker di sini hilir-mudik hampir setiap hari, ada yang datang dan pulang.

Total, ada empat bangunan yang dijadikan rumah singgah dengan jarak berdekatan. Masing-masing rumah singgah ini ditempati khusus anak dan dewasa.

Jika ditotalkan, setiap harinya rata-rata ada 100 orang tinggal di empat rumah singgah. Mereka adalah pasien dan keluarganya dari kalangan ekonomi kurang mampu.

Asa Baru di Tengah Pandemi
Jajanan di Ambu ini adalah usaha yang dijalankan RPKA sejak sekitar sebulan lalu. Berbagai produk makanan yang ada pun memberi asa baru di tengah pandemi untuk menjaga keberlangsungan RPKA.

Sebab, sejak pandemi COVID-19 melanda, donatur yang datang berkurang drastis. Di saat bersamaan, kebutuhan anggaran tetap tinggi agar seluruh aktivitas dan kebutuhan pasien terjaga.

"Kenapa kita pengin usaha seperti ini, karena di masa pandemi ini memang donatur mulai berkurang gitu karena masing-masing donatur mereka punya usaha, usaha pun lagi kurang baik," ujar Penanggung Jawab RPKA Dewi Nurjanah.

Dengan berjualan makanan, pemasukan yang ada diharapkan terus berjalan. Sehingga, meski donatur berkurang, seluruh kebutuhan bisa tetap terpenuhi. Sebab, pasien dan keluarganya ini sangat membutuhkan berbagai kemudahan serta pelayanan dari RPKA.

"Kami kan harus memenuhi semua kebutuhannya (pasien dan keluarganya selama di sini), makan, obat-obatan, transportasi, terus kebutuhan-kebutuhan yang tidak di-cover BPJS seperti popok, susu, untuk antigen, untuk swab, untuk PCR gitu, itu semuanya memang mereka tidak mampu kalau dengan uang sendiri," jelasnya.

"Makanya kita berusaha bagaimana caranya supaya mendapatkan uang, jangan berharap terus dari donatur," ucap Ambu, sapaan akrabnya.

Baca Ini Juga Yuk: Menyemai Harap Anak Pesantren Lewat Burger Rp15 Ribu


Cimol yang Jadi Peluang
Ambu lalu bercerita perjalanan RPKA menjalankan usaha makanan tersebut. Ini bermula saat ia bertanya pada ayah salah seorang ayah pasien soal keahlian yang dimiliki dan ingin punya usaha apa.

Bisa membuat aneka cimol dan ingin menjualnya jadi jawaban pria itu. Cimol sendiri adalah makanan khas Sunda yang terbuat dari aci alias tepung tapioka yang diolah kemudian digoreng. Bentuknya bulat dan biasanya diberi taburan bumbu.

"Akhirnya kita nyoba dibikinin untuk kita makan dulu. Alhamdulillah kita akhirnya bikin roda (untuk berjualan). Setelah itu dia maju, dia usahanya (jualan cimol)," ucap Ambu.

Karena lokasi berjualan tak jauh dari RPKA, relawan RPKA yang kebanyakan anak muda banyak yang membeli cimol itu. Karena rasanya dinilai lezat, relawan mengusulkan agar usaha cimol itu dikembangkan hingga akhirnya bisa jadi pemasukan tambahan bagi RPKA.

Singkat cerita, cimol ini kemudian menjadi makanan kemasan yang tinggal digoreng konsumen. Produk lain pun dikembangkan. Sehingga, ada cimol bojot, cimol krispi, cilok kuah, bawang goreng pedas dan original, serta tempe kering.

Khusus untuk tempe kering, ini merupakan usaha lama Ambu saat merintis rumah singgah bagi pasien kanker. Keuntungannya sebagian besar memang dialokasikan untuk berbagai kegiatan RPKA. Sempat berhenti, produksi tempe kering akhirnya dijalankan lagi.

Untuk penjualannya, produk RPKA ini hanya dijual daring alias online. Jejaring pertemanan hingga pengikut media sosial RPKA dan para relawan sejauh ini jadi pelanggannya. Hasilnya pun sejauh ini menggembirakan.

"Dalam seminggu ini saja kita sudah menjual 1.000 kemasan untuk cimol bojot, cimol krispi, sama cilok kuah," ungkap Ambu.

Penjualan produk makanan RPKA ini pun tak hanya menguntungkan untuk memenuhi kebutuhan para pejuang kanker. Para relawan juga punya pendapatan karena mereka menjadi reseller. Sehingga, selain membantu memasarkan, para relawan ini bisa punya pemasukan. Begitu juga dengan orang tua pasien yang membantu proses produksi.

Di sisi lain, produksi makanan ini diharapkan memacu para orang tua pasien untuk berwirausaha. Sehingga, perekonomian mereka diharapkan lebih baik dibanding sekarang.

"Ambu pengin semua orang tua pasien ada perkembangan dalam hidupnya, terutama perekonomiannya gitu. Kalau mereka bisa (membuat sesuatu), kenapa tidak (dikembangkan), toh ada volunteer yang (bisa membantu) memasarkannya. Alhamdulillah sejauh ini ada beberapa orang tua pasien yang sudah maju," tuturnya.

Baca Ini Juga Yuk: Jejak Sambal dalam Perjalanan Bangsa Indonesia


Melupakan Kesedihan
Lokasi produksi dari makanan ini berbeda satu sama lain. Untuk cimol dan cilok, diproduksi orang tua pasien di tempat lain. Sedangkan bawang goreng dan tempe kering diolah di dua rumah singgah.

Produksi bawang dan tempe kering dilakukan di dapur umum RPKA yang terletak di rumah singgah khusus bagi pasien anak. Sedangkan pengemasannya dilakukan di rumah singgah khusus pasien dewasa.

Yang banyak terlibat dalam proses produksi ini adalah para orang tua dan pasien. Di sela waktu sengganggnya, mereka berkutat dengan kegiatan produksi. Namun, hal ini justru menuai manfaat lain. Mereka yang bekerja seolah sejenak diajak melupakan kesulitan di tengah cobaan berjuang melawan kanker.

Sehingga, suasana di dapur dan tempat pengemasan kerap diwarnai keriuhan. Mereka kerap berbincang hingga bercanda satu sama lain. Kegiatan ini pun jadi sarana bagi sesama orang tua atau keluarga pasien untuk membangun rasa kekeluargaan.

"Seperti produksi bawang, itu semuanya dilakukan bareng-bareng, mulai dari ngupas sampai menggoreng (dan mengemas). Kita gerakkan semua ibu--ibu di sini. Bikin tempe kering juga gitu," ucap Ambu.


Semangat Mengembangkan Usaha
Ambu mengatakan, saat ini sedang berusaha menghasilkan beberapa produk baru lain. Harapanya, semakin banyak jenis produk yang dihasilkan dan terjual, akan semakin memperpanjang langkah RPKA memperjuangkan pejuang kanker.

Ia pun berharap bisa memiliki tempat produksi sendiri yang terpisah dari rumah singgah. Sebab, selama ini produksi mengandalkan dapur umum rumah singgah. Pengemasan pun memaksimalkan rumah singgah lainnya.

"Harapannya sih ada tempat khusus gitu ya untuk produksi. Cuma untuk sejauh ini Ambu masih mikir karena ini kan masih baru. Kepengin sih ada satu rumah khusus produksi produk-produk ini," ungkap Ambu.

Yang paling ia pikirkan adalah dapur umum. Sebab, selama ini dapur umum tersebut difokuskan untuk memasak makanan bagi pasien dan keluarganya. Dapur itu selalu sibuk dipakai.

Sedangkan dengan adanya produksi makanan untuk dijual, aktivitas di dapur otomatis jadi lebih padat. Sebab, orang yang memasak kerap bergantian, bahkan saat ini juga bergiliran dengan produksi makanan.

"Dapur umum khusus pasien itu setiap hari tuh orang berganti-gantian masak. Karena anak-anak pengin ikan, pengin telur, dan segala macam. Itu bisa berganti-gantian terus. Jadi tidak bisa untuk bersatu gitu (dengan produksi makanan). Makanya kami lagi pikirkan untuk itu (punya tempat produksi sendiri)," papar Ambu.

Namun, dengan kondisi yang ada sekarang, produksi makanan dijalankan apa adanya. Yang terpenting, usaha ini bisa berjalan karena ada misi besar di baliknya.


Yuk! Aksi Baik dengan Jajan
TemanBaik, setelah menyimak ulasan di atas, makin tertarik enggak sih membeli aneka produk Jajanan di Ambu? Yakin deh rasanya enggak akan bikin menyesal.

Jajanan di Ambu pun tidak menggunakan MSG dalam komposisinya. Di saat bersamaan, rasanya tetap bisa diandalkan. Bahkan, kemasan pun disterilkan lebih dulu untuk menjaga kebersihan produknya.

Nah, jika tertarik, kamu bisa memesannya melalui nomor WhatsApp 0878-4826-6224. Kamu juga bisa mencari tahu informasi lebih dengan mengunjungi akun Instagram @rumahpejuangkankerambu dan @jajanandiambu.

Yuk, kapan lagi nih bisa menikmati makanan lezat sekaligus membantu pejuang kanker! Kebaikan bisa dengan cara jajan.



Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler