Saat Sepeda Disulap Jadi Kedai Kopi

Bandung - Tempat ngopi saat ini begitu menjamur di berbagai daerah. Paling umum berkonsep kafe atau kedai. Namun, di Kota Bandung ada kedai kopi dengan konsep unik.

Mengusung nama Livious Coffee Bike, kedai kopi ini jadi pembeda di sepanjang Jalan Lombok, Kota Bandung. Tampilannya sederhana, tapi keberadaannya cukup menarik perhatian.

Di sana ada satu meja dan beberapa kursi. Agar terhindar dari panas, dipasang tenda yang menaunginya. Sedangkan di sebelahnya terparkir sepeda yang dimodifikasi menjadi 'dapur'.

Sepeda ini berwarne oranye yang terlihat begitu mencolok. Ibarat meja, di sepeda ini disimpan berbagai perlengkapan untuk meracik kopi. Begitu ada pesanan, barista akan langsung meraciknya di sana dan segera menyajikannya.

Konsumen pun tinggal menikmati kopi di tengah suasana yang cukup asri dengan banyaknya pepohonan besar di sekitar lokasi. Jika tak nyaman dengan suasana di lokasi karena berada di pinggir jalan, kopi tinggal dibawa dan dinikmati di tempat lain.

Baca Ini Juga Yuk: Kopi Chuseyo, Tempat Ngopi Cantik buat Para KPopers Bandung

Ide dan Misi
Budi Wahyudi, pemilik Livious Coffee Bike, mengatakan usahanya itu berjalan sejak 2020 lalu. Ia menjalankan usaha itu bersama seorang rekannya.

Konsep coffe bike yang diusung berawal dari tren bersepeda di Bandung yang menggeliat tahun lalu. Tren itu ditangkap sebagai peluang untuk berjualan kopi.

Singkat cerita, Budi dan rekannya melakukan berbagai persiapan untuk merealisasikan usaha itu. Elemen paling penting adalah memodifikasi sepeda secara khusus yang lumayan menguras kocek.

Berbagai peralatan pun disiapkan hingga bisa menemukan titik berjualan di salah satu titik di Jalan Lombok. Tempatnya memang di pinggir jalan, tapi tidak mengusik trotoar.

"Awalnya waktu awal-awal pandemi kan ngetren sepeda. Ya, dengan kayak gitu, mulailah kepikiran buat bikin konsep coffee bike kayak gini. Kan di Bandung juga emang jarang gitu konsep coffee bike kayak gini," ujar Budi saat berbincang dengan Beritabaik.id.

Selain sebagai usaha, ada misi tersendiri di balik konsep ini. Budi dan rekannya membawa semangat agar semakin banyak orang gemar bersepeda. Sebab, sepeda adalah alat transportasi ramah lingkungan.

Kegiatan bersepeda pun tentu jadi aktivitas menyehatkan. Apalagi di tengah pandemi, bersepeda diyakini bisa jadi salah satu cara menjaga imunitas dan menghadirkan kebahagiaan tersendiri.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Menggugah Hati dari Makan Siang Gratis di Kedai Kopi

Tantangan di Tengah Pandemi
Bagi Budi, membuka usaha di tengah pandemi memang memiliki tantangan tersendiri. Apalagi, aturan dan kebijakan pemerintah juga berubah-ubah.

Sejak awal usaha ini didirikan, geliat yang ada dirasa lumayan menggiurkan. Dalam sehari, rata-rata 30-40 cup kopi dan minuman lainnya terjual. Namun, setelah adanya PPKM Darurat, pemasukan yang ada turun drastis.

"Kendalanya di situ (aturan yang berbah-ubah) sih paling sekarang. Kan di sini kebanyakan dine in ya, sedangkan sekarang dine in tuh lagi dibatasi gitu. Makanya untuk penjualan sedikit berkurang," ungkap Budi.

Sejak PPKM diberlakukan, rata-rata dalam sehari paling terjual sekitar 10 cup saja. Namun, hal itu tetap disyukuri. Sebab, ada begitu banyak pengusaha kecil hingga besar yang juga merasakan penurunan omzet selama pandemi.

Budi dan rekannya pun berusaha konsisten dengan usahanya. Kondisi yang ada bukan alasan untuk menyerah. Apalagi, Budi juga punya misi tersendiri yang belum tercapai.

"Ada goals-goals lain yang belum tercapai sih. Misalnya ingin membuka usaha yang baru gitu, ingin melebarkan sayap lah istilahnya," tutur Budi.

Baca Ini Juga Yuk: Gudang Kopi yang Kini Jadi Balai Kota Bandung

Menu Unggulan
Di tempat ini, ada beragam sajian kopi yang bisa dipilih, mulai dari Americano, cafelatte, cappuccino, v60, hingga tubruk. Di antara semua menu kopi, unggulannya ada es kopi susu.

"Menu unggulan sih es kopi susu, dijamin lah beda dari es kopi susu yang lain. Ciri khasnya itu rasanya lebih creamy, tidak terlalu menonjolkan kopinya. Jadi, buat orang-orang yang enggak terlalu suka kopi, juga bisa menikmati," kata Budi.

Ada juga menu minuma selain kopi. Mulai dari matcha milk presso, cokelat, red velvet, hingga taro latte. Harganya pun cukup terjangkau. "Harganya dari Rp15 ribu sampai Rp18 ribu," jelas pria 20 tahun itu.

Soal rasa, tak perlu diragukan. Meski disajikan dari pinggir jalan, rasanya tak kalah dari minuman yang disajikan di kedai, kafe, atau restoran. Penasaran dengan sajian kopi ala Livious Coffee Bike? Langsung ke lokasi saja ya bagi kamu yang tinggal atau kebetulan sedang ada di Bandung.


Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler