Suarahgaloka, Serukan Persatuan Lewat Seni dan Budaya

Bandung - Berangkat dari semangat persatuan, beberapa pelaku seni budaya di Bandung berinisiatif mendirikan wadah persatuan lewat media seni budaya. Ya, wadah tersebut diberi nama Suarahgaloka.

Suarahgaloka itu sendiri secara filosofis bermakna keyakinan bahwa tempat yang kita tinggali (dalam hal ini adalah Indonesia) merupakan tanah surga. Melihat beberapa isu minor terkait persatuan, para penggagas Suarahgaloka merasa perlu ada wadah industri kreatif yang menaungi kemajemukan dalam konteks seni budaya agar dikemas dalam satu wadah. Suarahgaloka digagas oleh Tjuk Guritno sebagai seorang pelaku bisnis di industri clothing apparel dan Vicky Mono, selaku vokalis Burgerkill.

Saat dikunjungi oleh Beritabaik.id ke markasnya di Jl. Ahmad Yani No. 77 Bandung, kami berbincang langsung dengan tokoh inti di Suarahgaloka yakni Kang Abong. Nah, Abong sendiri merupakan co-host, yang selalu nampil di tiap konten aktivasi digital Suarahgaloka.

Ia memaparkan, ide berdirinya Suarahgaloka sebagai wadah pemersatu dengan media seni dan budaya ini merupakan wujud kepeduliannya terhadap isu persatuan itu sendiri. Secara personal, Abong merasa ada banyak pergeseran akibat kemunculan budaya luar ke Indonesia, khususnya dari skena pop kultur.

"Implikasi dari masuknya budaya luar ini, menurut pribadi saya ya, ini bahaya," terang Abong di Bandung, Rabu (9/12/2020).

Dalam pandangan Abong beserta penggagas Suarahgaloka, apabila budaya luar dibiarkan "merajai" gaya hidup anak muda, ada kekhawatiran kalau industri dan budaya lokal hanya akan menjadi jargon semata, tanpa adanya kesejahteraan bagi para pelakunya. Oleh karenanya, kehadiran Suarahgaloka ini diharapkan bisa menjadi alternatif acuan bagi pasar (khususnya di industri kreatif) sehingga tidak ragu untuk membuat produk-produk kultur populer dengan nuansa Indonesia.

Melek digital dan teknologi, tim Suarahgaloka kemudian melirik konten digital sebagai upaya aktivasi gerakannya tersebut. Dalam konten digitalnya, mereka menghadirkan ragam pertunjukan seni dan budaya, sesi bincang-bincang yang dikemas dalam bentuk siniar (podcast), serta berbagai program aktivasi acara pertunjukan lainnya yang dikemas menjadi konten digital. Nah, Kang Abong ini, katakanlah merupakan "tokoh kunci" dalam tayangan podcast di kanal YouTube Suarahgaloka. Coba deh kamu kunjungi siarannya.



Baca Ini Juga Yuk: Busa Pustaka, Teman Setia Belajar Anak-Anak di Lampung

Kembali lagi kepada Suarahgaloka, lebih lanjut lagi, Abong menyebut "invasi" budaya lokal melalui produk budayanya perlu diimbangi juga dengan produk dalam negeri. Ia menganalogikan produk dalam negeri ini sebagai banteng pertahanan, agar selera pasar di skena kebudayaan populer (pop kultur) Indonesia tetap punya ‘menu Indonesia’-nya sendiri.

"Jadi kita rasa dengan cara bikin pertahanan, yaitu mempertahankan produk budaya kita supaya orang kita ngerasa percaya diri untuk memakainya, itu lebih bijaksana sih. Ini enggak berarti konsepnya serang-menyerang. Ada budaya luar menginvasi kita, kita invasi balik. Enggak gitu. Kita hanya menawarkan alternatif, biar orang inget dan enggak malu jadi orang Indonesia yang punya banyak etnik," jelasnya.

Berkaca dari beberapa negara maju, yang mana turis asinglah yang harus menyesuaikan diri dengan kondisi negara tersebut, Abong menilai sudah seharusnya Indonesia bisa meniru langkah negara-negara tersebut dalam memperlakukan budayanya. Coba saja, kalau kita pergi ke Jepang, kita setidaknya harus paham Bahasa Jepang terlebih dulu, kan? Bandingkan dengan turis asing yang datang ke sini. Nyatanya, malah kita yang menyesuaikan diri dengan bahasa mereka.

Dan untuk mencapai nilai penghargaan tinggi terhadap budaya, Abong merasa produk kebudayaan lokal ini mesti dibumikan dan dikemas dengan baik sehingga bisa diamalkan, khususnya oleh generasi-generasi muda. Oleh karena itu, produk digital dipilih Suarahgaloka sebagai gerbang pembuka untuk berkenalan dengan pendengarnya.

Selama dua bulan berjalan, wadah kreatif ini sudah membuat tiga episode sesi bincang-bincang yang dikemas dalam bentuk podcast. Serial podcast ini bisa kamu saksikan di kanal YouTube Suarahgaloka. Pembahasan dalam podcast-nya kendati terdengar ngalor-ngidul, namun tetap ada benang merah yang bisa kita cerna, utamanya dalam kaitan industri kreatif dan seni budaya.

Podcast ini juga menghadirkan beberapa pelaku budaya untuk menyiarkan edukasi tentang kebudayaan itu sendiri. Sebut saja penampilan Tarawangsa yang disajikan oleh Teguh Permana, seorang seniman tradisi Jawa Barat di episode ketiganya.

"Pelaku budaya di kita tuh kebanyakan hanya dijadikan jargon. Padahal, rasanya kita perlu memperlakukan budaya itu seperti mengalir aja gitu. Budaya adalah keseharian kita. Dan saya rasa, pelaku budaya yang sebatas jadi jargon ini juga perlu diapresiasi dan perlu hidup layak," ujar Abong.

Produk digital dengan sajian seni pertunjukan yang saat ini jadi andalan Suarahgaloka diharapkan dapat menjadi gerbang masuk banyaknya produk-produk industri kreatif lokal untuk juga mendapat sorotan. Enggak sebatas itu, beberapa pelaku budaya yang hadir sebagai pemegang lakon dalam tiap episodenya diharapkan bisa mendapat banyak panggung setelah menampilkan kebolehannya.

Sebut saja penampilan Teguh Permana. Setelah nampil di Suarahgaloka, pemain tarawangsa ini diharapkan bisa dilirik oleh penyelenggara acara sehingga bisa punya panggung yang lebih banyak. Seperti diketahui bersama, banyak pelaku budaya yang hidup dari panggung ke panggung seperti Teguh.

Lebih jauh lagi, mereka punya misi mengumpulkan banyak pelaku seni budaya dari wilayah manapun yang ada di Indonesia untuk nampil di markasnya. Produk tampilannya selain seni pertunjukan, juga sesi bincang-bincang di dalamnya. Sesi bincang-bincang ini disebut oleh Abong sebagai upaya agar unsur tradisi yang dikemas modern ini enggak terkesan memaksakan atau hanya sekadar menempelkan unsur tradisinya saja.

"Kita kupas sampai ke dalam-dalamnya di podcast. Singkatnya sih, kita berupaya mengenalkan produk kebudayaan dengan cara yang sangat sederhana, biar orang enggak asing sama produk kebudayaan kita," ujarnya.

Hal yang jadi perhatian adalah kemampuan Suarahgaloka dalam menggapai orang-orang berpengaruh dalam perjalanan sejarah seni budaya di Indonesia. Sebut saja pada episode keempat yang baru saja direkamnya, mereka mengundang putri tunggal dari maestro Ismail Marzuki, yakni Rachmi Aziah.

Dalam kesempatan yang sama, Abong menyebut ini merupakan upaya memperkenalkan perjalanan seorang tokoh besar dalam lanskap seni budaya dalam berkarya.

"Suatu kebanggan buat kita bisa ketemu putri dari seniman besar dan pahlawan nasional. Kita bisa banyak belajar dari perjalanan beliau," ujarnya.

Dalam siaran podcast yang berlangsung sekitar satu jam tersebut, pasukan Suarahgaloka mengupas habis perjalanan seorang Ismail Marzuki dan seberapa besar karya beliau untuk kehidupan anak cucunya. Enggak sebatas cuap-cuap, bahkan mereka berencana membuat aktivasi lanjutan yang juga melibatkan Rachmi Aziah itu sendiri kendati secara tak langsung.

"Kita pengen banget bikin merchandise yang terinspirasi dari karya Pak Ismail Marzuki. Desainnya kita kolaborasikan dengan seniman-seniman atau pelaku seni visual, tentu dengan sentuhan lokalnya. Dan hasil penjualannya tersebut kita bagikan untuk Ibu Rachmi, misalnya," ujar Kang Abong.

Ia berkaca pada keadaan pelaku seni budaya di masa lampau, yang kerap kurang mendapat perhatian. Padahal, karya dari seniman tersebut cukup besar dan berpengaruh hingga saat ini.

Aktivasi-aktivasi semacam ini akan banyak diluncurkan oleh Suarahgaloka ke depannya. Mereka berharap, dengan hadirnya wadah kreatif yang juga melek akan transformasi digital serta punya strategi untuk menjual produknya, pelaku seni budaya selain punya panggung, juga bisa mendapatkan hasil yang setimpal dari karya yang telah dibuatnya. Ada banyak konsep dan beragam produk (output) yang disiapkan oleh mereka, yang tentunya tinggal kita tunggu saja. Oh ya, kamu bisa memantau terus pergerakan wadah seni budaya ini melalui akun Instagramnya, @suarahgaloka.

Sebagai pamungkas, Abong berharap akan ada banyak pelaku seni budaya yang bisa dijangkaunya untuk berkolaborasi. Selama punya keresahan dan tujuan yang sama, yakni mempersatukan bangsa lewat media seni budaya, ia menyebut dari manapun asal seniman tersebut, enggak perlu ragu untuk datang dan berkolaborasi bersama Suarahgaloka.

"Jangan ragu. Datang ke sini, semangat kita semangat kebudayaan nasional. Enggak sebatas semangat kesukuan saja. Jadi, enggak perlu ragu. Yuk kita ajakin banyak orang untuk enggak malu menampilkan sisi Indonesia dari diri kita," pungkasnya.

Wah, keren sekali ya. Tetap semangat, Suarahgaloka! Semoga ke depannya makin banyak menampilkan produk kebudayaan asli Indonesia, ya.

Foto: dok. Suarahgaloka

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler