Senyum, Isyarat, hingga Pohon Harapan yang Bicara

Bandung - TemanBaik, disabilitas di Bandung bikin acara seru, nih! Mereka bikin bazar di area parkir GOR Pajajaran. Mau tahu keseruannya? Simak ulasannya, yuk!

Bazar ini digelar Komunitas Persaudaraan Disabilitas yang beranggotakan disabilitas berbagai organisasi dan latar belakang. Digelar sebagai bagian dari peringatan HUT Kota Bandung ke-211, bazar ini mengusung tema 'Ekonomi Maju, Ekonomi Tumbuh, Disabilitas Bangkit'.

Di sini, para disabilitas dan sejumlah organisasi disabilitas punya booth masing-masing. Ada yang menjual makanan, minuman, kerajinan tangan, hingga kaki palsu. Pembagian sembako juga mewarnai kegiatan ini dengan sasaran penyandang disabilitas.

Kemeriahannya, area panggung jadi tempat para disabilitas unjuk kemampuan. Bahkan, banyak yang tampil bernyanyi. Tak asyik sendiri, banyak disabilitas larut dalam kegembiraan hingga berjoget saat lagu didendangkan. Senyum hingga tawa lepas pun tersaji.

Ketua Pelaksana Bazar Komunitas Persaudaraan Disabilitas Anwar Permana mengatakan kegiatan yang digelar hasil spontanitas. Berawal dari grup aplikasi percakapan, anggotanya mengusulkan bikin kegiatan. Akhirnya, bazar disepakati digelar.

Salah satu harapannya, lewat bazar ini, disabilitas yang membuka booth punya lahan berjualan. Meski hanya dua hari, tepatnya 13-14 Oktober 2021, kegiatan ini diharapkan membuat mereka mendulang pundi-pundi uang.

"Kan kita selama ini terdampak pandemi gitu ya, kita ingin disabilitas ini bangkit lagi. Makanya kita kasih tema 'Ekonomi maju, Ekonomi Tumbuh, Disabilitas Bangkit'. Jadi, kita berharap bangkit dengan memperlihatkan produk-produk disabilitas," kata Ozzu, sapaan akrabnya, saat ditemui di lokasi, Rabu (13/10/2021).

Ada banyak hal menarik tersaji di sini. Aneka makanan dan minuman cukup menggoda selera. Pengunjung yang datang pun banyak berasal dari kalangan disabilitas. Kegiatan ini pun ibarat jadi tempat mereka berkumpul. Namun, protokol kesehatan ketat tetap diupayakan dijaga demi kebaikan bersama.

Ada pengunjung yang memakai kursi roda, disabilitas netra, hingga teman Tuli. Bahkan, banyak perbincangan 'senyap' antara pembeli dan konsumen, termasuk pengunjung dengan pengunjung. Mereka berbicara bahasa isyarat.

Namun, karena perlu membuka masker, ada yang melepasnya saat berbincang menggunakan bahasa isyarat. Sebab, penggunaan bahasa isyarat terkadang harus dilengkapi dengan gerakan mulut agar lebih mudah dibaca. Meski begitu, jaga jarak berusaha dilakukan mereka saat ngobrol bahasa isyarat tanpa melepas masker.

Di luar itu, ada banyak hal menarik lain dari kegiatan ini. Jika penasaran, kamu tinggal datang ke lokasi. Kegiatannya juga akan berlangsung hingga Kamis (14/10/2021). Jadi, masih ada waktu untuk mengunjunginya.
Baca Ini Juga Yuk: Ngobrol dengan Siti, Teman Netra Hafiz yang Jago Bernyanyi


Hadirkan Pohon Harapan Disabilitas
Salah satu yang menarik dari kegiatan ini adalah aksi pembuatan lukisan di atas medium lukis berwarna putih. Diberi nama 'Pohon Harapan Disabilitas', karya ini dibuat Guntur Afandi, seorang disabilitas daksa.

Ia membubuhkan cat di atas permukaan medium lukis berwarna putih. Lukisannya hanya menghadirkan dua warna, hitam dan putih. Pada bagian atasnya tertulis 'Pohon Harapan Disabilitas. Di bawahnya, dihadirkan gambar pohon dengan daun yang jarang pada rantingnya.

Pada bagian bawah sebelah kiri, Guntur menghadirkan sosok disabilitas daksa berkursi roda. Di sebelah kanannya terdapat tulisan 'Jangan Banyak Tangga!!!'. Sedangkan pada bagian tengah lukisan sebelah kiri, tertenpel kertas kecil berisi harapan yang ditulis para disabilitas.

Guntur mengaku membawa pesan khusus dalam karyanya. Ia mengajak pemerintah dan masyarakat umum lebih melek pada disabilitas dan tak lagi menghadirkan diskriminasi.

"Pesan ini kita coba tampilkan dengan bentuk lukisan gambar sketsa dimana di sini berbicara tentang kursi roda mewakili temen-temen disabilitas penyandang daksa. Di kita, khususnya di Bandung, sekarang ini masih banyak fasilitas-fasilitas yang memang belum akses (ramah) untuk temen-temen disabliitas, terutama untuk yang memakai kursi roda," ujar Guntur.
Baca Ini Juga Yuk: Eye to eye, Perhiasan Berisi Cinta Bagi Disabilitas


Selain bagi disabilitas daksa, fasilitas publik juga masih ada yang belum ramah terhadap disabilitas netra. Salah satu contohnya adalah trotoar yang belum semuanya aman serta nyaman bagi disabilitas daksa dan netra.

Ia mencontohkan ubin pengarah trotoar. Penempatannya masih ada yang tak sesuai. Bahkan, menurutnya ada disabilitas netra yang akhirnya justru nyasar saat memakai ubin pengarah tersebut.

Selain itu, ada trotoar yang di tengahnya terdapat pohon. Ini mungkin dianggap biasa bagi masyarakat awam, namun jadi kendala bagi disabilitas, khususnya disabilitas daksa dan netra.

Di saat bersamaan, warga juga belum semuanya paham bagaimana cara memperlakukan dan membantu disabilitas. Misalnya teknik mendorong kursi roda, membantu menyeberangkan disabilitas netra, hingga berbincang dengan teman Tuli, semuanya punya cara khusus. Jadi, enggak asal bantu yang akhirnya bantuan jadi tak tepat.

Oleh karena itu, Guntur berharap lukisannya jadi penggugah kesadaran pemerintah dan warga. Sehingga, fasilitas publik semakin ramah bagi disabilitas, warga pun makin paham cara menempatkan hingga membantu disabilitas.

"Intinya memang kita bisa berbaur dengan masyarakat tanpa adanya perbedaan, tanpa adanya diskriminasi. Sekarang memang bukan zamannya lagi (diskriminasi), kita sudah era digitalisasi, masa diskriminasi lagi gitu kan," tuturnya.

Dalam waktu sehari, lukisan Guntur diharapkan selesai. Setelah itu, rencananya lukisan ini akan diberikan pada Wali Kota Bandung. Harapannya lukisan ini membuat Pemkot Bandung lebih peka untuk menghadirkan fasilitas publik ramah disabilitas hingga lebih memahami cara memperlakukan mereka.


Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler