Segelas Kopi dan Cerita Menarik Matisti

Bandung - Di tengah pandemi dan pembatasan sosial, ide kreatif dan kisah menarik banyak bermunculan. Salah satunya dari Matisti, sebuah merek kopi dengan sepeda sebagai media berjualannya.

Orang di balik ide kreatif ini ialah Angga Gilang Ramadhan. Sebelum menjual merek dagangnya sendiri, Angga merupakan barista di Kopi Kohi di Jl. L.L.R.E. Martadinata, Bandung. Ia juga pernah menjadi penanggung jawab di Kopi Kelenteng.

Nama Matisti sendiri terinspirasi dari bahasa Sansakerta, artinya mendinginkan. Sembari bercanda, ia menyebut usaha berjualan kopi ini sebagai ‘proyek masa korona’. Ia biasanya berjualan di wilayah Taman Cibeunying mulai pukul 08.00-13.00 WIB.

Beritabaik.id ngobrol dengan Angga dan memesan segelas kopi V60. Ia merekomendasikan jenis kopi bagi pemula seperti kami.

“Kalau jarang minum kopi manual, saya bikinin yang agak fruity aja ya (rasa kopinya),” ujar Angga saat membuatkan pesanan kami.

Angga merupakan mahasiswa tingkat akhir yang terdampak secara ekonomi akibat pandemi COVID-19. Motor antik kesayangannya terpaksa dilepas demi memenuhi kebutuhan hidup. Sisa dari hasil menjual motor, sebagian dialokasikan untuk merakit sepeda yang kemudian digunakan berjualan.

Ia tinggal di daerah Cikutra, Bandung. Saban pagi, ia mengayuh sepedanya menuju titik jualan. Sebelum pemberlakuan PPKM Darurat, biasanya Angga berjualan di wilayah Jalan Siliwangi, lalu ke Taman Cibeunying. Lokasi kedua ini jadi lokasi favorit, karena banyak dikunjungi pecinta kopi.

Matisti punya menu andalan kopi manual. Sajian seperti V60 dan Japanese bakal memanjakan kamu, pecinta kopi. Angga biasanya bertanya kepada calon pembelinya, mau dibuatkan kopi dengan jenis apa. Jika calon pembeli tersebut terbilang jarang minum kopi, ia akan membuatkan kopi yang ‘ramah’ di lidah.

Hal ini juga dilakukan kepada kami. Ia membuatkan segelas kopi V60. Cita rasa yang ditawarkan, enggak beda jauh seperti apa yang disebutkan.

Sebut saja saat ia bilang kopi dengan cita rasa buah (fruity). Menurut kami, apa yang ia buat, enggak jauh beda dengan hasilnya. V60 buatannya terasa fruity dan nyaman untuk kami, pemula dalam mengonsumsi kopi.

Deretan menu kopi di Matisti dibanderol seharga Rp12 ribu hingga Rp 15 ribu. Wajib cobain nih! Selain V60, ada juga kemasan es kopi susu dalam format botol, juga minuman non kopi seperti thai tea dan green tea. Dua menu non kopi ini dibanderol Rp7 ribu.

Baca Ini Juga Yuk: Menyemai Harap Anak Pesantren Lewat Burger Rp15 Ribu

Sepeda dan Kopi
Sepeda dan kopi merupakan dua hal yang dekat dengan Angga. Bahkan, sebelum motornya harus dilepas, ia menggunakan sepeda sebagai alat transportasi harian. Saat bekerja di Kopi Kelenteng pun, jarak dari rumahnya di Cikutra ke Kopi Kelenteng ditempuh menggunakan sepeda.

Setelah keluar dari Kopi Kelenteng, ia mencari pekerjaan paruh waktu. Namun, sayangnya ia tak menemukan pekerjaan tersebut. Hingga akhirnya ia tertarik konsep dagang Biji Kopling (sebuah produk kopi) yang berjualan kopi dengan sepeda motor, ia kemudian coba menawarkan konsep sepeda sebagai media jualan.

“Sebenarnya enggak kepikiran. Tapi, pas lihat si Biji Kopling, kepikiranlah ngerakit sepeda,” terangnya.

Saat masa awal mencari lapak, Angga bahkan sempat berjualan di satu area dengan idolanya, Biji Kopling. Setelah beberapa bulan berjalan, pelan-pelan Angga menemukan tempat dan pelanggan baru.

Sebagai informasi, Angga juga membiasakan pola pikir dan sikap yang baik saat berjualan. Seperti menerapkan protokol kesehatan saat melayani pembeli, menjaga kebersihan dengan menyediakan kantung sampah, serta membantu pedagang lain.

Contoh upaya membantu pedagang lain ini dilakukannya dengan hanya membawa dua liter air saja sebagai bahan baku dari rumah. Sisanya, ia akan membeli air dari pedagang kios yang berjualan di sekitar Taman Cibeunying.

“Kan lumayan. Di masa PPKM gini, belum tentu ada yang beli dagangan mereka,” terangnya.

Dalam satu titik jualan, Angga bisa menjual 20 hingga 25 gelas kopi. Namun, jumlah itu tentu berubah-ubah dan tak menentu.

Baca Ini Juga Yuk: Saat Sepeda Disulap Jadi Kedai Kopi

Ajak Banyak Orang Minum Kopi
Enggak sekadar berjualan kopi, Angga juga coba mengajak lebih banyak orang untuk mengonsumsi kopi. Ia pribadi mengaku merasakan manfaat kopi bagi tubuhnya.

Hal ini juga berkaitan dengan harga yang ia jual. Satu kap kopi di Matisti dibanderol mulai dari Rp12 ribu. Harga terjangkau ini disebut Angga sebagai upaya agar orang tertarik minum kopi.

“Yang kerasa sama saya sih minum kopi tuh bikin seger ke badan, banyak lah manfaatnya. Saya teh kepikiran pengin membagi manfaat ini ke orang lain. Nah, dengan harga yang terjangkau, saya berharap seenggaknya ada orang yang tertarik buat minum kopi,” terangnya.

Angga berharap, ke depannya Matisti bisa segera punya kedai sendiri. Namun, ia juga memberi catatan kedai yang akan dijalankannya kelak tak akan menghilangkan ciri sepeda seperti masa awal berdirinya Matisti.

“Jadi, nanti mah yang di kedai biar aja kru saya. Saya sebagai owner mah bakal sepedahan saja terus. Keliling,” tandasnya penuh harap.

TemanBaik, barangkali kamu penasaran akan kenikmatan segelas kopi di Matisti, kamu boleh datang ke lapak berjalannya di Taman Cibeunying, Bandung. Matisti mangkal setiap harinya mulai pukul 08.00 hingga pukul 13.00.

Atau kamu bisa mengirim pesan langsung melalui Instagram ke @matisti.bvrg. Yuk, dukung terus usaha kreatif agar bisa bertahan di tengah pandemi!


Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler