Mengintip Pengasuhan Berbasis Keluarga ala SOS Children’s Village

Bandung - TemanBaik, cinta kasih dan rasa sayang merupakan dua hal penting dalam pengawasan tumbuh kembang anak. Landasan inilah yang dijalankan oleh SOS Children’s Villages.

Pola pengasuhan anak ini diboyong dari Austria ke Indonesia. SOS Children’s Villages yang terletak di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, merupakan lembaga SOS pertama yang berdiri di Indonesia pada tahun 1972.  Sebelumnya, untuk kamu yang belum tahu, SOS Children’s Villages ini merupakan salah satu lembaga yang menjadi tempat bernaung anak-anak yang tumbuh tanpa pengasuhan orang tua.


Kami berkesempatan untuk main ke lokasi SOS Children’s Villages di Lembang, Kabupaten Bandung Barat dan berbincang langsung dengan Gregor Hadi Nitihardjo selaku National Director di SOS Children’s Villages. Di tengah tumbuh dan banyaknya lembaga yang bergerak di bidang yang sama, hal berbeda yang ditunjukkan oleh SOS Children’s Villages adalah konsep tumbuh bersama Ibu dan Ayah asuh, yang mana dalam kawasan SOS Children’s Villages ini terdapat 13 rumah dengan masing-masing satu Ibu asuh. 13 orang Ibu asuh ini didampingi oleh 3 Ayah asuh yang tumbuh bersama anak-anak asuhnya.

Saat ini, ada 150 anak yang diasuh oleh SOS Children’s Villages. Mereka datang sejak kecil, bahkan sejak usianya masih bayi, lalu dibesarkan sampai anak tersebut bisa hidup mandiri. Lebih lanjut, Hadi menyebut konsep pengasuhan yang mana anak tersebut dibesarkan dan tumbuh bersama Ibu beserta Ayah asuh ini merupakan upaya mengisi kekosongan jiwa anak. Ia menyebut, anak yang hanya dicukupkan kebutuhan material seperti sandang, pangan, papan, tanpa memperhatikan kebutuhan rasa kasih sayang akan membuat sang anak menjadi kosong saat usianya beranjak dewasa.

"Dengan menciptakan lingkungan yang aman serta meninggalkan kesan yang seolah anak ini merasa dibuang atau diabaikan, maka si anak ini mampu mencapai kemampuan maksimum dari dalam dirinya," ujar Hadi, menjelaskan konsep dasar pengasuhan anak di SOS.


Pada dasarnya, konsep pengasuhan ini meniru keluarga utuh. Jadi, di dalamnya ada aturan-aturan sehari-hari, ya mirip seperti di rumah kita saat kita kecil dulu, TemanBaik. Jadi, konflik antar keluarga, keseharian bermain dengan tetangga, ‘ritual’ menjemput teman dari rumah ke rumah dengan memanggil namanya, keindahan dan keseruan masa kecil itu mereka dapatkan di samping perhatian dan kasih sayang orang tua asuh.

Baca Ini Juga Yuk: Suarahgaloka, Serukan Persatuan Lewat Seni dan Budaya


13 Ibu asuh dan 3 Ayah asuh ini juga punya tugas untuk menemukan bakat dari dalam diri anak. Oleh karenanya, mereka menerapkan konsep multiple intelligent dalam menemukan bakat sang anak. Dalam konsep tersebut, memang dikatakan kalau kecerdasan anak tidak bisa diukur dari nilai matematika atau nilai mata pelajaran tertentu. Berkaca dari metode itu, SOS kemudian menerapkannya, sehingga apapun prestasi dan kemampuan anak yang tumbuh di sana, akan tersemat cap 'anak pintar' dalam diri anak tersebut.

"Anak yang pintar ngurus tanaman atau hewan aja kita sebut sebagai anak pandai. Sehingga si anak ini merasa dihargai, merasa dirinya berharga," terangnya.

Hadi bersama SOS juga termasuk pihak yang sangat mendukung pergeseran stigma yang mulai menerima kelebihan bakat anak di luar bidang eksakta seperti matematika. Menurutnya, semua anak bisa menjadi anak pandai, tergantung bidang mana yang digemari oleh anak tersebut.


Dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, anak-anak asuhan SOS Children’s Villages bersekolah seperti biasa. Usai melaksanakan ibadah pagi dan sarapan, mereka bergegas ke sekolah. Layaknya anak-anak seusianya, mereka bergaul dan punya banyak teman. Sepulang sekolah, mereka kembali ke rumah SOS. Nah, di sini ada beberapa kegiatan atau program yang bisa diikuti oleh anak-anak, sesuai kebutuhan mereka tentunya. Anak-anak tersebut dilatih untuk berkebun, memelihara hewan, olahraga, hingga bermusik.

Kegiatan pengembangan bakat ini bahkan sampai melibatkan partisipasi pihak luar. Mereka menggandeng beberapa pelatih untuk mengembangkan bakat anak-anak di beberapa bidang. Namun, selama pandemi menerpa hampir sepanjang tahun 2020 ini, kegiatan belajar dengan mendatangkan pengajar dari luar sementara harus dihentikan.

"Beberapa anak mulai kita dorong untuk bisa jualan online (daring) sambil sekolah. Produk yang dijualnya pun berasal dari apa yang dia pelihara, seperti hasil kebun, misalnya. Sebab, enggak semua anak minatnya sekolah tinggi ya. Ada beberapa di antara anak-anak ini yang mulai kelihatan nih minat bisnisnya, ya kita arahin," terang Hadi.


Setelah melewati usia remaja, anak-anak SOS biasanya akan memilih akan masuk ke Universitas mana. Biasanya, para Ibu dan Ayah asuh bakal berdiskusi dengan anak, dan memberikan rekomendasi jurusan dan tempat kuliah untuk anak tersebut. Anak-anak asuh SOS dinyatakan bisa lepas dari SOS setelah dirinya bisa hidup mandiri. Kualifikasi bisa hidup mandiri ini salah satunya dengan menyelesaikan sekolah sampai ke tahap S1.

Sampai tahun 2020, sudah banyak 'jebolan' SOS Children’s Villages yang banyak berbicara di luar. Di ruang pertemuan, satu bagian dinding penuh dengan foto wisuda anak-anak SOS. Kendati ditanggapi dengan sedikit guyonan, namun kita bisa melihat bagaimana keseriusan SOS dalam mencetak anak-anak yang mungkin lekat dengan stigma anak terbuang. Pemenuhan kasih sayang dalam masa-masa krusial ini berbuah keberhasilan, sehingga anak-anak yang sejatinya penuh dengan kekurangan ini seolah tak ada bedanya dengan anak-anak dengan pengasuhan dari keluarga yang utuh.

"Di foto ini, ada yang namanya Pak Sutrisno. Seisi dinding ini penuh sama foto dia lagi mengantar anak-anak wisuda. Ya, begitulah. Kami merasa anak yang bisa lulus sampai S1 itu mereka punya modal untuk melanjutkan hidup. Jadi, mereka bisa lepas dari SOS," ujar Hadi.


Baca Ini Juga Yuk: Busa Pustaka, Teman Setia Belajar Anak-Anak di Lampung

Kasih Sayang Tetap yang Utama
Dalam menjalankan misinya, SOS Children’s Villages bekerjasama dengan Dinas Sosial di wilayah mereka berdiri. Saat ini, SOS Children’s Villages tersebar di 10 wilayah di Indonesia, antara lain di Bandung (Lembang), Cibubur (Jakarta), Semarang, Bali, Flores, Banda Aceh, Yogyakarta. Mereka juga sedang mengembangkan konsep pengasuhan anak untuk di wilayah Palu.

Lebih lanjut, Hadi selaku National Director menyebut, ada beberapa tahap asesmen untuk seorang anak bisa diterima di SOS Children’s Villages. Pasalnya, Hadi tak menampik kalau kasih sayang versi terbaik adalah kasih sayang yang datang dari kedua orang tua asli alias organik. Penitipan dan pengasuhan anak di SOS Children’s Villages merupakan opsi terakhir, andaikata sudah tidak ada jalan mempersatukan anak dengan orang tua aslinya.

"Kalau kekurangannya itu sebatas kekurangan ekonomi, tapi orang tuanya baik-baik saja, kita akan sarankan anak ini untuk tetap dengan orang tuanya. Keterpisahan itu merupakan jalan terakhir," jelasnya.


Diakui Hadi, konsep pengasuhan berbasis keluarga ini juga punya tantangan yang sama seperti membesarkan anak. Fase terberat yang dihadapi Ibu dan Ayah asuh dari anak-anak SOS ini adalah saat anak memasuki usia remaja. Di tahap inilah, para pengasuh punya tanggung jawab berat. Selain memberi kasih sayang tanpa kenal lelah, anak-anak juga mulai diarahkan untuk mengikuti kegiatan atau program yang ada di SOS Children’s Villages, mulai dari kegiatan menjahit, komputer, berkebun, hingga musik klasik.

Empat dekade lebih berjalan, SOS Children’s Villages hari ini mulai beradaptasi dengan kebutuhan industri di dunia. Mereka menyiapkan anak-anak asuhnya tidak sebatas dengan membesarkannya saja, melainkan mencetak anak-anak yang bisa hidup mandiri dan beradaptasi dengan kebutuhan industri. Jika pada awal dekade 90-an, hanya ada empat kegiatan seperti bercocok tanam, kerajinan kayu, dan pandai besi, namun pada hari ini kegiatan berbasis daring juga masuk ke dalam program pelatihan yang dijadikan bekal untuk anak. Sayang, karena masih dalam masa pandemi, kami belum berkesempatan untuk melihat kegiatan berbasis program reguler di sini.


Sebagai penutup, Hadi berharap ke depannya, kesadaran akan pentingnya nilai-nilai keluarga dapat ditularkan kepada lebih banyak orang, khususnya yang bergerak di bidang sosial seperti SOS Children’s Villages. Sebab hadirnya keluarga akan punya peran penting dalam perkembangan anak saat ia dewasa kelak.

"Mau keluarga biologis, atau keluarga bentukan seperti di sini, itu penting banget. Jadi, jangan sampai anak-anak ini dibesarkan di tempat yang sebatas atapnya bagus dan selimutnya hangat, tetapi ia melewatkan fase yang harusnya diisi kasih sayang ini. Fase ini jangan sampai kosong," pungkasnya.

TemanBaik, kamu juga bisa melihat-lihat serba-serbi kehidupan anak-anak di SOS Children’s Villages ini melalui laman resmi web mereka di www.sos.or.id, atau Instagram mereka @desaanaksos. Yuk, tebarkan kasih sayang sejauh apapun kita mampu!

Foto     : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Layout  : Agam Rachmawan/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler