Semangat RAWS SNDCT Hidupkan Ekosistem Fotografi di Indonesia

Bandung - Digagas sejak akhir dekade 2000-an, Raws Syndicate (RAWS SNDCT) muncul sebagai salah satu sindikasi yang punya tujuan menghidupkan ekosistem fotografi di Indonesia. Sejak 2013, sindikasi ini telah memberi banyak sumbangsih atas keseimbangan ekosistem fotografi di Indonesia.

Beritabaik.id berkesampatan untuk main-main ke markas salah satu unit kerja RAWS SNDCT di Lantai 3 Pasar Cikapundung, Bandung. Kepada kami, Wahyu Dhian Yudhistira selaku founder RAWS SNDCT menceritakan bagaimana perjalanan selama satu dekade pergerakan sindikasi ini.

Terbentuknya RAWS SYNDCT itu sendiri berawal dari kegelisahan Wahyu saat dirinya masih duduk di bangku kuliah. Saat itu, Wahyu yang merupakan mahasiswa Jurusan Fotografi mengaku kalau ekosistem pelaku di dunia fotografi, khususnya di lingkungan sekitarnya belum seimbang. Ia melihat hampir seluruh pelaku di bidang fotografi seolah berlomba menjadi fotografer. Padahal, menurutnya fotografi itu sendiri enggak melulu soal memotret atau jadi fotografer. Artinya, ada unsur lain yang enggak bisa dilupakan oleh pelakunya.

"Dari situ saya mikir, kayaknya perlu ada movement (pergerakan) untuk bisa menghidupkan ekosistem fotografi di kita dan akhirnya saya gagas RAWS SYNDCT ini sebagai movement tersebut," ujarnya, Selasa (5/1/2021).

Dalam menjalankan pergerakannya, RAWS SNDCT juga menyeimbangkan pergerakan atau movement itu dengan sisi bisnis. Setidaknya, ada 8 unit kerja di RAWS SNDCT yang saling melengkapi antara pergerakan yang dimaksud dengan bisnis guna mencukupi kebutuhan mereka sebagai sindikasi.



Kedelapan unit kerja itu antara lain RAWS SNDCT itu sendiri, Red Raws Center, Indonesian Photography Archive (IPA), Perpustakaan Fotografi Keliling, RAWS Syndicate Publishing, RAWS Attack Class, RAWS Clothing Syndicate, RWD Photography Handling, dan ROLCA.

Baca Ini Juga Yuk: Yuk! Setop Pelecehan di Tempat Kerja dengan Berani Bersuara

Delapan unit ini seolah jadi taman bermain bagi pasukan RAWS SNDCT, yang mana di dalamnya terdapat galeri dan ruang pamer, ruang arsip, literasi, kelas fotografi non teknis, serta ruang-ruang di bidang fotografi yang mungkin enggak terjamah oleh kebanyakan orang seperti kuratorial, photography handling, hingga penulisan buku foto. 

Sebab, kembali lagi, menurut Wahyu, fotografi enggak melulu harus jadi fotografer. Kita masih bisa menjadi kurator foto, desainer pameran foto, editor buku foto, kritikus dan lain sebagainya.

Untuk menggaet banyak pihak dalam mengemban misinya menghidupkan ekosistem fotografi, RAWS SNDCT membuka unit RAWS Attack Class. Kelas fotografi non teknis ini dibuka selama 10 kali pertemuan (sekitar 2,5 bulan) untuk satu angkatan di markas mereka, Red Raws Center, Lantai 3 Pasar Cikapundung, Bandung. Sampai saat ini, sudah ada 8 angkatan yang merupakan 'jebolan' RAWS Attack Class. 


Di samping edukasi, RAWS Attack Class juga dianggap sebagai wahana yang cocok untuk memperluas jaringan dan tujuan RAWS SNDCT itu sendiri, karena dengan lalu lalangnya orang ke markas mereka, diharapkan orang-orang tersebut juga bisa menyebarkan tujuan ini ke pelaku fotografi di manapun mereka berada.

Selain itu ada pula unit Perpustakaan Fotografi Keliling, yang menjadi wadah literasi di bawah RAWS SNDCT. Mereka kerap membuka lapakan buku foto, yang mana kamu bisa membaca beberapa buku foto, bahkan yang tergolong antik dan langka pada lapakan ini. Biasanya, pada tiap Selasa, mereka menggelar acara Selasa Baca di Red Raws Center, Cikapundung. Saat kami berbincang dengan Wahyu pun, kebetulan habis dilangsungkan acara Selasa Baca tersebut.

Enggak berhenti di sana, mereka juga membuka unit kerja percetakan buku, yaitu RAWS Syndicate Publishing dan unit clothing RAWS Clothing Syndicate. Dua unit ini bisa dikatakan sebagai unit bidang bisnis, disbanding RAWS Attack Class atau Perpustakaan Fotografi Keliling, yang sifatnya pergerakan nonprofit. Di RAWS Syndicate Publishing, mereka memproduksi sejumlah buku foto karya fotografer-fotografer yang bekerja sama dengan mereka. Wahyu menyebut, dirinya sangat terbuka dengan kehadiran fotografer-fotografer baru yang hendak membuat buku foto.

"Saya pribadi lebih seneng tuh kalau fotografer yang mau bikin buku foto itu, dia orangnya enggak terkenal lah katakanlah begitu," katanya.

Belum habis, masih ada Indonesian Photography Archive dan RWD Photography Handling. Jika Indonesian Photography Archive difungsikan sebagai pengarsip foto, maka RWD Photography Handling adalah salah satu unit bisnis yang menyediakan fasilitas bagi kamu yang hendak membuat pameran foto. 

Menurut Wahyu, di dalam RWD Photography Handling, ada sejumlah jasa yang bisa kamu dapatkan mulai dari kuratorial, tempat dan galeri, hingga desain pameran. Dengan harga yang enggak mencekik, RWD Photography Handling bisa menangani pameran yang hendak kamu buat.

Terakhir, ada ROLCA. Ini merupakan alat atau DAW fotografi yang sedang dikembangkan oleh RAWS SNDCT. Bagaimana? Lengkap bukan wahana bermain di sini?

Menghidupkan Ekosistem
Delapan unit kerja RAWS SNDCT tersebut bisa dikatakan cukup seimbang bagi sebuah sindikasi atau pergerakan dengan tujuan keseimbangan ekosistem. Saat ditanya lebih lanjut mengenai perjalanannya sejak meresmikan RAWS SNDCT pada 2013, Wahyu menyebut telah banyak unit-unit di bidang fotografi yang mulai berjalan. Sejauh ini, RAWS SNDCT enggak selalu mencetak fotografer saja, melainkan juga beberapa pelaku non fotografer di bidang fotografi.

"Dengan adanya satu kegiatan seperti perilisan buku foto aja. Dari kita bisa ngirim lebih dari satu unit kerja. Atau pada saat pameran, kan enggak hanya fotografer aja ya yang unjuk gigi di sana? Nah, perlahan tujuan kami mulai terealisasi,"ujarnya.

Ke depannya, tugas bersama yang sedang diemban RAWS SNDCT adalah menghidupkan ruang bagi pelaku fotografi di Indonesia. Tentu, melalui kegiatannya yang dimulai dari Kota Bandung. Wahyu tidak menampik, ruang untuk fotografi di Bandung sendiri masih sangat minim, atau bahkan nyaris tidak ada.

Namun ia masih percaya, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi salah satu kunci tersedianya ruang tersebut, mengingat dalam lima tahun ke belakang, pertumbuhan industri fotografi begitu melesat.

Sebagai penutup, Wahyu mewakili RAWS SNDCT sangat membuka diri apabila kamu hendak bergabung dan berkolaborasi dalam menghidupkan ekosistem fotografi tersebut. Menurutnya, selain bergerak maju, menggaet orang baru untuk bergabung dan berjalan bersama juga menjadi bagian dari misi RAWS SNDCT.

"Kuncinya (untuk menghidupkan ekosistem fotografi) tuh hanya kolaborasi. Makanya, kita sih terbuka banget sama siapa aja yang mau dateng. Yuk, ramaikan!" pungkasnya. 

Foto: dok. Raws Syndicate


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler