Sajian Kuliner Kreatif dan Menggemaskan ala Doa Ubi

Bandung - TemanBaik, ada konsep sajian kuliner keren nih dari Doa Ubi! Menggabungkan produk kuliner dengan sentuhan artistik dan kolektif ini bikin terobosan dalam menjual, yakni menyambangi langsung pemesan makananannya ke rumah.

Proyek kuliner ini adalah inisiasi dari Warung Ubi Ibu, Doa Ibu Segala Ada, Lapak Berjalan, dan Endo Enterprise. Masing-masing bidang ini punya fokus sendiri.

Sebut saja Warung Ubi Ibu, di dalamnya menyediakan aneka menu makanan beragam tema. Selain itu, ada Lapak Berjalan yang menjual aneka produk dengan sentuhan artistik seperti apron, tas, bandana, dan suvenir. Mereka juga menjual tanaman hias dan wadahnya yang dikemas artistik.

Konsep membuat food truck dengan mendatangi pembeli ini bisa dibilang sangat jarang, khususnya di Bandung. Dengan mobil Hijet 1000 yang didekorasi artistik dan ciamik, mereka keliling Bandung Raya mendatangi para pemesan menu.

Beritabaik.id mengikuti sebagian dari rangkaian Doa Ubi edisi keempat yang berlangsung pada Minggu (1/8/2021). Mereka menyambangi tiga titik di Bandung, mulai dari KPAD Gegerkalong, Antapani, dan Buahbatu.

"Ini tuh kayak proyek seru-seruan kita. Saat pandemi gini, kan orang enggak bisa ke luar rumah, makan di tempat pun tetap dibatasi. Akhirnya kita kepikiran nih buat datengin rumah pemesan makanan ini," ujar Terranova, salah seorang inisiator Doa Ubi.

Untuk bisa menikmati sajian dari Doa Ibu, pertama, kamu perlu melakukan pemesanan melalui akun instagram @warungubiibu. Menunya bisa kamu lihat di sana.

Oh ya, sebagai informasi, menu yang disajikan bersifat tematik dan berbeda setiap edisi. Misalnya pada edisi pertama, mereka punya menu andalan bubur liwet dan sop singkong. Pada edisi kedua, mereka menyajikan nasi lemak biru dan lontong cap go meh. Pada edisi ketiga, mereka menghadirkan nasi liwet Solo.

Satu edisi biasanya berlangsung sepekan. Pada edisi keempat, mereka mengangkat tema kuliner Meksiko. Sederet menu hadir, mulai dari crunch wrap tachos, chili corn with carne breadnachos + salsa, es krim jagung, serta capirotada (roti dan puding khas Meksiko) disajikan oleh Doa Ubi.

Berbicara tarif, makanan yang dijual berkisar antara Rp35 ribu hingga Rp80 ribu. Dengan rasa dan tema yang jarang ditemui di Bandung, rasanya kisaran harga tersebut relatif bersahabat di kantong ya?

Baca Ini Juga Yuk: Soto Pak Ento, Kuliner Legendaris yang Tersembunyi di Jalan Braga


Misi Menekan Sampah
Konsep mendatangi rumah pemesan adalah salah satu keunikan dari proyek kreatif Doa Ubi. Mobil Hijet 1000 disulap menjadi dapur penyajian makanan. Mereka membawa serta juru masak untuk ikut keliling di tiap edisinya.

Bicara soal mendatangkan makanan ke rumah pemesan, Terra memaparan alasan di baliknya. Selain untuk mengurangi aktivitas konsumen di luar rumah, konsep ini adalah upaya menekan sampah. Sebab, saat menyajikan makanan, mereka bakal meminta konsumen menyiapkan tempat makan sendiri.

Uniknya, enggak jarang mereka disambut pembeli di rumahnya. Dengan tetap mengenakan protokol kesehatan ketat, mereka menyajikan hidangan tematik per minggunya, bahkan sampai menunggu hidangan tersebut disantap pembeli di beranda rumah.

"Kadang memang yang pesannya itu dari teman-teman atau saudara kita juga, jadi biasanya memang kita seperti dapat sambutan," ujar Terra.

Untuk karakter menunya sendiri, ada yang bisa disajikan di food truck. Namun ada juga makanan beku atau frozen food yang bisa dimasak sendiri oleh pemesannya.

Biasanya, pukul 07.00 WIB mereka berangkat dari markasnya di Gang Cicendo, Babakanciamis, Kota Bandung. Saat kami mengikuti edisi keempat mereka, titik pertama yang disambangi adalah rumah pemesan di wilayah Gegerkalong, Bandung.

Layaknya dapur berjalan, mobil Hijet 1000 yang sudah didandani ini berhenti di depan rumah pembeli. Mereka menyajikan pesanan dan mengantarkannya sampai ke meja makan pembeli yang disetel di beranda rumah. Setelah makanan disantap beberapa suapan oleh konsumen, mereka pun pamitan ke titik berikutnya.

Baca Ini Juga Yuk: Merindu Canteen, Kafe Buat Kamu yang Kangen Masakan Rumah


Donasi di Setiap Pesanan
Ada juga hal lain enggak kalah menarik dari proyek Doa Ubi ini. Mereka menyediakan ruang berbagi lewat proyek ini. Setiap pemesanan menu Warung Ubi Ibu yang diantarkan lewat program Doa Ubi, mereka menyediakan format pemesanan dan membuka donasi bagi pemesan.

Donasi itu nantinya akan dikonversi ke dalam bentuk makanan, minuman, atau alat pelindung diri (APD) seperti masker dan hand sanitizer. Biasanya, saat berkeliling dan berbelanja bahan baku untuk pesanan itulah mereka menjalankan aksi baik berbagi ini.

"Kita ngelihat gimana survive-nya orang-orang yang masih harus keluar rumah. Untuk saat ini, semua orang masuk kategori membutuhkan sih, termasuk kita. Kita juga enggak ngoyo harus ada donasi sih sebetulnya. Yang jadi fokus kita tuh donasinya walaupun kecil tapi konsisten," beber Terra.

Dalam satu edisi pemesanan, biasanya terkumpul uang dengan nominal yang tak menentu. Walau tak menyebut secara spesifik, tapi hasil donasi itu mereka konversi untuk diberikan para orang lain.

Penerima donasinya pun dipilih acak. Saat di jalan menemui pekerja lepas harian, mereka bisa menghampirinya untuk memberikan donasi tersebut. Atau misalnya saat sedang belanja ke pasar di malam hari, mereka menyalurkan donasi ini ke orang-orang yang hidup dari aktivitas tengah malam di pasar.

Pada edisi kelima yang nantinya bakal dijajakkan pada Minggu (8/8/2021) mendatang, mereka mengangkat tema Doa Ubi DKK. Ya, bakal ada teman-teman pelaku UMKM yang mereka berikan lapak untuk berjalan bersama. Info lebih lengkap mengenai menu terbaru di edisi kelima bisa kamu intip di Instagram mereka, ya.

"Jadi volume 5 ini kita ngajak temen-temen, supaya mereka bisa punya lapak juga," sambung Terra.

Baca Ini Juga Yuk: Kampung Daun, Restoran Eksotis dan Legendaris Sejak 1999


Jadi Wadah Kreatif di Bandung
Sebelum pandemi berlangsung, embrio dari proyek Doa Ibu adalah Warung Ubi Ibu yang terletak di Gang Cicendo, Babakanciamis, Bandung. Dengan lapak yang relatif luas, kolektif Doa Ibu yang terdiri dari lintas disiplin ini juga kerap membuat aktivasi kegiatan seni yang menarik.

Beberapa aktivasi kegiatan kreatif yang dilakukan antara lain workshop seni rupa, yoga, dan kegiatan kreatif lainnya. Saat terjadi relaksasi masa pembatasan sosial, mereka sempat menggelar aktivasi dengan protokol kesehatan ketat dan pembatasan jumlah pengunjung.

Terra menyebut, setelah pandemi berlalu, enggak menutup kemungkinan lahan yang dimiliki kolektif Doa Ubi ini bakal menjadi wadah kreatif baru di Bandung. Apalagi, kolektif Doa Ubi sendiri dihuni pelaku lintas bidang seni dan budaya pop seperti kuliner, misalnya.

Mereka juga sangat terbuka bagi kamu yang punya keinginan berbagi dan berkolaborasi membuat ide kreatif seru. Ya, kamu bisa berkenalan dengan mereka di Instagram @warungubiibu.

Sebagai pamungkas, terkait kegiatan serunya, Doa Ubi mengaku sangat senang jika konsep bisnis kreatifnya ini bisa menginspirasi pelaku-pelaku kreatif lainnya. Mulai dari menjual makanan di food truck dan mendatangi rumah-rumah pemesan, membiasakan tidak menyediakan bungkus makanan, hingga kegiatan donasi yang menurut mereka berjumlah kecil namun konsisten.

Hal-hal sederhana ini diyakini Doa Ubi dapat meningkatkan semangat kreatif di tengah masa-masa yang enggak mudah.v"Balik lagi, semua orang dalam keadaan butuh saat ini. Ya, sebisa mungkin sih bagi-bagi aja, walaupun sedikit asalkan konsisten," pungkas Terra.

TemanBaik, barangkali mau ikut andil di Doa Ubi edisi kelima, kamu bisa menghubungi mereka di Instagram. Panjang umur ide-ide kreatif yang seru dan menyenangkan!


Foto: dokumentasi Doa Ubi





Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler